Seperti Menikahi Bocah

Seperti Menikahi Bocah
SMB 38


__ADS_3

Agnes menghela napas panjang ketika mendengar penjelasan Gatra, tentang siapa Selly serta kemungkinan besar yang mengirim foto itu adalah Selly. Bahkan, Gatra tidak menutupi dari Agnes jika Selly sempat menyatakan cinta padanya, tetapi Gatra sudah menolaknya mentah-mentah. 


Agnes memang cemburu, tetapi ia juga merasa senang dengan kejujuran suaminya. 


"Bagaimana kalau aku ikut kamu jika sedang berkunjung ke restoran itu lagi?" ucap Agnes memberi ide. 


"Tidak perlu. Aku akan menutup restoran itu sepertinya. Dan menjualnya lalu membeli lagi di tempat lain. Karena aku merasa jika tetap membukanya maka hal itu tidak akan baik. Selly pasti tidak akan tinggal diam," ujar Gatra. 


"Apa tidak sayang dengan uangmu? Kamu akan mengalami kerugian karenanya," ucap Agnes. 


Gatra tersenyum simpul. "Tidak apa. Kamu lebih penting daripada uangku. Aku tidak mau jika hubungan kita nantinya tidak akan baik. Jadi, aku memilih untuk menghentikan semuanya sebelum menjadi masalah," terang Gatra. 


"Ya ampun. Aku tidak menyangka kalau kamu akan berbuat seperti itu. Terima kasih banyak," ucap Agnes. Matanya tampak berkaca-kaca karena merasa terharu. 


"Tidak perlu berterima kasih karena itu sudah menjadi tugasku. Sekarang, kita harus fokus pada kehamilanmu. Rasanya aku sudah tidak sabar ingin segera bertemu buah hati kita." Gatra mencium perut Agnes cukup lama sembari memejamkan mata. Agnes pun dengan lembut mengusap puncak kepala suaminya. 

__ADS_1


Jika sedang seperti ini, mereka terlihat seperti pasangan yang sangat romantis. Bukan lagi seperti kucing dan tikus. 


***


"Apa! Yang benar saja!" 


Suara Gatra menggema di ruangan. Beruntung tidak ada yang berada di sana sehingga tidak ada yang terkena penyakit jantungan. Gatra terdiam dan mendengarkan seseorang yang berbicara dari seberang telepon. 


"Kalau begitu kalian urus hal itu dan jangan sampai dia kabur. Kejar dan tangkap di mana pun dia berada." 


Gatra mematikan panggilan tersebut lalu merem*s ponselnya dengan kuat. Ia tidak menyangka jika Selly akan berbuat senekat ini. Wanita itu sudah berani membakar restoran baru milik Gatra. Untung saja segera diketahui hingga hanya setengah bangunan saja yang terbakar. 


Gatra mendengkus kasar, tetapi ia tetap menerima panggilan tersebut. Meski terpaksa, Gatra pun tetap mengiyakan ketika Janu mengajaknya bertemu. Ia tidak memiliki alasan untuk menolak. 


Setelah panggilan itu terputus, Gatra segera bersiap karena ia tidak ingin membuat papa mertuanya menunggu. 

__ADS_1


***


"Pa ...." 


"Restoranmu kebakaran?" tanya Janu tiba-tiba membuat Gatra tersentak karena terkejut. 


"Da-darimana papa tahu?" Gatra menatap heran. 


"Tentu saja papa tahu. Kamu tenang saja, papa sudah menyuruh anak buah papa untuk menangkap wanita itu karena dia adalah dalang dari semuanya. Kamu juga tidak perlu mengurus hal itu, biar papa saja yang akan mengurusnya." 


"Maksudnya, Pa?" Gatra masih belum paham karena otaknya mendadak nge-blank. 


"Jadi gini. Sekarang papa akan ke sana dan melihat semuanya, setelah itu papa akan mengurus semuanya sampai tuntas termasuk menangkap pelakunya. Kamu cukup diam di rumah dan menunggu semuanya beres," jelas Janu. 


Gatra justru makin merasa heran. "Kenapa Papa bersikap sampai sejauh itu? Aku masih bisa mengurusnya sendiri, Pa." Gatra menolak. Bukan karena ia tidak mau menerima bantuan Janu, tetapi ia hanya merasa tidak enak hati. Bagaimanapun juga, restoran itu adalah tanggung jawabnya. 

__ADS_1


"Tra ... anggap saja apa yang papa lakukan ini adalah tanda permintaan maaf papa karena mungkin sikap papa ada yang membuatmu terluka. Papa sadar, tidak sepatutnya papa ikut campur urusan rumah tangga putri papa," kata Janu. Disertai helaan napas panjang. 


Lidah Gatra mendadak kelu dan tidak mampu mengucapkan apa pun. Bahkan, ia hanya menatap sang papa dengan tatapan yang sudah dijelaskan. 


__ADS_2