
"Setelah papa memikirkan semuanya, papa sadar kalau ternyata selama ini sudah salah. Seberapa sayang pun papa kepada Agnes, papa tetap harus merelakan dan membiarkan putri papa membagi rasa cintanya. Papa harus bisa ikhlas melepas putri papa hidup dengan kehidupannya yang baru." Sorot mata Janu memancarkan kesedihan yang teramat dalam dan Gatra tidak tega ketika melihatnya.
"Pa, aku tahu apa yang papa lakukan itu karena papa sangat sayang kepada Agnes. Mungkin aku juga sudah egois di sini karena menganggap Agnes adalah milikku seutuhnya. Harusnya aku yang minta maaf, bukan papa. Maafkan aku, Pa. Karena selama ini aku belum bisa menjadi menantu yang baik dan membuat Agnes merasakan bahagia seutuhnya," tutur Gatra.
"Sudahlah. Lebih baik sekarang saatnya kita fokus pada kebahagiaan kita. Papa yakin kamu bisa menjaga Agnes dengan sangat baik. Mungkin, setelah ini papa akan kembali ke rumah milik papa dan hanya sesekali menjenguk Agnes," kata Janu dengan berat hati.
"Pa, jangan berbicara seperti itu. Tetaplah tinggal bersama kami karena hanya papa yang aku percaya untuk menjaga Agnes ketika aku sedang bekerja. Tidak ada yang aku percaya lagi untuk selalu di dekat Agnes, selain papa." Gatra bersikukuh.
Mungkin kemarin ia sangat menentang kehadiran Janu karena menganggap lelaki itu membuat ia tidak bisa romantisan dengan Agnes. Namun, sekarang semua berbeda. Gatra tidak tega jika membiarkan Janu hidup dalam kesepian.
Janu tersenyum mengiyakan dan mereka berdua pun saling berpelukan erat.
***
Dengan cemas Agnes menunggu kepulangan Gatra. Ia merasa khawatir ketika Janu berpamitan padanya untuk mengurus restoran Gatra yang terbakar. Agnes memaksa ikut, tetapi Janu melarang dengan keras dan justru meminta Agnes untuk tetap di rumah karena Gatra pun tidak akan ke sana.
__ADS_1
Hal tersebut menjadi tanda tanya di hati Agnes.
Ketika Gatra baru saja pulang, Agnes langsung menyambutnya dan memberondong dengan banyak pertanyaan. Akan tetapi, Gatra justru tersenyum simpul dan mengatakan kalau semua baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
"Mas, tapi bagaimana dengan papa. Aku khawatir sama dia," ujar Agnes lirih. Jika berkaitan dengan sang papa maka Agnes akan selalu merasa khawatir.
"Kamu tenang saja. Bukankah papamu adalah lelaki yang hebat dan selalu bisa mengatasi setiap masalah. Doakan saja beliau di sana selalu dilindungi dan semoga urusannya pun segera selesai," kata Gatra berusaha menenangkan hati Agnes.
Mulut Agnes terbungkam rapat. Namun, dalam hatinya tidak lepas dari doa-doa yang dipanjatkan untuk keselamatan sang papa. Ia berharap, semua segera selesai dan mereka bisa kembali berkumpul.
***
Janu duduk di sebuah kursi tunggal dengan gaya angkuhnya. Ia menatap Selly yang terduduk di depannya dengan tubuh terikat. Bahkan, mulut Selly sudah ditutup dengan kain hingga membuat wanita itu tidak bisa berbicara apalagi berteriak.
Melihat Selly yang terus berusaha melepaskan diri, membuat Janu tersenyum sinis. Ia pun segera maju dan merem*s dagu wanita itu dengan sangat kuat. Kening Selly sampai mengerut dalam karena merasakan sakit.
__ADS_1
"Jadi, kamu yang sudah berani mengganggu rumah tangga anakku," kata Janu. Nada bicara biasa, tetapi terdengar tegas dan begitu mengintimidasi.
"Ingat ucapanku. Kalau sampai kamu berani melukai putriku ataupun anak menantuku maka aku tidak akan pernah tinggal diam. Aku akan memberi kamu pelajaran yang sangat berharga. Hahaha." Janu tertawa jahat. Ia bahkan menatap Selly dengan tatapan yang susah dijelaskan hingga membuat Selly bergidik ngeri.
Janu terlihat seperti iblis menurutnya.
"Camkan ucapanku baik-baik! Dan jangan pernah sekalipun mencoba melukai putriku lagi karena apa pun yang kamu lakukan maka aku akan mengetahuinya!" Janu dengan kasar menghempaskan dagu wanita itu.
Tidak peduli meskipun Selly sudah berusaha meminta ampun. Janu justru menyuruh anak buahnya untuk membawa Selly ke tempat paling terpencil. Tempat yang menurutnya sangat pas untuk wanita itu.
Setelah kepergian mereka, Janu pun menghempaskan tubuhnya di kursi lagi dan mengusap wajahnya secara kasar. Ia justru terlihat seperti orang yang sedang frustrasi.
"Ya Tuhan, semoga tidak ada lagi orang yang akan menyakiti putriku. Aku tidak ingin jika sisi jahatku kembali mencuat ke permukaan. Sudah cukup dulu aku melakukan dosa besar dan untuk saat ini aku ingin merasakan hidup bahagia bersama putriku, anak menantu, dan cucuku kelak."
Janu mendes*hkan napas ke udara secara kasar. Setelah merasa tenang, Janu pun mengabari Gatra bahwa semua sudah beres dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.
__ADS_1