Seperti Menikahi Bocah

Seperti Menikahi Bocah
SMB 30


__ADS_3

Gatra ingin sekali berteriak kencang karena setiap hari harus menahan kekesalan akibat sikap Janu yang benar-benar over-protektif. Banyak sekali larangan dari lelaki itu hingga membuat Gatra kesal sendiri dan merasa terkekang karenanya. 


"Kamu mau apa ke sini?" tanya Agnes ketika melihat Gatra masuk ke kamar dan mengunci pintu. Bahkan, dengan gegas Gatra segera naik ke atas ranjang dan merebahkan diri di samping istrinya. 


"Tentu saja berduaan dengan istriku, memangnya tidak boleh?" sahut Gatra cepat. Ia pun beralih merebahkan kepala di paha Agnes yang kala itu sedang sibuk bermain ponsel. 


"Ya Tuhan, apa kamu tidak dengar perintah papa untuk tidak bersamaku sampai trisemester pertama selesai?" keluh Agnes. Membuat Gatra merasa kesal, tetapi ia berusaha meredamnya. 


"Apa kamu tidak ingin memelukku? Padahal aku sangat ingin berduaan denganmu." Gatra balik bertanya. Namun, Agnes tidak langsung menjawab. "Biarkan aku memeluk kamu sebentar saja. Aku pun ingin menyapa anak kita." 


Gatra melingkarkan tangan di perut Agnes dan beberapa kali menciumi perut Agnes yang sudah mulai kelihatan membuncit. Gatra menyapa calon buah hati mereka. Agnes yang mendengarnya pun hanya bisa terpaku. Jujur, ia merasakan sebuah perasaan lain. Sangat nyaman. Sangat berbeda ketika perutnya disentuh oleh Janu. 


"Biarkan malam ini aku tidur di sini. Aku janji, tidak akan mengajakmu bercinta." Gatra menatap Agnes penuh memohon. 


"Tapi nanti kalau papa—"


"Papamu tidak akan tahu selama kamu diam. Aku akan keluar kamar sebelum papamu bangun," kata Gatra. Agnes pun hanya bisa mengiyakan.


Kemudian, kedua orang itu tidur saling berpelukan. Lagi-lagi, Agnes merasa heran karena ia merasa nyaman dengan pelukan itu bahkan malam ini ia bisa tidur dengan tenang. Padahal biasanya ia selalu gelisah ketika tidur tanpa Gatra. 

__ADS_1


***


"Gatra, apa kamu marah jika papa di sini?" tanya Janu saat ia sedang duduk mengobrol bersama Gatra. Tanpa ada Agnes di sana karena wanita itu sudah terlelap tidur. 


"Tidak, Pa. Untuk apa aku marah," sahut Gatra lirih. Ia memang tidak marah dengan kehadiran Janu, tetapi ia hanya merasa tidak nyaman. Apalagi Janu selalu saja mengaturnya. 


"Barangkali kamu marah. Tra, Agnes itu harta berharga yang papa miliki. Jadi, papa ingin menjaga dengan sepenuh hati. Kamu tahu itu bukan?" Janu terus menatap Gatra. 


"Iya, Pa. Aku tahu itu." Gatra mulai terlihat malas meskipun ia berusaha terlihat biasa saja. 


"Jadi, apa pun keputusan yang papa ambil, papa harap kamu mau mengerti. Papa juga melakukan semuanya demi untuk kebahagiaan putri papa." Janu duduk bersandar, sedangkan Gatra hanya bisa menghela napas panjang. "Bahkan, tanpa kamu, papa juga bisa menjaga Agnes dengan sangat baik." 


Deg! 


"Apa maksud papa, selama ini aku tidak bisa menjaga Agnes dengan baik?" tanya Gatra setengah kesal. 


"Bukan begitu," sanggah Janu. 


"Lalu?"

__ADS_1


Kali ini, Janu hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan Gatra. 


"Pa, jujur aku senang karena ada yang menjaga Agnes. Aku sungguh sangat berterima kasih kepada papa. Maaf, kalau selama ini aku tidak bisa menjadi menantu yang baik bahkan aku juga belum bisa menjadi yang terbaik untuk Agnes. Aku sungguh minta maaf, Pa." Gatra berbicara sopan. Ucapannya halus, tetapi penuh sindiran. 


"Maaf, Tra. Mungkin papa sangat mengekang, tetapi kamu harus tahu bahwa Agnes adalah ratu di hidup papa. Dari dulu bahkan sampai papa mati nanti. Bagi papa, Agnes adalah segalanya." Janu menghela napas panjang. Dalam hati terbesit rasa tidak tega atas apa yang ia lakukan kepada Gatra, tetapi Janu pun ingin yang terbaik untuk putrinya. 


"Pa, tidak apa. Aku justru senang jika nanti aku pergi. Aku bisa pergi dengan tenang karena ada yang menjaga Agnes dengan baik," kata Gatra lirih. 


"Kamu mau pergi ke mana, Tra?" tanya Janu tidak sabar. 


"Lusa, aku ada perjalanan ke luar kota karena akan membuka cabang di sana, Pa. Kemungkinan satu bulan." 


"Dengan siapa kamu pergi?" tanya Janu curiga. 


"Andra. Tapi, Andra hanya mengantar saja karena di sana nantinya aku yang mengurus, Pa," sahut Gatra. 


"Baiklah. Kamu hati-hati di sana dan semoga usahamu itu bisa sukses seperti sebelumnya," kata Janu. Menepuk pundak anak menantunya. 


"Terima kasih, Pa. Kalau begitu aku mau istirahat dulu." Gatra pun bangkit berdiri dan bergegas ke kamar sendiri. Untuk dua hari ini, ia akan tidur bersama Agnes meskipun Janu terus melarangnya. 

__ADS_1


Gatra tersenyum simpul ketika melihat Agnes yang sedang terlelap. Lalu ia mendaratkan ciuman di puncak kepala wanita itu. 


"Sebentar lagi kita pasti akan saling merasakan rindu. Aku yakin kita bisa melewati semuanya dan kuharap kamu bisa menjaga calon buah hati kita dengan baik selama aku pergi." Gatra memejamkan mata dan makin memperdalam ciuman tersebut sebelum akhirnya ia ikut merebahkan diri di samping Agnes dan memeluk wanita itu dengan erat. 


__ADS_2