
"Kenapa jadi ayah yang baik untukku? Kamu ini aneh! Bukankah kita akan menjadi sepasang suami-istri, bukan ayah dan anak," protes Agnes. Yang dia tahu, Gatra menikah dengannya untuk menjadi suami bukan ayah. Namun, mendengar kekehan Gatra sontak membuat Agnes menaruh curiga kepada lelaki itu.
"Ya, kalau kita sudah menikah nanti, sepertinya aku akan lebih pantas menjadi ayahmu. Menilik bagaimana sikap kamu yang seperti anak TK," ujar Gatra.
Agnes bersedekap kesal sembari mengerucutkan bibir. "Kenapa kamu selalu saja menyebalkan. Kalau kamu menikah hanya untuk menghinaku maka lebih baik tidak usah. Aku lebih memilih untuk menjadi anak gadis papa saja."
Agnes mengomel panjang lebar, tapi dia terdiam seketika saat merasakan sebuah kecupan di puncak kepala. Agnes pun menoleh untuk menatap sang pelaku. Akan tetapi, jantungnya tiba-tiba berdebar kencang saat melihat Gatra tersenyum simpul. Terlihat sangat menawan.
"Jalani saja semua sesuai alurnya. Aku akan berusaha menjadi lelaki yang baik dan berkesan dalam hidupmu meskipun aku tidak akan pernah bisa menggantikan posisi papamu," kata Gatra. Agnes terdiam karena merasa terharu.
Setelah cukup puas berada di sana. Gatra pun mengajak Agnes untuk pulang karena mereka sudah terlalu lama berada di sana. Gatra tidak ingin jika tubuh gadis itu kembali drop. Agnes benar-benar harus menjaga stamina tubuhnya untuk menjalani rangkaian acara pernikahan yang sudah dirancang sedemikian rupa.
***
__ADS_1
Tanpa terasa hari yang ditunggu telah tiba. Sebuah ruangan sudah didekorasi sedemikian rupa. Sangat mewah dan elegan. Banyak tamu undangan yang juga sudah hadir memenuhi ruangan tersebut. Mereka sangat tidak sabar untuk melihat acara sakral tersebut termasuk geng Somplak sekawan.
Berbeda dengan Agnes yang saat ini sedang merasa gugup. Sejak satu jam lalu wajahnya terus dipolesi make-up dan dia tidak bisa menolak sama sekali. Janu pun tidak pernah jauh apalagi meninggalkan putrinya. Dia merasa inilah momen terakhir dan paling berkesan dalam hidupnya ketika dia harus menemani sang putri merengkuh masa depannya.
Lelaki itu sangat cerewet ketika para perias sedang menyentuh wajah Agnes. Menunjukkan kekhawatiran mereka akan melukai Agnes. Hal itu sampai membuat ragu karena sepertinya Janu tidak akan semudah itu melepaskan Agnes.
"Sudah selesai, Tuan." Perias itu sedikit membungkuk hormat di depan Janu.
"Berdiri, Sayang." Janu menyuruh Agnes agar berdiri di sampingnya lalu mengajaknya bercermin. Agnes terlihat sangat cantik dalam balutan gaun pengantin berwarna putih tulang. "Kamu sangat cantik. Kelihatan seperti gadis dewasa."
Setelah dirasa cukup puas, Janu pun mengajak Agnes segera ke tempat acara. Selama berjalan, Agnes terus saja menggandeng tangan sang papa. Antara gugup dan takut, itulah yang dirasakan Agnes saat ini.
Kedatangan mereka begitu disambut. Apalagi kecantikan Agnes yang menjadi pusat perhatian semua orang. Gatra sampai terbengong ketika melihat calon istrinya yang begitu cantik. Terlihat sangat berbeda dari biasanya sampai membuat Gatra menjadi pangling.
__ADS_1
"Jangan ngelamun, Gatra."
Gatra sontak terkejut saat mamanya menyadarkan dia dari lamunan. Untuk menghilangkan kegugupannya, Gatra pun segera duduk bersebelahan dengan Agnes, sedangkan Janu duduk di depan mereka.
Tatapan Janu begitu dalam terutama ke arah putrinya. Lelaki itu bebrapa kali terlihat menghela napas panjang. Setelah ijab kabul nanti selesai, itu artinya Janu harus bersiap untuk melepaskan Agnes. Membebaskan gadis itu sebagai wanita dewasa dan membiarkan Gatra mengambil tanggung jawab penuh atas putrinya.
"Sudah siap?" tanya penghulu yang duduk di samping Janu.
"Sudah." Janu kembali menghirup napas dalam. Lalu menjabat tangan Gatra. Janu tersenyum tipis saat merasakan tangan Gatra yang basah karena keringat. Sepertinya lelaki itu sedang sangat gugup saat ini.
"Kamu juga sudah siap?" tanya Janu kepada Gatra.
"Su-sudah," balas Gatra.
__ADS_1
"Baiklah. Bismillahirrahmanirrahim."