Seperti Menikahi Bocah

Seperti Menikahi Bocah
SMB 31


__ADS_3

"Kenapa mendadak sekali? Kamu sungguh sangat menyebalkan!" Agnes bersedekap kesal. Ia merajuk saat Gatra tiba-tiba berkata akan ke luar kota saat itu juga tanpa memberitahu dirinya sebelumnya. Bahkan, kapan Gatra menata baju ke dalam koper saja, Agnes tidak mengetahuinya. 


"Kalau aku bilang dari kemarin, aku khawatir kamu pasti tidak memberi izin." Gatra tersenyum. Rasanya ia sudah lama sekali tidak melihat Agnes bersikap manja seperti itu kepadanya. 


"Sekarang aku pun tidak akan memberi izin! Aku bahkan kesal karena kamu sudah berbohong padaku," omel Agnes. 


Gatra merangkul pundak Agnes dan mencium pipi wanita itu dengan sangat lembut. "Nes, aku mohon. Biarkan aku pergi. Aku janji akan menyelesaikan pekerjaanku dengan sesegera mungkin dan aku akan langsung pulang jika semua sudah selesai." 


Agnes mendengkus kasar tanpa berbicara apa-apa ketika mendengar rayuan Gatra. Ia bahkan langsung memalingkan wajah ketika Gatra hendak menciumnya. 


"Kamu marah padaku?" tanya Gatra menggoda. 


"Sudah pasti. Kenapa kamu masih saja bertanya hal itu? Kamu sangat tidak peka!" Agnes masih berbicara ketus. Hal itu justru mengundang tawa Gatra. 


"Kalau aku tidak bertanya, mana mungkin aku tahu kamu marah. Karena kamu marah atau tidak, bibirmu tetap saja seperti bebek," ledek Gatra. Tertawa keras. 


"Gatra Mahardika! Kamu suamiku yang sangat menyebalkan!" cebik Agnes. Gatra pun langsung mendaratkan banyak ciuman di pipi istrinya. 

__ADS_1


"Tidak apa sekarang aku menyebalkan, tapi percayalah kalau sebentar lagi aku akan menjadi seseorang yang kamu rindukan," ujar Gatra. Agnes terpaku sesaat, tetapi ia mencebik lagi ketika Gatra justru memberi banyak ciuman untuknya. 


Ah, entah mengapa rasanya sebentar lagi Agnes akan sangat merindukan lelaki itu. 


Setelah melalui banyak perdebatan. Gatra pun akhirnya berangkat bersama Andra. Walaupun itu tidak mudah karena Agnes terus saja bergelayut manja seperti anak kecil yang tidak ingin ditinggal orang tuanya. Bahkan, Andra sampai terkekeh dan salut atas kesabaran Gatra. 


"Akhirnya." Gatra mengembuskan napas lega saat mobil yang dikemudikan Andra melaju meninggalkan rumah. 


"Ya ampun, kamu seperti memiliki anak kecil yang tidak mau ditinggal bekerja oleh ayahnya," ledek Andra. 


Andra pun tergelak lalu mereka mengobrol sambil menikmati perjalanan yang membutuhkan waktu lebih dari delapan jam. Beberapa kali Gatra menatap ke luar jendela saat bayangan Agnes melintas. 


Ya Tuhan, baru beberapa jam berpisah, tetapi aku sudah sangat merindukan wanita manja itu.  


***


Agnes sejak tadi duduk di ruang tamu dan terus menatap ponselnya cemas. Sudah lima jam lebih Gatra pergi dari rumah, tetapi lelaki itu belum juga memberi kabar hingga membuat Agnes merasa gelisah. 

__ADS_1


Janu yang baru keluar kamar pun menatap putrinya heran. Dengan langkah lebar, ia mendekati putrinya. 


"Kamu kenapa, Nes?" tanya Janu. 


Melihat kedatangan sang papa, Agnes langsung memeluk lelaki paruh baya tersebut sangat erat. "Kenapa Gatra sampai sekarang belum menghubungiku juga, Pa," rengeknya manja. 


"Agnes ... Agnes ... baru juga ditinggal sebentar kamu sudah uring-uringan. Ini baru lima jam dari Gatra berangkat dan sudah bisa dipastikan dia belum sampai. Jadi, kamu harus bersabar, Sayang." Janu mencium puncak kepala istrinya penuh sayang. 


"Tapi, Pa ...." 


"Sudah, sekarang kamu tidur. Nanti bangun tidur baru kamu hubungi Gatra lagi," suruh Janu. Menarik perlahan tangan putrinya dan mengajaknya masuk ke kamar. Setelah Agnes merebahkan diri, Janu pun langsung menyelimuti putrinya. 


"Tidurlah, Sayang." Janu mengecup puncak kepala Agnes sebelum akhirnya pergi dari kamar itu dan membiarkan putrinya beristirahat. 


Namun, Agnes tidak bisa tidur dengan nyenyak dan ia justru terus-terusan gelisah. Ia kepikiran suaminya terus dan tiap satu menit selalu menatap layar ponsel menunggu kabar. 


"Ah, ini menyebalkan! Biasanya aku ditinggal kerja sampai berhari-hari tidak apa-apa, tetapi kenapa sekarang aku sangat merindukannya. Ya Tuhan, Gatra Mahardika, aku mohon, cepatlah beri aku kabar," gumam Agnes. Memejamkan mata dan memanjatkan doa untuk keselamatan suaminya. 

__ADS_1


__ADS_2