
"Gatra Mahardika. Kamu pemilik restoran tempat putriku bekerja?" Suara Janu yang tegas membuat jantung Gatra berdebar sangat kencang.
"I-iya, Tuan.
"Kalau begitu ada yang ingin aku bicarakan sama kamu." Janu menyesap kopi miliknya terlebih dahulu. Tak lupa dia juga menyuruh Gatra meminum kopinya sebelum dingin.
Setelahnya, Janu pun mulai membicarakan hal serius. Bahkan, hal yang tidak terduga sama sekali. Bagaimana tidak, Janu meminta Gatra untuk menikahi Agnes. Bukan tanpa alasan, Janu hanya tidak ingin jika nanti Agnes akan jatuh kepada lelaki yang salah.
Selama ini, Janu tidak membiarkan Agnes dengan lelaki mana pun. Kalaupun ada yang berusaha dekat, pasti mereka akan mundur setelah mengenal beberapa hari. Kebanyakan mereka tidak suka pada sifat Agnes yang kekanakan.
Namun, Janu mulai yakin kalau Gatra bisa menjadi pendamping hidup untuk Agnes. Karena lelaki itu bisa bertahan di samping Agnes. Awalnya, Janu akan menjodohkan Agnes dengan Wibisono, tetapi sekarang dia tidak tahu keberadaan lelaki itu ada di mana. Wibisono pun sudah sangat dia percaya jika menjadi pendamping Agnes kelak.
__ADS_1
"Saya akan memikirkannya, Tuan." Gatra masih merasa ragu dan belum bisa sepenuhnya yakin.
"Baiklah. Aku tunggu keputusanmu. Aku juga akan membicarakan ini dengan putriku." Janu pun menyudahi pembicaraan itu dan memilih mengobrol hal lain. Janu tidak ingin Gatra makin merasa tidak nyaman jika mereka terus membahas hal tersebut.
***
Hari ini Agnes sudah diperbolehkan untuk pulang. Rasanya sudah tidak sabar ingin segera tidur di kamarnya sendiri. Janu awalnya hendak tinggal di rumah kos atau kontrakan, tetapi Margaretha melarang. Dia memaksa lelaki itu agar tinggal bersama. Tentu saja hal itu sudah Margaretha bicarakan matang-matang kepada suami dan ayah mertuanya.
"Papa, aku tidak menyangka kalau kita akan hidup bersama lagi." Agnes memeluk sang papa. Saat ini mereka sedang berada di balkon kamar.
"Apakah papa berjanji setelah ini akan hidup baik dan tidak akan menyakiti siapa pun lagi?" Agnes menunjukkan jari kelingking dan sedikit mendongak untuk melihat sang papa.
__ADS_1
"Tentu saja. Sudah cukup semuanya dan papa tidak akan mengulangi kesalahan papa lagi. Papa akan berjanji. Seandainya suatu saat nanti papa melakukan kesalahan seperti ini, kamu boleh menghukum papa dengan cara paling berat sekalipun." Janu menautkan kelingkingnya.
Senyum Agnes pun terlihat mengembang sempurna. "Terima kasih, Pa."
Janu tidak menyahut. Kembali mendaratkan ciuman bahkan sekarang di seluruh wajah Agnes. Sebenarnya, Janu belum merasa rela jika Agnes menemukan pengganti dirinya yang disebut sebagai suami untuk putrinya. Namun, Janu juga menyadari satu hal.
Semakin lama, Agnes makin dewasa dan dirinya akan makin menua. Janu tidak ingin jika harus jauh putrinya maka tidak ada yang menjaga putrinya lagi karena dia pun tidak selamanya bisa menjaga Agnes. Dia harus mencari lelaki yang bisa menjadi pengganti dirinya jika suatu saat harus meninggalkan putrinya yang manja itu.
"Sayang, papa ingin sekali melihat kamu menikah. Apa kamu sudah memiliki kekasih?" tanya Janu hati-hati karena takut menyinggung perasaan putrinya.
Agnes melerai pelukan tersebut secara kasar lalu bersedekap. "Bukankah selama ini papa tidak mengizinkan aku untuk berpacaran. Jadi, mana ada lelaki yang mau sama aku kalau papa selalu menempatkan pengawal di sampingku."
__ADS_1
Janu terkekeh melihat putrinya. "Itu dulu. Tapi, sekarang papa sadar kalau kamu semakin dewasa dan sudah waktunya memiliki pendamping hidup."
Agnes menatap sang papa sangat lekat. "Apa papa serius?" tanya Agnes masih belum percaya mendengar sang papa berbicara semudah itu. "Apakah papa sudah tidak sayang padaku lagi?"