Seperti Menikahi Bocah

Seperti Menikahi Bocah
SMB 12


__ADS_3

"Kejutaaannnnn!!!!!"


Agnes menutup mulut saat orang-orang di sana berteriak kejutan disusul lagu ulang tahun yang terdengar memenuhi ruangan. Bola mata Agnes tampak berkaca-kaca.


"E-Etha. Ini apa?" Agnes berusaha menyadarkan dirinya dan mempercayai semua ini. 


"Selamat ulang tahun, Agnes. Maaf, aku sudah ketus kepadamu. Itu hanyalah bagian kecil dari kejutan ini." Margaretha memeluk Agnes sangat erat. 


"Etha—" Agnes benar-benar tidak percaya. Air mata gadis itu sudah mengalir membasahi wajahnya. Gadis itu menangis haru. Suasana yang barusan meriah pun kini mulai senyap. 


"Jangan menangis. Ingat, usiamu sudah dewasa. Jangan seperti anak kecil." Margaretha melerai pelukan tersebut lalu membantu menghapus air mata Agnes. 


"Ish, ini sangat mengejutkan untukku. Kenapa kamu tidak bilang akan memberikanku kejutan seperti ini." Bibir Agnes mengerucut. Gadis itu merajuk. 

__ADS_1


"Kalau aku bilang maka namanya bukan lagi kejutan." Margaretha tersenyum bahagia melihat Agnes. 


"Selamat ulang tahun, Agnes. Doa terbaik untukmu." Rasya, Zahra, dan Zety ikut bergabung bersama kedua orang itu. Mereka juga saling bergantian memeluk Agnes. 


"Terima kasih banyak."  Senyum Agnes yang mengembang tidak bisa membohongi betapa bahagianya gadis itu saat ini. "Aku sungguh tidak menyangka akan mendapat kejutan seperti ini." 


"Hei, jangan menangis. Lebih baik sekarang kita ke sana. Ingat, kamu ratu malam ini." Margaretha menarik pelan tangan Agnes. Namun, gadis itu justru menangis kencang hingga membuat semua yang ada di sana kebingungan. 


"Kenapa kamu menangis? Apa aku terlalu kencang menarikmu?" tanya Margaretha hati-hati. Namun, Agnes menggeleng cepat. "Lalu kenapa?"


"Kenapa mesti malu? Memangnya kamu tidak pakai baju?" Gatra yang sejak tadi diam mulai membuka suara. Wajahnya tampak sangat dongkol dengan tingkah kekanakkan Agnes yang mulai kumat. 


"Diamlah dan katakan apa yang membuatmu tiba-tiba menangis?" suruh Margaretha. 

__ADS_1


"Kamu gimana, Etha. Kamu menyuruhku diam dan berkata. Lalu, yang harus kulakukan apa. Diam atau bicara? Karena setahuku orang diam itu tidak berbicara." 


"Oh astaga.  Kamu sangat menyebalkan!" Sungguh Margaretha rasanya ingin sekali merem*s gadis itu. "Maksudku, diamlah dari tangisanmu dan katakan apa yang membuatmu menangis tiba-tiba." 


Tangisan Agnes pun benar-benar mereda meskipun gadis itu masih sesenggukan. "A-aku malu. Kamu bilang aku ratu malam ini, tapi setahuku tidak ada ratu yang memakai kemeja seperti ini. Minimal gaun gitu." 


"Astaga." Mereka mengucap bersamaan. Lalu mendes*hkan napas secara kasar saat mendengar jawaban itu. Bahkan, mereka saling pandang dan menggeleng dengan tingkah Agnes yang masih merajuk. 


"Jadi, Etha, aku mau ganti gaun dulu. Nanti kalau difoto biar tidak kelihatan jelek hanya menggunakan kemeja kerja yang ada tulisan nama restorannya pula." Agnes mengerucutkan bibir.


Tidak ada yang bisa dilakukan Margaretha selain mengiyakan. Sebelumnya Margaretha menyuruh siapa pun yang hadir untuk menunggu.


"Etha ... terima kasih sudah menyiapkan kejutan seperti ini. Aku tidak menyangka kalau kamu ternyata sangat sayang padaku." Mata Agnes berkaca-kaca. Dia benar-benar terharu atas apa yang dilakukan Margaretha.

__ADS_1


"Sama-sama. Aku juga minta maaf kalau tadi pagi sudah menyakitimu. Sudah cuek sama kamu." Margaretha menggenggam tangan Agnes erat-erat. "Lebih baik sekarang kamu diam saja biar cepat selesai dirias. Aku masih punya kejutan dan kado spesial untukmu setelah ini."


"Kado spesial apa?" Agnes menatap Margaretha penuh selidik. Namun, Margaretha hanya mengangkat kedua bahu sembari tersenyum tipis. "Ish! Kamu mulai menyebalkan lagi."


__ADS_2