
Kening Agnes mengerut ketika sedang dalam perjalanan pulang, mobil yang dikemudikan Gatra tidak melaju menuju ke rumah Margaretha. Justru sangat berbeda arah. Ketika Agnes bertanya pada Gatra, lelaki itu hanya menjawab dengan sebuah deheman panjang. Membuat Agnes menaruh curiga dan khawatir kalau lelaki itu akan menculiknya.
"Kalau kamu tidak mau menjawab kita akan ke mana maka aku akan berteriak kalau kamu adalah seorang penculik." Agnes mengancam. Namun, Gatra hanya melirik tanpa membuka suara. Menambah kadar kekesalan Agnes kepada lelaki itu.
"To—" Teriakan Agnes tertahan saat mendengar ponselnya berdering. Gadis itu segera mengambil benda pipih dari dalam tas kecil dan segera menerima panggilan Margaretha.
Dengkusan kasar Agnes terdengar memecah keheningan di mobil. Raut wajahnya tampak malas dan bahkan gadis itu memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas dengan gerakan sedikit kasar hingga mengalihkan perhatian Gatra.
"Kenapa?" tanya Gatra. Kembali fokus pada setir kemudi ketika Agnes sudah menoleh ke arahnya.
"Tidak papa." Agnes bersandar dan menatap ke luar jendela.
"Katanya, kalau seorang wanita mengatakan tidak papa, itu berarti ada apa-apa. Bukankah begitu?"
"Kata siapa?" sela Agnes setengah ketus.
"Kata orang-orang. Itulah bahasa wanita. Di balik kata-kata singkat yang diucapkan, lelaki harus bisa menerjemahkannya."
__ADS_1
Mendengar ucapan Gatra, Agnes hanya bisa menghela napas panjang. Seolah mengeluarkan beban berat yang terasa menghimpit. "Aku cuma sedih aja. Etha sekarang berubah padaku."
"Berubah? Apa dia sekarang menjadi adik tiri yang kejam untukmu?" tanya Gatra.
Agnes menggeleng cepat. "Tidak. Aku merasa sejak tadi pagi Etha selalu cuek padaku. Aku tidak sarapan, aku bilang akan pulang malam, dia hanya bilang 'baiklah' saja. Padahal biasanya dia akan sangat cerewet."
"Mungkin, suasana hati Margaretha sedang tidak baik-baik saja. Terkadang bahkan kebanyakan orang seperti itu. Ketika sedang ada masalah atau hatinya tidak baik-baik saja maka dia akan cuek kepada orang lain," ujar Gatra.
"Iya, sih. Tapi aku merasa sedih aja." Agnes ingin sekali menangis, tetapi dia malu dan tidak ingin dicap sebagai anak yang cengeng.
"Jangan menangis, kamu bukan anak SD yang langsung menangis hanya karena masalah sepele."
Eh! Kebablasan mikirnya.
Kekehan Gatra pun terdengar mengeras. "Sebenarnya, bukan hanya wajahmu saja yang kelihatan seperti anak SD, tapi tingkahmu juga. Jika sedang menghadapimu, aku merasa seperti sedang menghadapi anakku."
"Astaga, kenapa kamu berbicara seperti itu. Kalau begitu kamu sangat tua karena sudah memiliki anak yang bersekolah SD," timpal Agnes.
__ADS_1
Gatra hanya mendes*hkan napas ke udara secara kasar. Sungguh, gadis ini sangat pintar sekali menjawab omongan orang lain.
Alis Agnes saling bertautan saat mobil yang dikemudikan Gatra tersebut berhenti di sebuah hotel mewah. Seketika pandangan Agnes menatap Gatra curiga. Namun, Gatra tetap saja terlihat sangat santai.
"Kenapa kamu membawaku ke hotel? Jangan bilang kamu akan memperkosaku," tukas Agnes. Memegang bajunya erat-erat.
Gatra tidak menjawab hanya menyuruh gadis itu agar segera turun. Namun, Agnes tidak mau dan tetap bersikukuh duduk di tempatnya.
"Lepaskan aku! Tolong!" Agnes memukuli punggung Gatra karena lelaki itu sudah memanggulnya seperti kantong beras.
Gatra tidak peduli, tetap melangkah lebar masuk ke hotel tersebut meskipun banyak pasang mata yang tertuju ke arahnya. Tidak ada yang berani melarang ataupun menahan langkah Gatra karena sebelumnya anak buah Pandu sudah berjaga di depan sana.
"Turunkan aku! Jangan perkosa aku. Tolonglah. Kalau kamu memang mau memperkosaku jangan seperti ini caranya. Lebih baik aku pasrah saat kamu gagahi daripada dipaksa justru sakit raga dan batinku."
Langkah Gatra terhenti saat mendengar ucapan Agnes yang begitu ngawur.
"Astaga. Kamu bilang apa, Nes? Kamu akan pasrah saat diperkosa Mas Gatra!"
__ADS_1
Kedua bola mata Agnes melebar sempurna saat mendengar suara Margaretha yang sangat tidak asing untuknya. Dia pun segera turun dan berbalik. Betapa terkejutnya Agnes karena dirinya sekarang sedang berada di ballroom yang sudah didekor sedemikian rupa.
"I-Ini ada acara apa?"