
"Bagaimana hasilnya, Dok? Apa dia baik-baik saja? Apa ada luka serius yang dialami? Bagaimana juga dengan keadaan jantungnya?" tanya Janu cemas. Ia sangat tidak sabar dengan hasilnya.
"Papa, jangan cerewet. Kasihan dokter ini pasti pusing dengan pertanyaan Papa," protes Agnes. Mengundang senyum dokter dan Gatra yang mendengarnya.
"Papa hanya khawatir, Sayang." Janu mencium puncak kepala Agnes penuh kasih sayang.
"Tuan, Anda tidak perlu khawatir karena tidak ada yang serius. Ini justru menjadi kabar yang membahagiakan karena Nona Agnes sedang hamil, dan usia kehamilannya sudah sekitar enam minggu," sahut dokter itu hingga membuat mereka semua tersentak.
"Ha-hamil?" tanya Janu belum percaya.
"Iya, Tuan. Selamat sebentar lagi Anda akan menimang cucu."
"Ya Tuhan, terima kasih banyak." Janu mengucap banyak syukur. Mata Janu berkaca-kaca. Bahkan ia langsung memeluk putrinya sangat erat. Agnes pun membalas pelukan tersebut tak kalah erat.
Saking bahagianya, Agnes sampai melupakan Gatra yang masih berdiri di samping tempat tidur dan terus menatap ke arah mereka. Gatra pun mengusap wajah untuk menghalau air matanya agar tidak turun. Ya, ia pun merasa sangat bahagia karena istrinya bisa mengandung secepat ini.
Bahkan, Gatra ingin sekali memeluk Agnes, mencurahkan segala rasa bahagia yang sedang dirasakan. Namun, ia tidak ingin mengganggu Agnes dan Janu yang masih berpelukan erat. Gatra hanya bisa menghela napas panjangnya berkali-kali.
"Sayang, kamu harus menjaga kandunganmu dengan baik. Mulai sekarang papa akan selalu berada di dekatmu. Kamu akan tinggal bersama di rumah papa atau kita tinggal di sini?" tanya Janu tidak sabar.
__ADS_1
"Aku mau tinggal di sini saja, Pa." Agnes menjawab manja.
"Baiklah. Kalau begitu papa juga akan tinggal di sini. Tra, apa tidak apa-apa kalau papa tinggal di sini?" tanya Janu. Menoleh ke arah anak menantunya.
Gatra berusaha memaksakan senyumnya. "Tidak apa, Pa. Aku justru senang karena nanti ada yang menemani Agnes saat aku sedang bekerja," sahut Gatra. Ia mencoba untuk terlihat biasa saja meskipun dalam hati merasa sedikit tidak rela.
Bukan karena ia tidak ingin Agnes dekat dengan papanya. Namun, Gatra pun ingin memiliki waktu berdua dengan Agnes untuk mencurahkan kebahagiaan mereka. Namun, sepertinya Agnes justru nyaman dengan papanya. Terlihat jelas dari mereka yang sibuk mengobrol sejak tadi.
Tidak ingin ada banyak pikiran buruk yang menghantui, Gatra pun memilih untuk mengantar dokter pulang setelah dokter tersebut memberi banyak nasehat.
"Gatra, kamu ingat bukan, tadi dokter itu bilang bahwa kalian jangan bercinta dulu sampai trisemester pertama dilewati," kata Janu saat Gatra baru saja masuk kamar lagi.
"Baiklah. Kalau begitu kamu harus menjaga Agnes dengan baik selama aku pulang mengambil baju ganti. Aku juga akan memanggil koki khusus untuk membuatkan makanan yang sehat untuk Agnes," ujar Janu.
Gatra pun hanya mengiyakan dan menatap Janu yang sudah berjalan menjauh dari kamarnya. Setelah kepergian sang papa, Agnes pun menatap Gatra sangat lekat.
"Kamu tidak bahagia mendengar aku hamil?" tanya Agnes setengah kesal.
"Tentu saja aku bahagia. Aku justru sudah sangat menginginkan kehadirannya," sahut Gatra. Ia duduk di samping Agnes dan mengecup kening wanita itu dengan lembut.
__ADS_1
"Lalu kenapa kamu diam saja saat mendengar aku hamil. Kamu bahkan tidak memelukku sama—"
Agnes terdiam ketika Gatra sudah memeluknya erat. Bahkan, setelahnya Gatra mencium perut Agnes yang masih datar.
"Sehat selalu di perut mama, Sayang. Papa berjanji akan selalu menjaga kamu dan mama dengan baik." Gatra mencium perut itu lagi. Mata Agnes pun terlihat berkaca-kaca karena terharu atas apa yang dilakukan oleh Gatra.
"Aku tidak sabar ingin segera punya anak. Pasti sangat menyenangkan bermain dengan anak kecil," kata Agnes tidak sabar.
"Kamu harus bersabar karena masih ada banyak waktu yang harus kita lalui. Aku pun tidak sabar ingin bermain dengan anak kita. Aku yakin kalau sedang bersama, aku seperti mempunyai dua anak," kata Gatra berseloroh.
Agnes menatap Gatra tajam. "Apa maksudmu?"
"Tidak ada." Gatra mencium pipi Agnes untuk meredam kekesalan wanita itu.
"Aku tidak percaya. Katakan apa maksudmu?" Agnes tetap saja ngeyel.
"Aku hanya belum percaya saja, anak kecil sepertimu sebentar lagi akan memiliki anak kecil. Pasti itu sangat seru," ujar Gatra.
"Aku bukan anak kecil! Ingat, dadaku sudah besar sekarang." Agnes membusungkan dada hingga membuat Gatra gemas dan sedikit merem*snya. "Gatra Mahardika!"
__ADS_1
"Apa, Agnes Sayang. Aku hanya bercanda tadi." Dengan segera Gatra mencium pipi Agnes sebelum wanita itu benar-benar merajuk atau ia akan kewalahan menghadapinya.