Seperti Menikahi Bocah

Seperti Menikahi Bocah
SMB 08


__ADS_3

"Ayolah, sarapan dulu. Jangan biasakan bekerja tanpa sarapan. Itu tidak baik." Gatra berusaha merayu. Namun, Agnes yang sudah keburu kesal justru menatap ke luar jendela tanpa peduli pada Gatra.


Gatra mendes*h kasar berkali-kali. Dia menatap makanan yang masih berada di dalam kotak. Karena tragedi tadi, Gatra akhirnya meminta karyawan di restoran itu agar membungkuskan sarapan sekaligus membayar ganti rugi atas semuanya. Bagaimanapun juga, Gatra sadar diri kalau dialah yang menyebabkan Agnes terjatuh.


"Kamu makan sendiri saja. Aku tidak mau." Agnes tidak menatap Gatra sama sekali, tetapi ekor matanya melirik kotak yang tergeletak di sampingnya.


Aku lapar sekali dan ingin memakan itu. Tapi kalau aku mengambilnya, aku yakin lelaki menyebalkan ini pasti akan menertawanku. Aku tidak ingin melihat dia tertawa. Itu sangat menyebalkan. Oh, Ya Tuhan. Semoga cacing di perutku tidak melakukan paduan suara.


"Baiklah. Kalau kamu tidak mau makan maka biar aku saja yang memakannya karena kebetulan sekali aku belum sarapan." Gatra kembali menggoda Agnes. Dia membuka kotak itu dan bau khas bumbu ayam goreng di dalamnya menguar di dalam mobil. Agnes pun menelan ludah berkali-kali saat mencium aroma yang mampu menggugah selera makannya.


Ahh. Huaa ... Papa. Aku lapar sekali. Aku mau makan itu, tapi malu. Dari baunya saja sudah bisa dirasakan kalau ayam goreng itu sangat enak. Aaaa ... Papa.


Batin Agnes berteriak dan jiwa lapar gadis itu begitu meronta-ronta. Ingin rasanya merebut makanan tersebut dan melahapnya. Namun, itu tidak mungkin dilakukan Agnes karena dia begitu gengsi. Berkali-kali Agnes mengusap perutnya yang mulai berbunyi.


Dia menoleh dan melihat Gatra sedang mengambil satu suapan. Agnes berharap Gatra akan menyuapinya seperti adegan romantis di dalam drama-drama, tetapi ternyata tidak. Gatra justru memasukan suapan itu ke dalam mulutnya sendiri. Tanpa peduli pada Agnes yang sudah memasang memelas. Melihat betapa Gatra tidak peduli padanya Agnes pun hanya bisa mengembuskan napas kasar. Gatra tersenyum saat mendengar suara embusan napas gadis itu.


"Ini benar-benar enak. Hampir sama seperti di restoran milikku. Hmmm." Gatra terlihat begitu menikmati kunyahannya. Padahal rasanya biasa saja menurut Gatra, tetapi dia sengaja melakukan itu untuk menggoda Agnes. Sungguh, Agnes seperti tidak mampu lagi menahan air liur yang hampir menetes.


"Kamu yakin tidak mau makan ini?" Gatra menawari lagi.

__ADS_1


"Tidak." Agnes menjawab tidak, tetapi kepalanya justru mengangguk cepat. Gatra yang melihat itu pun tak kuasa menahan gelakan tawa. "Jangan tertawa!"


"Sudah lebih baik kamu makan dulu." Gatra hendak menyuapi Agnes, tetapi gadis itu kembali memalingkan wajah. "Kalau kamu tidak mau maka aku akan memakannya lagi," ancamnya.


Agnes pun langsung menarik tangan Gatra dan memasukkan sesuap nasi itu ke dalam mulutnya sendiri. Bahkan, Agnes mengunyahnya dengan cepat karena takut Gatra akan merebutnya lagi.


"Astaga. Pelan-pelan." Gatra kembali mengambil nasi dan mulai menyuapi Agnes lagi. Agnes pun terus diam dan sibuk mengunyah sampai akhirnya nasi itu habis oleh mereka berdua. Setelahnya, Gatra segera turun untuk membuang kotak bekas sekalian mencuci tangan.


"Ahh, aku kenyang sekali." Agnes duduk bersandar dan mengusap perutnya yang kekenyangan.


"Kamu sudah kenyang?" Gatra kembali duduk di belakang setir kemudi dan tersenyum ke arah Agnes yang hanya diam saja. Gatra yakin gadis itu pasti malu untuk menjawab. "Bagaimana? Enak bukan suapan tanganku."


"Kamu tahu, kita makan dari suapan yang sama. Bukankah itu berarti kita sudah ciuman secara tidak langsung," ucap Gatra sembari tersenyum menggoda.


Agnes langsung duduk tegak dan menatap bingung ke arah Gatra. Dalam hati dia merutuki dirinya sendiri kenapa bisa melupakan hal itu.


"Jangan kaget gitu. Apa kamu mau merasakannya lagi? Atau kamu mau ciuman yang langsung? Aku akan memberimu saat ini juga. Aaahhhh."


Gatra memekik saat lagi-lagi Agnes menggigit lengannya dengan gemas dan terasa begitu nyeri. Bahkan, Gatra bisa merasakan kalau gigitan tersebut pasti meninggalkan bekas. Setelah puas menggigit, Agnes langsung bersedekap dan mengerucutkan bibir. Hal yang seringkali dilakukan oleh gadis itu.

__ADS_1


"Kamu ituβ€”"


"Aku tahu kamu pasti ingin bilang kalau aku ini menyebalkan, bukan?" Gatra memotong ucapan Agnes.


"Ya, itu benar."


"Bikin emosi terus."


"Itu benar. Kamu memang selalu membuat emosiku naik."


"Kamu juga akan bilang kalau aku ini bos yang suka memotong gaji. Pelit dan sangat perhitungan." Gatra mulai tersenyum licik, sedangkan Agnes hanya mengiyakan ucapan Gatra yang menurutnya sangatlah benar.


"Benar sekali."


"Dan kamu juga akan bilang kalau aku ini tampan dan selalu membuat terbayang-bayang."


"Itu benar seratus persen." Agnes menjawab cepat, tetapi bebrapa detik selanjutnya gadis itu langsung membungkam mulut rapat dan menyadari ada yang salah dengan jawabannya. Agnes melirik Gatra tajam saat mendengar tawa lelaki itu yang sangat menggelegar. Memenuhi mobil hingga membuat telinga serasa akan tuli.


Ya Tuhan. Dia benar-benar sangat menggemaskan. Aku tidak menyangka akan bertemu dengan gadis seimut dia. Eh!

__ADS_1


Imut itu bukan item mutlak ya guys ya πŸ˜‚πŸ˜‚


__ADS_2