
"Kenapa kamu diam saja, Etha? Kalau memang kamu melakukan itu karena kasihan padaku maka lebih baik tidak usah. Aku ingin belajar dewasa dan tidak ingin dikasihani orang lain," kata Agnes.
Margaretha tersadar dari lamunan lalu menggenggam tangan Agnes cukup erat. Tatapannya begitu lekat memindai wajah Agnes yang masih terlihat pucat.
"Aku melakukan ini bukan karena kasihan padamu, Nes." Margaretha mulai membuka suara meskipun rasanya masih cukup berat.
"Lalu kenapa?" Agnes tidak sabar sendiri.
"Aku memang sudah memaafkan papamu sejak lama. Setelah aku pikir gini, Tuhan itu Maha Pemaaf, sebesar apa pun kesalahan yang dilakukan Hamba-Nya, jika dimintai maaf, maka Ia akan memberi maaf. Masa iya aku yang manusia biasa tidak bisa memaafkan." Margaretha menjeda ucapannya. Ikhlas tidak ikhlas, dia berusaha agar bisa ikhlas.
"Etha—"
__ADS_1
"Kepergian papa dan mamaku itu sudah menjadi takdir. Seperti apa pun aku menangisi, mereka tidak akan kembali. Saat ini aku hanya ingin berusaha menjadi manusia yang baik. Aku tidak ingin ada dendam lagi. Kamu tahu, Nes. Aku selalu menangis ketika melihatmu menangis secara diam-diam."
"Ka-kamu tahu?" Wajah Agnes terlihat sangat gugup.
"Tentu saja. Aku juga pernah merasakan betapa sakitnya tinggal jauh dari orang tua. Harus bisa berdiri di atas kaki sendiri. Kita sama, Nes. Hanya saja aku lebih beruntung karena diberi tubuh yang sehat." Margaretha membantu mengusap air mata Agnes yang mulai mengalir.
"Etha ... seandainya aku dulu tidak dilahirkan, mungkin aku tidak akan pernah membuat repot semua orang. Aku tidak membuat orang-orang menjadi kasihan padaku."
"Etha, maafkan papaku. Pernah membuat hidupmu hancur. Kalau menginginkan papaku merasakan apa yang kamu rasakan maka kamu bisa membunuhku saja." Agnes mulai berbicara ngawur. Perasaannya benar-benar tidak enak sendiri.
"Aku tidak akan pernah melakukan itu. Kejahatan tidak harus dibalas dengan kejahatan. Sudah cukup pembicaraan ini. Lebih baik sekarang kamu istirahat dan nanti kita akan pulang ke rumah bersama-sama," perintah Margaretha.
__ADS_1
Agnes hendak menolak, tetapi melihat sorot mata Margaretha yang menajam, dengan terpaksa Agnes hanya bisa mengiyakan saja. Dengan setia, Margaretha duduk di samping brankar dan menatap Agnes yang sedang memejamkan mata.
Semoga setelah ini kamu bisa hidup bahagia, Nes. Aku akan perlahan menghapus rasa sakit kepada papamu dan benar-benar memaafkan semuanya hingga tidak ada rasa sakit hati yang kurasakan.
***
Dua orang lelaki duduk di kantin rumah sakit sembari menikmati dua cangkir kopi yang tersaji di depan mereka. Janu dan Gatra.
Sejak tadi, Janu terus saja menatap Gatra sangat lekat hingga membuat Gatra menjadi bingung dan takut ada yang salah dengan dirinya. Dia tidak bisa menafsirkan tatapan Janu yang cukup menyeramkan untuknya. Bahkan, saking gugupnya Gatra sampai merasa dirinya seperti sedang berada di persidangan saat ini.
"Ehem!"
__ADS_1
Janu berdeham keras. Mengurungkan gerakan tangan Gatra yang hendak mengangkat cangkir. Alih-alih kembali mengambil cangkir, Gatra justru hanya diam terpaku dan membalas tatapan Janu.