Seperti Menikahi Bocah

Seperti Menikahi Bocah
SMB 24


__ADS_3

"Papa! Agnes datang! Putri Papa yang cantik ini sudah tiba!" teriak Agnes ketika baru saja masuk ke rumah sang papa. Gatra pun yang berjalan di belakang Agnes hanya bisa menggeleng berkali-kali. 


Melihat kedatangan putrinya, Janu yang saat itu sedang sibuk dengan ponsel pun langsung meletakkan benda pipih tersebut dan memeluk putrinya dengan erat. Bahkan, Janu beberapa kali memberi ciuman kepada sang putri untuk meluapkan rasa rindu yang terasa menggebu. Padahal mereka belum ada seminggu berpisah. 


"Papa kangen sekali sama kamu, Sayang." Janu kembali mengecup pipi Agnes. 


"Agnes juga kangen banget sama Papa." Tangan Agnes melingkar erat di perut Janu bahkan wanita itu sudah menyandarkan kepala di dada bidang sang papa. Ia sampai melupakan suaminya yang sejak tadi berdiri di belakang mereka. 


"Kamu sudah makan, Sayang?" tanya Janu lembut. Menatap putrinya yang kian hari, terlihat makin cantik. Wajahnya terlihat berbinar setelah menikah. 


"Sudah tadi sama Mas Gatra," jawab Agnes. "Ya Tuhan, aku sampai melupakan Mas Gatra." Agnes menepuk kening lalu melepaskan pelukan tersebut. Ia pun berbalik dan melihat Gatra yang sedang memaksa senyumnya. 

__ADS_1


Agnes berjalan mendekati Gatra lalu menarik tangan lelaki itu dan menyuruhnya untuk duduk di sofa. Janu pun hanya terkekeh melihat gerak-gerik putrinya itu. 


"Bagaimana kabarmu, Ta?" tanya Janu kepada anak menantunya. 


"Baik, Pa. Kalau Papa sendiri bagaimana?" tanya Gatra baik. 


"Ya seperti yang kamu lihat. Baik juga." Janu kembali terkekeh. 


Di sela obrolan itu, Gatra pun mengambil kesempatan. Mengadu kepada Janu bahwa Agnes tetap bersikukuh untuk bekerja. Padahal ia sudah melarang. Setelahnya, bibir Agnes mengerucut kesal ketika Janu  mengomel dan memberi banyak sekali nasehat kepadanya. Tidak ada yang dilakukan Agnes selain mengiyakan ucapan sang papa. Sampai sekitar dua jam berlalu, mereka pun berpamitan pulang. 


"Kalian tidak mau menginap di sini?" tanya Janu penuh harap. Ia masih sangat merindukan putrinya itu. Semenjak Gatra dan Agnes memutuskan untuk membeli rumah sendiri, Janu seringkali merasa rindu dengan putrinya karena sekarang mereka jarang bertemu. 

__ADS_1


"Besok saja akhir pekan, Pa. Rumah Papa jauh dari restoran. Kasihan Mas Gatra. Aku janji akhir pekan akan menginap di sini." Agnes mencium pipi sang papa sambil tersenyum simpul. 


"Baiklah. Papa tunggu. Hati-hati di jalan." Janu mencium kening putrinya lalu mengantar mereka sampai ke depan pintu utama. 


"Hah! Sekarang aku sadar, seberapa sayang pun orang tua kepada seorang anak. Aku tetap harus merelakannya ketika telah dewasa nanti. Membiarkan ia bersama kehidupan barunya dan tugasku hanyalah mendoakan. Jika seperti ini, aku ingin sekali Agnes tetap menjadi putri kecilku saja. Tapi, aku harus sadar kalau waktu itu terus berjalan," gumam lelaki paruh baya itu. 


Janu mengusap setitik air mata ketika melihat mobil Gatra sudah lenyap dari pandangan mata. 


Sejujurnya, dalam hati kecilnya masih merasa berat. Namun, tidak ada yang bisa dilakukan lagi selain ikut tersenyum bahagia melihat putrinya merengkuh kebahagiaan. 


Setelah cukup lama hanya terpaku di depan pintu, Janu pun memilih masuk dan bergegas ke kamar. Hanya sepi yang kini menjadi temannya setiap hari.

__ADS_1


__ADS_2