Seperti Menikahi Bocah

Seperti Menikahi Bocah
SMB 14


__ADS_3

"Aku tahu papa tidak ada di sini, tapi semoga dia tahu kalau aku sangat merindukannya. Aku ingin sekali memeluknya sekali saja meskipun hanya sebentar. Entahlah kapan itu akan terwujud." Agnes terdiam lagi menahan dada yang mulai terasa sesak.


"Kalau kamu mau aku akan mengantarmu bertemu Tuan Janu sekarang juga," tawar Margaretha. Agnes menggeleng cepat.


"Tidak perlu, Etha. Aku cuma mau bilang ke papa. Maafkan aku, Pa. Aku tidak menjenguk papa bukan karena aku tidak sayang, tapi aku hanya takut tidak mampu menahan segalanya. Aku takut akan menangis dan itu akan membuat papa kepikiran di sana."


Banyak yang menangis di sana mendengar ucapan Agnes. Termasuk Margaretha dan para sahabatnya yang saat ini sudah menggenggam tangan Agnes sangat erat. Mereka berusaha menguatkan Agnes. Ini memang sepele, tetapi sangat berat ketika dilalui.


"Kalau boleh jujur ... aku sangat merindukan papa. Jika diminta memilih pun, aku akan lebih memilih untuk mengadakan pesta kecil-kecilan meskipun itu hanya dengan papa. Hanya ada kita berdua di depan kue ulang tahun dan papa akan membantuku meniup lilin. Itu yang lebih membuatku bahagia." Ucapan Agnes mulai terputus karena menangis.


Gatra pun menatap gadis itu sangat lekat. Ingin sekali dia maju dan merengkuhnya. Lalu mendekap erat untuk menenangkan hati gadis itu. Namun, sekali lagi, Gatra tidak memiliki hak untuk melakukan itu. Lagi pula, ada somplak sekawan yang menemani dan dia tidak ingin mereka menjadi perhatian publik saat ini.


"Setelah dua puluh delapan tahun, baru kali ini aku merasa sangat kecewa yang teramat dalam. Jika biasanya papa akan memberi kejutan pada jam dua belas tepat. Entah apa pun kondisinya papa pasti akan datang, tapi tidak untuk sekarang. Aku harus terbiasa tanpa papa untuk waktu yang sangat lama. Pa, meskipun kita tidak pernah saling menyapa dan bertukar kabar, tapi aku harap papa selalu sehat di sana. Kita bisa saling melepas rindu lewat doa-doa."

__ADS_1


Agnes menghirup napas dalam untuk mengurangi rasa sesak yang mulai terasa di dada. Air mata gadis itu sudah membasahi seluruh wajahnya.


"Sudah jangan diterusin lagi. Aku yakin papamu akan sedih kalau kamu seperti ini. Kamu harus selalu jaga kondisi tubuhmu, Nes." Margaretha khawatir sendiri. Namun, Agnes justru tetap menunjukkan senyuman manis meskipun tatapan gadis itu tidak bisa membohongi semuanya. Sorot mata yang penuh dengan luka.


"Terima kasih, Etha. Kamu sudah berbaik hati memberikan kesempatan kedua untuk papaku. Kamu sudah memaafkannya. Aku sangat bersyukur karena bertemu dengan wanita sebaik kamu."


"Sama-sama, Nes."


Dua wanita itu pun saling berpelukan disusul ketiga sahabat Margaretha yang lain.


"Tentu. Meskipun berat. Lebih berat dari rindu Dilan untuk Milea." Agnes terkekeh meskipun masih ada sisa air mata di wajahnya.


"Kamu ini ada-ada saja." Margaretha kembali memeluk Agnes. "Apa masih ada yang ingin kamu bicarakan di sini?" tanyanya. Agnes menggeleng lemah.

__ADS_1


"Mar, langsung kasih kejutan selanjutnya aja. Daripada kelamaan." Rasya berbicara. Wanita berperut buncit itu pun ikut menghapus bekas air mata di wajahnya.


"Kejutan apa lagi? Apa kalian akan memberi kue yang sangat besar untukku?" tanya Agnes penasaran. Menatap keempat Somplak sekawan itu secara bergantian. Namun, mereka hanya tersenyum.


Agnes terdiam saat mendengar bunyi lagu ulang tahun menggema di sana. Dibarengi dengan tepuk tangan yang sangat meriah. Agnes yang barusan sedih pun kini kembali tersenyum saat melihat seseorang mendorong troli yang di atasnya ada kue ulang tahun yang sangat besar dan tinggi.


Bola mata Agnes sampai membulat penuh dan tidak menyangka akan mendapat kue sebesar itu.


"Etha, ini sangat besar. Aku tidak mampu untuk menghabiskan kue ini sendirian." Agnes menggeleng tidak percaya.


"Memangnya siapa yang menyuruhmu menghabiskannya sendirian," timpal Margaretha. Agnes hanya menunjukkan rentetan gigi putihnya lalu bertepuk tangan saat kue ulang tahun tersebut sudah berada di depannya. Tatapannya begitu antusias sampai dia tidak menyadari kalau lelaki pendorong troli tadi sudah menatapnya lekat.


Agnes menoleh, hendak meminta pisau kepada lelaki pendorong troli yang memakai masker. Namun, saat melihat sorot mata lelaki itu membuat Agnes terdiam saat itu juga. Dia merasa sangat tidak asing dengan tatapannya. Seperti tatapan seseorang yang selalu menatapnya penuh cinta. Ketika masih terdiam dengan pikirannya, Agnes terpaku ketika melihat lelaki itu membuka maskernya secara perlahan.

__ADS_1


"Pa-papa."


__ADS_2