Seperti Menikahi Bocah

Seperti Menikahi Bocah
SMB 09


__ADS_3

Seharian ini Agnes merasa sangat lesu. Seperti tidak memiliki semangat sama sekali. Ketika disuruh melakukan apa pun, Agnes hanya mengiyakan saja. Tidak mendebat apalagi menolak.


"Mas, ada yang aneh sama Mbak Agnes hari ini," keluh Tiara. Dia yang sudah terbiasa menghadapi sikap Agnes yang ceria meskipun kadang membuat kesal, sekarang merasa ada yang kurang ketika Agnes hanya diam saja.


"Aneh bagaimana?" tanya Gatra. Pasalnya sejak tadi dia sibuk berkutat dengan ponsel dan tidak melihat CCTV sama sekali.


"Dia dari pagi cemberut terus. Padahal biasanya cerewet. Terus, kalau diperintah apa pun juga tidak pernah menolak."


"Loh, bukannya bagus, Mbak. Itu artinya dia mulai bisa konsentrasi sama pekerjaannya," timpal Gatra.


"Iya, sih. Tapi ya sudahlah. Kalau begitu saya pamit kerja lagi." Tiara sedikit membungkuk hormat lalu ke luar dari ruangan itu.


Selepas kepergian Tiara, Gatra segera menatap komputer untuk melihat apa yang sedang dilakukan Agnes saat ini. Gadis itu terlihat sedang duduk di ruangan belakang. Dia memangku wajahnya yang tampak murung. Tatapan Gatra begitu lekat dan tidak tega. Namun, dia harus bersabar. Jangan sampai apa yang sudah direncanakan justru gagal hanya karena rasa tidak tega.


Kekhawatiran Gatra makin menjadi saat melihat Agnes sedang mengusap air mata. Gadis itu menangis. Gatra pun bergegas keluar dari ruangan untuk melihat keadaannya secara langsung. Jujur, Gatra takut terjadi apa-apa dengan Agnes karena dia merasa memiliki tanggung jawab penuh atas gadis itu.

__ADS_1


"Ehem!" Gatra berdeham. Sengaja memberi kode agar Agnes tidak terlalu terkejut dengan kehadirannya. Ketika melihat Agnes hendak menoleh, Gatra segera berpaling dan berpura-pura tidak melihat Agnes yang sedang menghapus air mata.


"Ish! Kamu membuatku terkejut." Agnes berdecak. Menatap sengit ke arah atasannya.


"Makanya kalau bekerja jangan dibiasakan melamun." Gatra duduk di depan Agnes dan memajukan wajahnya. Agnes pun segera memalingkan wajah karena grogi. Berjarak sedekat itu dengan Gatra membuatnya merasakan jantungnya berdebar sangat kencang. "Kamu menangis?"


"Ti-tidak."


"Jangan berbohong. Kalau kamu berbohong nanti kamu berteman sama setan," kata Gatra.


"Ahh." Gatra mengerang saat Agnes sudah menginjak kakinya sangat kencang. "Sakit. Astaga." Dia mengangkat kaki yang terasa begitu nyeri. Sungguh, dalam hati lelaki itu terus saja mengumpati Agnes.


"Rasain!" ujar Agnes tanpa rasa bersalah sedikit pun. Dia justru berjalan menghentak meninggalkan Gatra yang masih kesakitan.


"Hei, tunggu!" teriak Gatra. Namun, Agnes tidak peduli dan terus saja melanjutkan langkahnya. Dengan langkah terpincang-pincang Gatra segera menyusul Agnes.

__ADS_1


Akan tetapi, ketika baru saja keluar dari pintu, Gatra terkejut saat melihat Agnes yang sedang terduduk di lantai. Kaki yang terasa nyeri pun kini seolah sirna. Dia berlari mendekati Agnes dan langsung membantu gadis itu untuk berdiri.


"Bagaimana kamu bisa jatuh seperti ini?" tanya Gatra khawatir. Tatapannya memindai seluruh tubuh Agnes, khawatir ada bagian tubuh gadis itu yang terluka.


"Ish, aku terpeleset. Apa kamu tidak lihat." Agnes menyingkirkan tangan Gatra dari bahu kanannya. Lalu menatap ke sekitar. Kepala Agnes seketika tertunduk di saat menyadari hampir semua pasang mata tertuju padanya saat ini.


Agnes sama sekali tidak berani mengangkat kepala. Bahkan jemarinya saling merem*s. Gatra pun dibuat terheran saat melihatnya apalagi ketika samar-samar mendengar isakan gadis itu.


"Hei, kenapa kamu menangis?" tanya Gatra khawatir. Dia berusaha mengangkat wajah Agnes, tetapi gadis itu menahannya.


"Tidak papa." Suara Agnes terdengar serak khas orang menangis.


"Apa tubuhmu ada yang terluka?" tanya Gatra lagi. Kali ini Agnes menggeleng cepat. "Lalu kenapa? Katakan padaku mana yang sakit."


"Huaaa waktu aku jatuh tadi, sakitnya tidak seberapa, tapi malunya luar biasa. Lihatlah, bahkan mereka ada yang menertawakanku." Agnes meraung membuat Gatra terperanjat kaget. Lelaki itu langsung membungkam mulut Agnes dan mengajaknya pergi saat menyadari makin menjadi pusat perhatian.

__ADS_1


__ADS_2