Seperti Menikahi Bocah

Seperti Menikahi Bocah
SMB 40


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian. 


Setelah kejadian kala itu, Selly benar-benar tidak berani mengganggu Gatra lagi karena Janu menempatkan beberapa anak buah yang membuat Selly tidak bisa memiliki ruang gerak yang luas. Selly sempat kabur, tetapi hanya sesaat karena ia bisa ditangkap lagi. Bahkan setelahnya, ia mendapat hukuman yang lebih buruk lagi. 


Selain itu, Janu pun kini masih tetap tinggal bersama Agnes. Ia akan menemani putrinya ketika Gatra sedang bekerja, dan jika Gatra  sudah pulang nanti, Janu akan memberikan waktu kepada dua orang itu saling bermesraan. Tidak seperti dulu yang terlalu ikut campur urusan mereka. 


Kehamilan Agnes pun sudah besar bahkan mereka sudah menyiapkan segalanya. Tinggal menunggu hari bayi mungil akan lahir, dan mereka berdoa semoga diberi keselamatan untuk semuanya. Janu pun tidak lepas turut mengawasi putrinya bersama seorang dokter spesialis yang ditugaskan untuk terus memantau kesehatan Agnes. 


"Ini sakit, sekali." Agnes mengusap perutnya ketika mulai merasakan kontraksi. Gatra tidak pernah meninggalkan istrinya. Ia terus di samping wanita itu sambil mengusap punggung Agnes.


Wajah Gatra terus dipenuhi kecemasan. Ia khawatir dan takut ketika melihat istrinya yang kesakitan seperti itu. Rasanya ia benar-benar tidak tega. Begitu pun dengan Janu. Lelaki paruh baya itu sudah menyiapkan semuanya secara lengkap. Bahkan, Janu sudah meminta beberapa dokter untuk menangani proses melahirkan tersebut. Memohon agar semua dilakukan dengan baik dan selamat untuk keduanya. 


"Sabar ya, Nes. Aku yakin kamu pasti mampu." Gatra terus menguatkan, sedangkan Agnes beberapa kali menghirup napas panjang dan mengembuskan secara kasar. 


"Kita harus bersiap karena hampir pembukaan lengkap," kata salah seorang dokter. 


Jantung Gatra berdebar kencang, ia benar-benar cemas apalagi ketika melihat Agnes yang sedang berjuang melahirkan buah hati mereka. Rasanya Gatra ingin memutar waktu agar cepat berlalu agar ia bisa menggendong anak mereka tanpa melihat Agnes yang kesakitan seperti itu. Namun, hal itu tidak akan mungkin terjadi. Setiap hal indah pasti ada perjuangan yang harus dilalui. 


Gatra terus memberi kekuatan untuk Agnes agar bisa semangat. Bahkan, bukan hanya satu kali ciuman Gatra mendarat di kening Agnes sebagai sikap untuk menenangkan wanita itu. 


"Kamu pasti bisa," gumam Gatra lirih. 


"Aahhh ...."


Agnes mengembuskan napas panjang disusul oleh suara tangisan bayi. Gatra ingin menangis ketika dokter mengangkat bayi dengan jenis kelamin perempuan itu. Bayi mungil yang sedang menangis dengan kuat. 


"Mas," panggil Agnes sangat lirih dan lemah. Tenaganya seolah terkuras habis, tetapi senyumnya masih mengembang ketika melihat bayi mungil itu. "Cantik sekali." 


"Ya, seperti kamu." Gatra mencium pipi Agnes penuh dengan kebahagiaan. 


Setelahnya, Gatra keluar dari ruangan dan membiarkan istrinya mendapat penanganan lebih lanjut. Ia membiarkan para dokter itu memeriksa Agnes dan meyakinkan bahwa wanita itu dalam keadaan baik-baik saja. 


Sesampainya di luar, Gatra langsung disambut senyum kebahagiaan dari Janu. Meskipun Janu masih cemas akan keadaan Agnes yang masih dalam pengawasan. 

__ADS_1


Hampir setengah jam berlalu, dokter keluar dan langsung disambut kedua lelaki itu. Mereka berdua tidak sabar mendengar kabar tentang Agnes. 


Baik Gatra maupun Janu menghela napas lega ketika sang dokter mengatakan kalau Agnes sudah dalam keadaan baik-baik saja walaupun masih terus dalam pantauan. 


"Selamat, Tra. Akhirnya kamu resmi menjadi seorang ayah untuk putrimu." Janu menepuk pundak Gatra dengan bangga. 


