Seperti Menikahi Bocah

Seperti Menikahi Bocah
SMB 16


__ADS_3

"Kenapa kamu berbicara seperti itu? Kamu tidak sayang sama papa lagi?" tanya Janu. Tatapannya ke arah Agnes menyorotkan sebuah kekecewaan.


"Justru karena aku sayang sama Papa. Aku tidak mau jauh dari Papa lagi." Agnes mengusap air mata yang masih terus mengalir.


"Sayang, dengarkan papa." Janu berdiri setengah jongkok dan menggenggam tangan putrinya sangat erat. Tatapan lelaki itu tidak bisa membohongi betapa besar rasa sayang yang dia miliki untuk Agnes.


"Sayang, mulai detik ini papa tidak akan meninggalkanmu lagi. Papa akan selalu berada di dekatmu apa pun keadaannya."


"Apakah Papa berjanji?" Agnes begitu menuntut jawaban. Dia takut sang papa hanya memberikan janji palsu padanya. Dengan cepat Janu mengangguk mengiyakan.


"Berterima kasihlah kepada Nona Etha. Karena kebaikan hatinya yang sudah memaafkan papa, mulai sekarang papa sudah bisa bebas. Nona Etha sudah memaafkan dan mengurus semuanya dengan baik," terang Janu.


"Apa Papa serius?" tanya Agnes belum percaya. Air mata yang barusan telah berhenti pun kini hendak mengalir lagi.


Agnes menoleh dan menatap Margaretha yang sedang menangis bersama sahabatnya. Namun, sebisa mungkin Margaretha memberikan senyuman kepada gadis itu.


"E-Etha." Agnes tidak mampu berbicara apa pun lagi. Lidahnya mendadak kelu saat itu juga. Dia melepaskan genggaman tangan sang papa lalu berlari mendekati Margaretha dan memeluknya erat.

__ADS_1


"Jangan menangis," perintah Margaretha. Meskipun wanita itu pun saat ini juga sedang menangis. Bukannya mereda, tangisan Agnes justru makin terdengar keras hingga membuat semua orang panik karena beberapa detik selanjutnya, Agnes tidak sadarkan diri. Janu pun merasa sangat takut dan dengan segera membopong Agnes keluar dari ruangan tersebut.


Acara kejutan yang sudah dipersiapkan sedemikan rupa, akhirnya harus tertunda karena mereka panik dan khawatir kepada Agnes.


***


Di sebuah ruangan rawat inap VVIP, Agnes terbaring tidak berdaya. Wajahnya sudah sangat pucat dan berbagai alat terpasang di tubuhnya. Dengan sangat berat Agnes berusaha membuka mata. Lalu lelaki paruh baya yang berdiri di samping brankar. Agnes mengembuskan napas lega karena pertemuannya dengan sang papa bukanlah sebuah mimpi. Dia pun langsung menggenggam tangan lelaki itu sangat erat.


"Jangan membuat papa khawatir padamu, Sayang." Janu mengusap wajah Agnes penuh kelembutan. Dalam hati kecil lelaki itu ada rasa cemas yang teramat dalam.


Agnes tidak menjawab, dia hanya tersenyum seolah menunjukkan semua baik-baik saja. Bahkan, ketika dokter datang memeriksa, Agnes hanya diam saja.


"Kamu mau apa, Sayang?" tanya Janu saat melihat pergerakan dari Agnes.


"Aku mau bicara dengan Etha, Pa." Suara Agnes terdengar lirih.


"Ingat, kamu harus banyak beristirahat. Nona Etha menunggu di depan ruangan." Janu khawatir Agnes akan kembali drop.

__ADS_1


Namun, saat melihat sorot mata Agnes yang begitu meminta, Janu pun dengan terpaksa keluar dari ruangan dan menyuruh Margaretha untuk segera masuk.


Langkah Margaretha terlihat cepat mendekati brankar. Bahkan, belum juga duduk, Margaretha sudah terlebih dahulu menggenggam tangan Agnes sangat erat. Gurat kekhawatiran jelas terlihat memenuhi wajah wanita itu.


"Ya Tuhan, Nes. Kamu membuatku sangat khawatir." Mata Margaretha berkaca-kaca. Merasa sedikit lega karena Agnes sudah terlihat lebih baik. "Jangan membuatku cemas lagi."


"Maafkan aku, Etha. Aku sudah membuatmu kecewa," kata Agnes lirih.


"Kecewa bagaimana?" tanya Margaretha bingung sendiri.


Agnes menghela napas panjang dan mengembuskan secara perlahan. "Kamu sudah menyiapkan pesta yang sangat meriah dan kejutan yang sangat luar biasa untukku, tapi aku justru mengacaukannya."


Margaretha mengusap puncak kepala Agnes penuh sayang. "Tidak masalah. Kesehatanmu lebih penting, Nes."


"Ada satu hal lagi, Etha." Agnes menatap Margaretha sangat lekat.


"Apa?" tanya Margaretha tidak sabar saat melihat Agnes hanya diam saja.

__ADS_1


"Kenapa kamu membebaskan papaku? Bukankah dia sudah sangat bersalah karena membunuh orang tuamu. Kenapa kamu sangat baik, Etha."


Margaretha hanya diam karena tidak tahu lagi harus menjawab apa.


__ADS_2