Seperti Menikahi Bocah

Seperti Menikahi Bocah
SMB 26


__ADS_3

"Pelan-pelan saja. Aku tidak akan meminta." Gatra berdecak ketika melihat Agnes yang makan dengan terburu seolah takut martabak itu akan direbut oleh suaminya. 


Agnes hendak berbicara, tetapi Gatra menahannya dengan cepat. "Kunyah dan telan dulu. Jangan berbicara sambil makan, nanti makananmu muncrat dan itu sangat menjijikkan," perintahnya. 


Agnes hanya mendengkus kasar dan mengunyah makanan tersebut. Lalu menelannya dengan cepat. Namun, ia justru tersedak karenanya dan Gatra pun segera memberikan segelas air putih. 


Gatra terkekeh ketika melihat wajah Agnes yang sudah memerah. Hal itu pun sontak membuat Agnes makin merasa kesal kepadanya. Agnes menaruh gelas cukup keras lalu bergegas bangun dan berjalan menghentak menuju ke kamar.


"Hei, kamu mau ke mana?" Dengan terburu Gatra berjalan menyusul Agnes. "Hei! Berhenti ! Apa kamu tidak mendengarku?" teriaknya lagi. 


Namun, Agnes tetap saja berjalan tanpa peduli pada teriakan Gatra yang sudah memenuhi seluruh isi rumah itu. 


"Hei, apa kamu tuli? Jawablah ketika suamimu memanggil," kata Gatra. Ia menghela napas panjang ketika akhirnya Agnes berhenti. 


Wanita itu berbalik dan bersedekap erat. Tatapannya tidak bisa membohongi kalau ia sedang kesal saat ini. 


"Aku tidak tuli! Aku sengaja tidak menjawab karena kamu memanggilku sembarangan," cebiknya. "Sepertinya kamu tidak lupa kalau nama istrimu itu Agnes, ingat  ... A-G-N-E-S, Agnes! Bukan hei!" 


Brak! 


Tubuh Gatra terjengkit karena terkejut dengan suara pintu yang ditutup kencang. Bahkan, jantungnya serasa hendak lepas dari tempatnya. Dengan gegas Gatra berusaha menyusul istrinya. Namun, pintu kamar tersebut justru terkunci dari dalam. Gatra pun berusaha menggedor, tetapi tidak ada sahutan dari dalam. 


"Ya Tuhan, dia marah." Gatra mengambil ponsel dan melakukan panggilan video. Dua kali tidak diterima dan pada panggilan ketiga, tampaklah wajah Agnes yang masih dipenuhi kekesalan, memenuhi layar ponsel Gatra. 


"Apa!" sentaknya. 

__ADS_1


"Buka pintunya. Aku mau tidur," kata Gatra. Berusaha berbicara pelan karena semakin ia ngegas, Agnes justru akan makin marah. 


"Tidak mau!" Agnes memalingkan wajah hingga bibirnya yang cemberut terlihat sangat maju. 


Ah, Gatra ingin sekali mencium benda kenyal itu. Menyadari pikirannya yang mulai berkeliaran, Gatra pun menggeleng untuk mengusirnya. 


"Ayolah, kamu tega sekali membuat suamimu menunggu di depan pintu. Lihatlah." Gatra mengangkat ponsel dan  mengarahkan pada pintu kamar agar Agnes percaya. 


"Rasakan. Silakan kamu tidur dengan istrimu yang bernama hei itu! Karena namaku bukan hei!" Agnes masih saja merajuk. 


"Jangan bercanda, Nes. Istriku 'kan cuma satu. Hanya kamu seorang, Agnesia Rebecca Januar," kata Gatra penuh penekanan. 


"Tapi tadi kamu memanggilku hei terus. Aku kesal! Aku tidak akan membukakan pintu sampai besok pagi!" Agnes bersikukuh. 


"Ya Tuhan, Nes. Maaf, aku khilaf tadi. Apa kamu tidak kasihan dengan suamimu? Apa kamu tega melihat adik suami kamu ini kedinginan?" Gatra memasang wajah memelas untuk menarik simpati Agnes. 


"Bertiga sama dia." Gatra dengan jahilnya mengarahkan ponsel ke arah adik kecilnya hingga membuat Agnes memekik keras. 


"Gatra Mahardika!!! Otak kamu mesum sekali!" teriak Agnes. Suaranya bahkan terdengar sampai ke luar hingga Gatra tak kuasa menahan gelakan tawa. 


Panggilan itu pun terputus dan selang beberapa saat pintu kamar terbuka. Agnes terlihat keluar dari balik pintu dan langsung memukuli punggung Gatra.


"Sakit, Nes. Sakit," ucap Gatra sambil berusaha menghentikan pukulan Agnes. 


"Dasar suami mesum! Aku sebel! Sebel!" Agnes menghentakkan kaki lalu bersedekap. 

__ADS_1


"Ya Tuhan, aku laporkan kamu karena sudah melakukan KDRT," kata Gatra sambil mengusap punggungnya yang sedikit memanas. 


"Aku juga akan laporkan kamu karena sudah melakukan KDRT kepadaku," ancam Agnes balik. 


"Kapan aku melakukannya?" 


"Tiap malam. Kamu selalu membuatku kesakitan," sahut Agnes asal. 


Gatra melongo untuk beberapa saat. "Kalau itu, mah, walaupun sakit kamu tetap menikmati bukan?" tanya Gatra disertai senyum meledek. Agnes pun tidak menjawabnya. 


Ia terkejut ketika Gatra tiba-tiba mendorong tubuhnya hingga menempel tembok. Bahkan, Gatra mengunci Agnes sampai tidak bisa melakukan apa pun. 


"Ka-kamu mau apa?" Agnes terlihat sangat gugup. 


"Tentu saja melakukan hal yang seharusnya kita lakukan," ujar Gatra. 


"A-aku capek." 


"Nikmati saja biar aku yang bekerja." Gatra langsung mencium bibir Agnes sampai membuat wanita itu tidak bisa berkutik. 


"Tunggu dulu." Agnes menyudahi ciuman tersebut dan sedikit mendorong tubuh Gatra. 


"Apalagi?" 


"Kalau sekarang kamu bekerja maka siapa yang akan menggajimu nanti? Sedangkan aku saja tidak punya uang," kata Agnes. 

__ADS_1


"Ya Tuhan." Gatra mengusap wajah kasar. Merasa kesal dengan istrinya. 


__ADS_2