Seperti Menikahi Bocah

Seperti Menikahi Bocah
SMB 15


__ADS_3

Jika aku diberi satu permintaan oleh Tuhan maka aku akan meminta agar papa selalu berada di dekatku. Menjagaku dalam dekapannya. Menenangkan hatiku dengan ucapannya.


Papa ... seandainya kamu tahu betapa aku terluka di sini. Ketika harus jauh darimu dan hanya bisa memelukmu lewat doa untuk melepas segala rasa rindu yang makin hari kian menggerogoti hatiku.


Papa ... kapan kamu akan kembali ke sisiku? Meski sekarang aku telah dewasa, tetapi aku tetap ingin menjadi gadis kecilmu. Aku masih butuh genggaman tanganmu untuk membuatku kuat di atas segalanya.


Papa ... aku mohon ... jangan menjauh dariku lagi.


***


"Pa-papa." Suara Agnes terbata. Bahkan napasnya tersengal karena dadanya mulai terasa sesak. Dia menangis hebat dalam pelukan Janu. Meluapkan segala rasa rindu yang selama ini mampu membuatnya rapuh.

__ADS_1


"Ya, ini papa, Sayang." Air mata Janu pun sudah mengalir deras. Lelaki itu sama sakitnya. Berada jauh putrinya adalah hal yang paling membuatnya sangat tersiksa. Setiap malam dia tidak pernah bisa tidur nyenyak karena terus kepikiran Agnes. Khawatir gadis itu tidak bisa makan dengan baik.


"Jangan pergi lagi." Suara Agnes terputus karena sesenggukan. Dia memeluk sang papa sangat erat dan tidak ingin melepaskannya. Agnes takut ketika melepaskan pelukan itu maka dia harus kembali terpisah dengan sang papa. Agnes tidak menginginkan perpisahan lagi meskipun setelah ini mereka tetap harus terpisah.


"Jangan menangis, Sayang. Papa sudah ada di sini sekarang. Papa janji tidak akan meninggalkanmu lagi," ucap Janu. Suaranya parau karena menangis. Bukan hanya mereka berdua, tetapi siapa pun yang berada di sana ikut menangis. Antara terharu dan tidak tega melihat dua orang yang saling tersiksa karena rindu.


"Aku tidak mau jauh dari Papa lagi. Aku lebih baik mati daripada harus jauh dari Papa. Aku sakit, Pa. Aku sakit saat Papa tidak berada di dekatku." Agnes memukul dada Janu untuk meluapkan segalanya. Sungguh, ketakutan jauh dari ayahnya membuatnya serasa rapuh.


Janu hendak melepaskan pelukan itu, tetapi Agnes menahan sangat kuat. Dia masih belum berani melepaskannya. Namun, Janu sedikit memaksa karena dia sudah ingin sekali melihat wajah putrinya dari dekat.


Agnes pun melakukan hal yang sama. Dia membantu menyeka air mata Janu yang sudah membasahi wajah lelaki paruh baya itu. Perlahan, Janu memajukan wajahnya lalu mendaratkan ciuman yang sangat lama di kening putrinya sebagai tanda betapa besar rasa sayang untuk putrinya. Bahkan, melebihi rasa sayang pada dirinya sendiri.

__ADS_1


"Pa, kalau nanti Papa kembali ke penjara. Aku mau ikut Papa aja. Aku tidak mau di sini dan jauh dari Papa lagi," ucap Agnes, menatap sang papa dengan sangat memohon.


"Kenapa? Bukankah Nona Etha memperlakukanmu dengan baik?" tanya Janu. Terus mengusap pipi putrinya dengan sangat lembut. Bibir lelaki itu terlihat tersenyum getir.


"Ya. Dia sangat baik padaku, Pa. Tapi bagiku tidak ada yang bisa menggantikan posisi Papa di hatiku. Aku tidak mau siapa pun. Aku tidak butuh rumah megah, harta berlimpah. Aku mau sama Papa aja. Apa pun keadaannya. Aku tetap mau sama Papa meskipun harus tinggal di balik jeruji besi. Aku mohon, Pa." Agnes begitu meminta. Namun, Janu menggeleng cepat.


"Tidak, Sayang. Papa tidak akan setuju. Tubuhmu terlalu lemah untuk berada di sana."


"Aku tidak peduli. Aku lebih baik tinggal di penjara dan mati dalam pelukan Papa daripada harus tinggal jauh dari Papa. Aku tidak sanggup, Pa." Agnes terus merengek.


Dengan cepat Janu memeluk Agnes erat. Sangat erat. Lalu menghujami puncak kepala gadia itu dengan banyak ciuman. "Papa tidak akan membiarkanmu tinggal di sana."

__ADS_1


"Pa, aku tetap akan berusaha tinggal di sana. Pa ... haruskah aku membunuh agar bisa tinggal bersama Papa."


Ucapan Agnes membuat Janu bungkam saat itu juga.


__ADS_2