
"Kamu tidak memakan sarapanmu?" tanya Gatra saat dirinya sudah mulai mengunyah sarapannya, tetapi Agnes justru tetap diam dan betah bersedekap sejak tadi. Sepertinya Gatra harus merayu agar gadis itu tidak merajuk lagi.
"Tidak! Aku malas sekali dengan pria menyebalkan sepertimu." Agnes melengos, bibirnya masih mengerucut. Demi apa pun, Gatra ingin sekali tertawa dengan tingkah kekanakan gadis yang sudah seharusnya dewasa.
Gadis ini benar-benar seperti anak kecil.
"Baiklah. Kalau kamu tidak mau makan maka biarkan aku habiskan semuanya. Kebetulan sekali aku sedang sangat kelaparan." Gatra hendak mengambil sepiring nasi yang ada di depan Agnes, tetapi dia terkejut dengan gerakan tangan Agnes yang sangat cepat mengambil piring tersebut terlebih dahulu. Bahkan, tangan kiri Agnes mengambil sepiring lauk yang berada di dekatnya lalu mengangkat tinggi.
"Ini punyaku! Kamu tidak boleh memakan ini!" kata Agnes ketus.
"Loh, bukannya kamu bilang tidak ingin makan ini? Mana biar aku yang makan saja. Daripada mubazir." Gatra berpura-pura hendak mengambil piring tersebut, tetapi Agnes langsung menjauhkan lebih tinggi.
Gatra tak gentar dan makin maju untuk menggoda Agnes, bersikap seolah hendak meminta makanan tersebut. Namun, tiba-tiba Gatra tersentak saat Agnes terjatuh dari kursinya karena tidak bisa menyeimbangkan diri. Piring berisi makanan itu pecah dan berhamburan. Beberapa orang yang ada di dalam restoran itu pun sampai mengalihkan perhatian ke arah mereka.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Gatra khawatir. Dia membantu Agnes untuk bangkit. Agnes hanya diam dan terisak lirih. "Apa ada yang terluka?" Gatra melihat Agnes dari atas sampai bawah. Memastikan tidak ada yang bagian tubuh gadis itu yang terluka.
__ADS_1
"Mohon maaf ini ada apa?" tanya seorang karyawan yang berjalan mendekat. Bahkan, disusul oleh karyawan yang lain karena mereka khawatir ada keributan.
Bukannya menjawab, Agnes justru berdiri di balik tubuh Gatra dan memegang lengan lelali itu secara kuat-kuat. Bahkan, Gatra sedikit meringis karena cengkeraman tersebut.
"Papa ... aku takut." Agnes bergumam lirih sembari menangis. Gatra pun berbalik dan khawatir melihat air mata Agnes yang sudah membasahi seluruh wajah gadis itu. Bahkan, para karyawan restoran tadi pun ikut terheran-heran.
"Hei, kenapa kamu menangis? Apa ada tubuhmu yang terluka?" Gatra memegang kedua bahu Agnes dan menatapnya dalam. Agnes menggeleng lemah tanpa melirihkan isakannya. "Lalu kenapa kamu menangis?"
"A-aku takut dimarahi," sahut Agnes lirih. Jemarinya saling merem*s dan tubuh gadis itu juga terlihat gemetaran. "Aku sudah memecahkan piring ini. Aku takut dimarahi mereka. Sementara saat ini aku belum punya uang untuk menggantinya."
"Tidak apa. Biar aku yang menggantinya nanti. Bahkan, kalau kamu mau memecahkan lagi pun aku akan menggantikannya juga. Tidak perlu khawatir," kata Gatra. Mengusap punggung Agnes untuk menenangkan gadis itu.
Tangisan Agnes yang barusan terdengar keras pun kini mulai melirih. Bahkan, hanya tinggal isakan lirih saja yang terdengar. Setelah merasa tenang, Agnes segera melepaskan pelukan itu dan menghapus air matanya dengan cepat.
"Kamu yakin akan mengganti piring yang pecah ini agar aku tidak dimarahi mereka?" tanya Agnes penuh harap. Sorot mata gadis itu tampak memancarkan binar kebahagiaan. Membuat Gatra tersenyum seolah ikut merasakan kebahagiaan itu.
__ADS_1
"Tentu saja." Gatra menjawab cepat.
"Yee!!" Agnes bersorak kegirangan persis seperti anak kecil. Hal itu sontak membuat para karyawan tadi terkekeh melihat tingkah Agnes yang begitu menggemaskan. "Kamu memang baik hati," pujinya.
"Tentu saja. Bukankah sejak dulu aku ini sangat baik hati?" Gatra menepuk dada tanda bangga. "Tapi ingat, aku akan memotong gaji pertamamu nanti untuk mengganti rugi semua ini," lanjutnya.
"What! Kamu benar-benar gila! Aku menarik kembali ucapanku. Kamu tidak baik, tapi menyebalkan dan juga perhitungan!" Agnes berkacak pinggang dan menatap Gatra penuh kekesalan. Bahkan, Agnes sudah merem*akan tangannya di depan wajah Gatra.
"Ini namanya bisnis," timpal Gatra disertai tawa.
"Aku sebel sama kamu." Agnes berjalan menghentak menuju ke pintu hendak keluar dari restoran itu.
"Kamu tidak jadi sarapan?" Gatra berteriak karena Agnes sudah berdiri di ambang pintu. Mendengar teriakan itu, Agnes pun berbalik dan mendelik ke arah Gatra. Sampai-sampau bola mata gadis itu seperti akan lepas dari tempatnya.
"Tidak! Aku marah sama kamu. Nanti kalau aku sarapan, kamu akan memotong gajiku lagi. Lalu bisa-bisa aku sebulan tidak gajian dan hanya kerja ikhlas di tempat kamu. Dasar bos menyebalkan!" omel Agnes panjang lebar. Gadis itu pun akhirnya keluar dari restoran tanpa peduli lagi apabila Gatra masih terus memanggil.
__ADS_1
Ya Tuhan, benar-benar seperti bocah. Seandainya aku dan dia menikah nanti, mungkin aku akan merasa seperti punya anak, bukan istri.