Seperti Menikahi Bocah

Seperti Menikahi Bocah
SMB 22


__ADS_3

Tubuh Agnes mendadak menegang saat Gatra sudah mendorong perlahan hingga mereka berdua saling bertindihan. Agnes mengutuki dirinya sendiri yang tidak bisa menolak dan justru terhanyut oleh tatapan Gatra. 


Ia benar-benar terbuai. 


"Aku ingin sekali melewati malam pertama tanpa drama," ucap Gatra. Disertai senyuman manis. 


Ah, Agnes benar-benar tergoda oleh kemanisan lelaki itu. 


"A-aku belum siap." Agnes tampak gugup. Apalagi saat Gatra sudah mengusap wajahnya dan mencium keningnya cukup lama. 


"Tenang saja. Aku tidak akan melakukan dengan tenaga dalam, tapi penuh cinta."


Gatra mencium lembut bibir Agnes. Mengakses rongga mulut gadis itu. Ingin sekali Agnes menolak, tetapi tubuhnya justru terasa berkhianat. Menerima setiap sentuhan lelaki yang baru saja sah menjadi suaminya.


Gerakan mereka masih sama-sama kaku, tetapi Agnes maupun Gatra berusaha untuk menikmati. Harap maklum karena itu adalah pengalaman pertama mereka. 


"Kamu mau masukkan ke mana?" tanya Agnes bingung ketika melihat Gatra hendak memasukkan adik kecilnya. 


"Tentu saja memasukkan burung ini ke dalam sangkar," balas Gatra. 

__ADS_1


"Hei, di mana ada burung dan di mana juga sangkarnya?" Agnes justru kebingungan sendiri. 


Gatra berdecak kesal. Merasa tidak percaya kalau Agnes akan sepolos itu. Bukan hanya tubuh gadis itu saja yang polos saat ini, tetapi pikirannya juga. 


"Hei! Kenapa kamu diam saja. Di mana burungnya?" tanya Agnes penasaran. Memukul lengan Gatra dengan kekuatan sedang untuk menyadarkan lelaki itu dari kekesalan. 


"Burungnya sudah terbang." Gatra menjawab ketus. "Bersiaplah karena kita akan bertempur sekarang." 


Agnes hendak berbicara, tetapi Gatra justru membungkam mulut gadis itu dengan cepat menggunakan mulutnya. Agnes pun tak kuasa menolak. Ketika merasa Agnes sudah mulai bisa menerima, dengan perlahan Gatra memasukkan adik kecilnya. 


Sangat sempit dan susah, sedangkan Agnes sudah mengerang kesakitan. 


"Tenanglah sebentar lagi rasa sakit ini akan berubah menjadi rasa nikmat. Aku yakin kamu akan ketagihan." Gatra berusaha menenangkan Agnes, tetapi gadis itu justru menggeleng cepat. 


"Aku tidak mau, ini benar-benar menyakitkan. Aku akan bilang papa kalau kamu menyakitiku," ancam Agnes, tetapi Gatra justru tergelak keras. 


Gadis ini eh dia bukan gadis lagi. 


Agnes sungguh sangat menggemaskan. 

__ADS_1


"Kalau kamu lapor papa, yang ada kamu diketawakan dan papamu justru senang kita seperti ini. Itu artinya sebentar lagi papa akan menimang cucu." 


Sambil berbicara, Gatra mendorong perlahan adik kecilnya agar makin masuk. Walaupun mengernyit, tetapi Agnes tidak protes lagi seperti tadi.


Pada akhirnya, dua orang itu pun saling beradu des*han dan erang*n. Cinta mereka pun bersatu dalam sebuah percintaan panas. 


***


Gatra terbangun ketika jam sudah menunjuk angka lima. Bibirnya tersenyum simpul ketika melihat Agnes yang masih terlelap. Wajah gadis itu terlihat sangat meneduhkan hingga tanpa sadar, Gatra mendaratkan banyak ciuman di wajah istrinya. 


"Ahh, jangan ganggu!" Agnes mengomel sambil menyingkirkan tangan Gatra dari pipinya. Lalu kembali memeluk guling sangat erat dan berusaha untuk kembali terlelap. 


"Kamu belum ingin bangun?" tanya Gatra lembut. 


"Tid—" Agnes membuka mata dan langsung bertatapan dengan  Gatra yang sedang tersenyum simpul ke arahnya. "Kenapa kamu di sini?" tanyanya bingung. 


"Tidurlah. Memang apalagi?" Gatra tersenyum meledek, sedangkan Agnes berusaha mengingat-ingat. 


"Jadi, kita semalam." 

__ADS_1


"Jangan bilang kamu melupakan percintaan panas kita. Dasar menyebalkan." Gatra pun mencium pipi Agnes saking gemasnya.


__ADS_2