"Terima kasih banyak, Pa. Sekarang Papa sudah memiliki cucu," balas Gatra. Kedua lelaki itu pun terkekeh. 


Lalu setelahnya, mereka masuk dan langsung menghujami banyak ciuman untuk Agnes. 


"Aku sayang kamu, Nes." 


Gatra mencium kening Agnes sangat lama. Bahkan, hampir membuat air matanya terjatuh karena susah mengungkapkan kebahagiaan ini. 


"Aku juga sayang kamu, Mas." Agnes tersenyum dan entah mengapa, Gatra melihat senyuman Agnes itu terlihat sangat menggoda hingga tanpa sadar membuatnya langsung meraup bibir Agnes. 


"Ehem! Ehem! Hello, sepertinya aku mengganggu waktu kalian." 


"Selamat, Nes. Sekarang kamu sudah menjadi seorang ibu. Harus dewasa sekarang, jangan seperti anak kecil lagi." Margaretha menciumi pipi Agnes. 


"Terima kasih banyak, Etha." 


Margaretha membalas dengan senyuman, lalu mereka pun bersenda gurau. Setiap senyuman mereka memancarkan kebahagiaan yang susah dijelaskan dengan kata-kata. Apalagi ketika bayi perempuan yang baru saja dilahirkan itu, dibawa masuk ke ruangan. Seketika mereka heboh dan berebut ingin melihat bayi mungil yang sedang tertidur itu. 


***


Jelita Aurellia. 


Nama cantik untuk putri pertama Agnes dan Gatra. Kedatangan Baby J membuat suasana di rumah Gatra kian ramai karena setiap hari ada saja yang berkunjung untuk melihat Baby J. Semua merasakan kebahagiaan, terutama Agnes dan Gatra. 


"Lihatlah, dia sangat mirip denganmu. Aku yakin pasti ketika besar nanti, akan cantik seperti mamanya," puji Gatra. 


Terkagum ketika melihat bayi mungilnya mulai menggeliat. Semenjak memiliki bayi, Gatra merasa enggan untuk ke datang ke restoran. Ia ingin sekali di rumah dan menatap kecantikan putrinya. Karena hal itu pula lah yang membuat Agnes sering mengomel pada suaminya. 

__ADS_1


"Mas, kamu masih memiliki waktu untuk menggedong Jeje nanti sore. Jangan sampai kamu lupa pada kewajibanmu." Agnes bersedekap kesal. 


Walaupun berat, Gatra pun tetap menuruti perintah istrinya sebelum negara api menyerang. Ia tak lupa mencium kening Agnes sangat lama. 


"Terima kasih banyak, Nes. Kamu sudah membuat hidupku terasa sangat sempurna. Aku mencintaimu." Gatra menatap Agnes penuh cinta. 


"Aku juga mencintaimu, Mas. Terima kasih kembali karena kamu sudah menerimaku yang masih kekanak-kanakan," balas Agnes. 


Dengan gemasnya, Gatra mencium bibir Agnes dan mel*matnya. Namun, kejadian itu harus terjeda karena bayi mereka menangis kencang. Baik Gatra maupun Agnes sama-sama terkekeh. 


"Sepertinya akan yang menganggu keromantisan kita setelah ini." 


Agnes menggeleng mendengar ucapan suaminya tersebut. 


Kebahagiaan Agnes dan Gatra lengkap sudah dengan kehadiran bayi mungil itu. 


Dengan ini pula kisah Agnes dan Gatra dinyatakan tamat.


Lah, Thor? Kok?


Hehehe iya pokonya. 


Makasih buat kalian semua yang sudah setia dengan karya Othor yang satu ini 🙈 maaf kalau selama ini jarang update 😅


Jangan lupa mampir dan beri dukungan untuk karya Othor yang lain. Setelah ini, Othor bakal Fokus ke kisah Audrey 'Aku Bukan Pelacur' dan Sultan 'BISULAN (Bima Sultan Andaksa)' jangan lupa mampir ya guys, klik profil Othor untuk cari kisah yang disebut tadi, atau kisah lain yang pernah Othor tulis.


Pamit undur diri dan terima kasih sudah setia menemani Othor. Maaf, apabila banyak salah othor untuk kalian terutama tidak balas komentar kalian 🙈


Akhir kata,


Selamat pagi, siang, sore, malam. 


Wassalamu'alaikum 😊

__ADS_1


__ADS_2