Seperti Menikahi Bocah

Seperti Menikahi Bocah
SMB 32


__ADS_3

"Gatra Mahardika! Kamu sangat menyebalkan!" 


Agnes yang kala itu sedang melakukan panggilan telepon pun, duduk menghempaskan tubuh di sofa. Bibirnya sudah menggerutu meskipun dalam hati merasa lega karena Gatra sudah menghubunginya. 


"Ya ampun, Nes. Suami baru telepon bukannya disambut dengan lembut. Hallo, Mas Gatra. Gitu kek, kamu malah langsung berteriak seperti di hutan," balas Gatra dari seberang telepon. 


"Habisnya kamu ngeselin! Aku dari tadi nunggu kabar kamu sampai tidak bisa tidur, tidak bisa makan, dan tidak bisa buang air besar juga," keluhnya. 


Gatra tergelak keras. "Kenapa? Apa kepergianku membuatmu menjadi sembelit?" 


"Ish! Tidak. Bukan begitu. Aku mau buang air besar, takut kamu telepon." 


"Tinggal kamu angkat saja teleponku atau kamu selesaikan saja buang air besarmu itu," kata Gatra santai. 


Agnes berdecak. "Aku tidak mau. Pokoknya aku tidak mau melewatkan telepon darimu dan aku juga tidak mau jika buang air besar sambil teleponan. Aku takut baunya akan sampai situ," celetuk Agnes. 

__ADS_1


Mengundang gelak tawa Gatra. Sungguh, lelaki itu merasa sangat gemas kepada istrinya dan hal inilah yang membuat Gatra merasa begitu rindu meskipun baru berpisah sebentar saja. 


"Em, Mas." Suara Agnes melirih. Gatra pun terdiam dan masih setia mendengarkan. "Apa di situ banyak wanita cantik?" tanyanya ragu. 


"Tentu saja. Memangnya kenapa?" Gatra balik bertanya tanpa sadar kalau hal itu mengundang kekesalan Agnes. 


"Itu artinya kamu cuci mata di situ. Kalau tahu seperti ini maka aku lebih baik ikut," kata Agnes. 


"Hei, kamu cemburu? Nes, dengarkan aku. Di sini aku bekerja. Membuka cabang restoran agar lebih maju. Aku mencari nafkah untuk kalian, kamu dan calon anak kita. Jadi, jangan berburuk sangka. Banyak wanita cantik di sini, tapi bagiku kamulah yang paling cantik karena kamu itu ratu di hatiku, Nes," rayu Gatra. 


Agnes tersenyum simpul. Pipinya sudah merona merah karena tersipu malu. Sungguh, Agnes merasa seperti melambung tinggi mendengar gombalan suaminya. 


"Aku tahu, pasti saat ini kamu sedang senyum sendiri orang gila, iya 'kan, Nes?" goda Gatra, tetapi hal itu membuat Agnes berdecak kesal. "Kamu sudah makan?" 


Krik krik krik 

__ADS_1


Tidak ada sahutan dari seberang telepon padahal Gatra sudah menunggu cukup lama. Bahkan, Gatra sudah memanggil Agnes, tetapi tidak ada sahutan sama sekali.


"Agnes," panggilnya lagi dengan cemas. Beberapa kali ia menatap layar ponsel karena mengira panggilan tersebut sudah terputus. Namun, ternyata tidak. Panggilan masih tetap terhubung. "Hallo, Agnes. Kenapa kamu diam saja?" 


Gatra masih terus berusaha memanggil, tetapi tetap tidak ada sahutan sama sekali. 


"Kamu belum tidur, Nes?" 


Gatra terdiam ketika mendengar suara Janu dari seberang telepon.


"Belum, Pa. Nanti dulu. Aku belum ngantuk," sahut Agnes. Membuat Gatra melongo mendengar jawaban Agnes. Sejak tadi, Agnes diam saja, tetapi kenapa ketika ditanya Janu, wanita itu langsung menjawab. Sungguh, Gatra tidak habis pikir dengan kelakuan istrinya.


Agnes terdengar mengobrol bersama Janu sampai melupakan bahwa ia sedang teleponan dengan Gatra. Ada rasa cemburu yang dirasakan Gatra ketika mendengar gelak tawa Agnes. Janu lah yang membuat wanita itu tertawa terbahak-bahak dan bukan dirinya. 


Tidak ingin menganggu mereka, Gatra pun memilih untuk mematikan panggilan tersebut tanpa berpamitan. Ia mendes*hkan napas ke udara secara kasar. Ia sekarang sadar bahwa sampai kapan pun tidak bisa menggantikan posisi Janu di hati Agnes. 

__ADS_1


"Hah! Setidaknya aku bisa merasa tenang meski di sini cukup lama karena ada yang menjaga Agnes dan aku yakin kalau Agnes tidak akan pernah merasa kesepian," gumamnya. 


Sebisa mungkin, Gatra ingin fokus dengan pekerjaannya untuk saat ini. 


__ADS_2