Seperti Menikahi Bocah

Seperti Menikahi Bocah
SMB 19


__ADS_3

"Sayang, papa bukannya tidak sayang kamu lagi, tapi papa hanya khawatir. Tidak selamanya papa ada di samping kamu. Cepat atau lambat setiap orang pasti akan mengalami perpisahan." Janu mengusap puncak kepala putrinya dengan sangat lembut. Nada suara lelaki itu terdengar sangat berat.


"Aku tidak mau berpisah dari papa. Kalau papa pergi maka aku akan ikut pergi," ucap Agnes. Memeluk sang papa sangat erat dan seperti tidak akan dilepaskan lagi.


"Papa juga, Sayang. Tapi kamu tetap harus mencari pendamping hidup. Biar ada bisa menjaga kamu ketika papa tidak disampingmu. Selain itu, kamu juga sudah waktunya menjadi gadis dewasa." Janu berbicara pelan agar tidak menyinggung perasaan putrinya. "Dan papa sudah punya calon yang sepertinya pas untukmu."


Agnes mendongak. Menatap sang papa. "Calon untukku? Siapa?"


"Gatra Mahardika."


Agnes langsung melepaskan pelukan sang papa dan menatap lelaki itu sangat lekat. Masih sangat tidak percaya dengan sang papa yang hendak menjodohkannya dengan Gatra. Bahkan, Agnes sampai bertanya kembali untuk menyakinkan kalau ucapan Janu bukanlah sekadar main-main.


"Pa—"


"Papa tidak menerima penolakan, Sayang. Kamu jangan khawatir. Papa akan ada selalu di sekitarmu jadi kalau Gatra menyakitimu maka papa akan bertindak cepat. Papa melakukan ini untuk kebaikanmu." Janu berkali-kali mengecup puncak kepala putrinya.

__ADS_1


Agnes pun hanya diam pasrah karena tidak bisa lagi menolak. Sejak dulu, sang papa lah yang selalu memberi keputusan dan Agnes sudah paham kalau sang papa sudah mempertimbangkan dengan matang semua keputusannya. Lelaki itu tidak akan pernah mengambil keputusan secara asal.


"Baiklah." Hanya itu kata yang mampu terucap dari mulut Agnes. Senyum Janu merekah sempurna dan lelaki itu terus saja memberi ciuman di wajah putrinya.


***


"Apa yang akan kamu bicarakan?" tanya Gatra kepada Agnes. Mereka berdua saat ini sedang berada di sebuah taman. Duduk santai sambil menatap orang-orang yang sedang berlalu lalang.


"Em ...." Agnes terdiam karena merasa ragu. Gatra pun menoleh dan menatap gadis itu sangat lekat. "Ish! Jangan melihatku seperti itu. Aku takut kamu akan terpesona pada kecantikanku."


"Mana mungkin aku terpesona pada gadis sepertimu. Mungkin kamulah yang akan terpesona padaku."


"Pede amat," gumam Agnes lirih. Namun, masih bisa didengar dengan baik oleh Gatra.


"Kamu bilang apa?" tanya Gatra.

__ADS_1


"Tidak." Agnes menggeleng cepat. "Aku hanya ingin bertanya padamu. Apakah papaku sudah berbicara hal penting padamu?"


"Hal penting seperti apa contohnya? Aku jarang sekali mengobrol dengan papamu." Gatra merebahkan tubuh di atas rumput dan menjadikan kedua lengan sebagai bantalan.


"Ya Tuhan, kenapa kamu sangat menyebalkan!" protes Agnes. "Apakah papa sudah membicarakan soal pernikahan padamu?" Agnes menahan rasa geram kepada Gatra yang justru tersenyum miring. Sepertinya lelaki itu sengaja menggoda Agnes.


"Oh, soal itu. Semua sedang dipersiapkan. Jadi, kamu tenang saja dan diusahakan dua Minggu lagi semua sudah selesai."


"Du-dua Minggu lagi?" Agnes menyela ucapan Gatra.


"Iya, pernikahan kita akhir bulan nanti. Memangnya Tuan Janu tidak berbicara kepadamu kapan acaranya digelar?" Gatra balik bertanya. Menatap Agnes yang sedang menggeleng lemah.


"Sepertinya memang papa sudah siap untuk melepaskan aku jatuh ke pelukan lelaki lain." Agnes mendes*hkan napas ke udara secara kasar. Bahkan, matanya tampak berkaca-kaca. Gatra yang menyadari itu pun langsung mengusap rambut Agnes sangat lembut.


"Jangan bilang seperti itu. Keputusan papamu memang terbaik dan aku akan berusaha menjadi ayah yang baik untukmu," celetuk Gatra. Agnes pun menoleh dan menatap heran ke arah Gatra yang sedang terkekeh.

__ADS_1


__ADS_2