
"Saya terima nikah dan kawinnya, Agnesia Rebecca Januar binti Mahesa Januarta dengan maskawin tersebut dibayar tunai!" ucap Gatra dalam satu tarikan napas. Disusul oleh teriakan sah yang menggema di sana.
Mereka pun tak lupa mengucap kata syukur dan memanjatkan doa agar semua berjalan sesuai dengan keinginan dan pernikahan Agnes-Gatra selalu dilimpahi kebahagiaan. Agnes merasa sangat gugup ketika harus mencium punggung tangan Gatra. Lelaki yang saat ini sudah resmi menjadi suaminya.
Kegugupan gadis itu pun makin bertambah ketika Gatra sudah menyentuh tengkuknya sangat lembut. Menciptakan gelayar aneh yang baru pertama kali dirasakan oleh Agnes. Apalagi saat Gatra mencium kening sangat lama. Secara refleks, Agnes memejamkan mata.
Acara pun dilanjut dengan makan-makan dan sesi foto. Janu sengaja tidak mengadakan pesta yang sangat meriah karena dia tidak ingin membuat putrinya kelelahan. Acara itu pun berakhir sampai malam hari.
"Kamu mau mandi tidak?" tanya Gatra saat dirinya dan Agnes sudah berada di kamar.
Sebuah kamar yang telah didekorasi sangat indah. Dengan nuansa pink yang terlihat begitu feminim dan Agnes sangat menyukai itu. Namun, suasana di sana terasa canggung ketika Agnes menyadari hanya ada dirinya dan Gatra yang berada di kamar tersebut.
"Kenapa kamu diam saja? Apa kamu tidak mau mandi?" tanya Gatra sekali lagi.
"Aku mau mandi, tapi kamu pergilah dari sini. Aku malu," usir Agnes.
__ADS_1
"Kenapa mesti malu? Kita ini sekarang sudah sah menjadi suami-istri," ucap Gatra. Dia justru duduk santai di samping Agnes.
"Kenapa-kenapa. Ish! Kenapa kamu sangat cerewet dan terlalu banyak bertanya. Tentu saja karena aku belum terbiasa." Agnes melirik sinis ke arah Gatra.
Sedang tidak ingin berdebat apalagi sampai malam pertamanya gagal, Gatra pun memilih untuk beranjak menjauh dari kasur. Dia duduk di sofa tunggal dan sibuk bermain ponsel.
Padahal Gatra tidak benar-benar sibuk dengan ponsel. Dia hanya berpura-pura. Ekor matanya sesekali melirik Agnes yang terlihat seperti orang kebingungan. Untuk beberapa saat, Gatra memilih untuk diam dan menunggu Agnes membuka suara.
"Ish! Bagaimana ini. Sepertinya aku harus menghubungi papa." Agnes hendak mengambil ponsel miliknya, tetapi langsung dihentikan oleh Gatra.
"Kenapa? Apa kamu ada masalah?" tanya Gatra. Berusaha membuat Agnes tidak keluar dari kamar itu.
Gatra mendes*hkan napas kasar lalu berjalan ke belakang Agnes. Ekor mata Agnes pun mengikuti gerakan tubuh Gatra dan hendak menolak ketika Gatra sudah menyentuh tengkuknya. Selain merasa canggung, Agnes juga merasakan sebuah getaran aneh ketika kulit mereka saling bersentuhan.
"Apa yang akan kamu lakukan?" Agnes berusaha berbalik, tetapi Gatra kembali menahan. Gatra tidak menjawab, dia terlihat membantu Agnes membuka gaun tersebut.
__ADS_1
"Sudah. Apa kamu masih susah saat membukanya?" tanya Gatra.
"Masih sedikit," sahut Agnes. "Eh, tunggu dulu. Kenapa kamu di si—"
"Diamlah dan jangan protes. Aku hanya membantumu." Gatra mengecup bibir Agnes secara lembut. Namun, sepersekian detik selanjutnya Gatra mengaduh saat Agnes terus memberi pukulan kepadanya.
"Dasar mesum! Lelaki mesum!" teriak Agnes masih terus memukul Gatra meskipun semua pukulan tersebut melenceng.
Ketika mendapat kesempatan, Gatra pun langsung mencekal kedua tangan Agnes dan merapatkan tubuh mereka. Awalnya Agnes hendak protes dan meronta. Namun, ketika tatapannya bertemu dengan Gatra, dia justru mematung.
Berbeda dengan Gatra yang perhatiannya langsung teralihkan ke arah dua bukit kembar yang terlihat sebagian. Ada sebuah perasaan panas dingin yang Gatra rasakan apalagi ketika dia sedikit menekan tubuhnya. Menyadari pandangan Gatra yang begitu lekat ke arah buah kembar miliknya. Agnes pun langsung menggigit lengan Gatra sangat kuat.
"Astaga! Sakit!" Gatra meniup bekas gigitan itu.
"Dasar mesum! Aku tahu kamu melihat apa." Agnes mengomel sembari membenarkan gaun hingga naik sebatas leher.
__ADS_1
"Ish! Kelihatan masih kecil juga," gumam Gatra lirih.
"Apa kamu bilang!" Agnes berkacak pinggang. Namun, gaunnya kembali melorot dan Gatra bisa melihatnya lagi. Agnes pun segera membenarkan kembali seraya melotot ke arah Gatra yang sedang cengengesan.