
Gatra rasanya sudah tidak sabar ketika mobilnya baru saja masuk ke pelataran rumah. Ia yakin Agnes pasti akan merasa senang karena mendapat kejutan. Dengan tidak sabar, Gatra segera turun dari mobil dan berjalan masuk ke rumah.
Tujuan pertamanya adalah kamar miliknya. Namun, ketika baru sampai di ruang tamu, Gatra dikejutkan dengan keberadaan Janu yang sedang duduk tenang di ruang tamu. Tatapan mata lelaki itu terlihat sedikit menajam, tetapi Gatra tidak lagi terlalu takut dengan papa mertuanya.
"Papa belum tidur?" tanya Gatra berusaha terlihat santai.
"Sudah tadi meski cuma sebentar. Papa memang sedang sengaja menunggu kepulanganmu." Suara Janu terdengar tegas dan begitu menuntut. "Duduklah. Sebelum bertemu Agnes maka kamu harus menjelaskan semuanya kepada papa."
"Menjelaskan apa, Pa?" tanya Gatra bingung. Ia pun mendudukkan bokongnya di depan Janu.
Tanpa berbicara, Janu menunjukkan ponselnya kepada Gatra. Untuk menunjukan foto yang ia dapatkan dari Agnes. Gatra tersentak ketika melihatnya. Bahkan, ia sampai memandang bingung ke arah Janu.
"Pa-Papa dapat dari siapa foto seperti ini?" tanya Gatra tergagap. Ia merasa khawatir jika Janu akan salah paham padanya.
"Kamu hanya perlu menjelaskan saja, Tra. Papa dapat dari mana, sepertinya itu bukan hal yang penting," sahut Janu tenang. Ia mengangkat sebelah kaki dan menindihkannya ke kaki yang satunya sambil mengusap dagu.
"Kuharap papa tidak pernah salah paham dengan foto ini. Aku yakin, ada seseorang yang berniat menghancurkan rumah tanggaku," ujar Gatra. Berusaha mengingat kapan ia memakai kemeja seperti dalam foto itu.
__ADS_1
"Kamu memiliki musuh?" tanya Janu. Namun, Gatra menggeleng dengan cepat.
"Kalau begitu, lebih baik sekarang kamu ke kamar dan jelaskan semuanya kepada Agnes. Dia terus menangis sejak tadi. Ingat, Tra. Kalau sampai kamu menyakiti putriku maka papa ...."
"Aku tahu, Pa. Kalau begitu aku akan ke kamar sekarang."
Gatra bangkit berdiri dan meninggalkan Janu begitu saja. Ia tidak mau mendengar ancaman papa mertuanya yang membuat hatinya merasa terusik. Janu pun hanya diam dan melihat punggung anak menantunya yang perlahan lenyap dari pandangan.
***
Gatra baru saja masuk kamar dan ia tersenyum simpul ketika melihat istrinya yang sudah tertidur lelap. Dengan perlahan Gatra naik ke atas ranjang dan menciumi puncak kepala Agnes dengan penuh kasih sayang. Hal itu sama sekali tidak membuat Agnes terbangun dari tidurnya. Gatra pun mendaratkan ciumannya lagi, sebelum akhirnya ikut merebahkan diri di samping istrinya.
"Siapa kamu! Berani sekali kamu ada di sini? Tidakkah kamu tahu kalau aku adalah wanita yang sudah bersuami." Agnes terus saja mendaratkan pukulannya di punggung Gatra tidak peduli meskipun Gatra sudah meringis kesakitan.
"Nes, ini aku aku." Gatra berbalik dan langsung mencekal tangan Agnes dengan erat. "Ini aku. Gatra. Suamimu."
Agnes menutup rapat mulutnya dan menatap Gatra dengan seksama. "Apakah aku tidak sedang bermimpi?"
__ADS_1
"Tidak. Ini memang aku, apa kamu tidak merindukanku, hm?" Gatra mulai tersenyum menggoda apalagi ketika melihat Agnes mengerucutkan bibir.
Ia rasanya sangat rindu dengan wanita itu.
"Lepaskan aku! Aku marah denganmu!" Agnes melepaskan genggaman Gatra dan langsung bersedekap erat.
"Kenapa? Apa aku ada salah denganmu?" Gatra memasang wajah memelas hingga membuat Agnes mulai menaruh simpati.
"Tega sekali kamu selingkuh di belakangku dan ...."
Agnes langsung diam karena Gatra sudah mencium bibirnya. Bahkan, Gatra sedikit memberi lum*tan hingga membuat Agnes terbuai. Namun, ketika Agnes mulai mengimbangi permainan Gatra, lelaki itu justru menyudahinya.
"Aku akan jelaskan semuanya," ujar Gatra lirih.
"Kenapa kamu berhenti? Apa kamu tidak ingin menjenguk calon buah hatimu?" Agnes berdecak, tetapi Gatra justru tersenyum senang karena mengerti dengan kode yang diberikan Agnes.
"Baiklah, aku akan menjenguk calon anak kita dulu, barulah aku akan menjelaskan semuanya," kata Gatra.
__ADS_1
Ia kembali mencium lembut bibir istrinya. Agnes pun menerima. Ia memang kesal kepada Gatra, tetapi ia juga sudah sangat ingin disentuh oleh lelaki itu.