
Ternyata tidak mudah menjalani kehidupan yang sekarang bagi Gatra. Selain harus bersabar menghadapi Agnes yang ngidam, Gatra juga harus menghadapi Janu yang sangat over-protektif terhadap Agnes. Bahkan, terkadang membuat Gatra tidak betah.
"Aku mau ini, Pa. Sepertinya ini sangat enak."
Gatra yang kala itu baru pulang bekerja hanya berdiri di belakang sofa dan menatap Agnes yang sedang duduk bermanja kepada papanya. Agnes terlihat menyandarkan kepala dan Janu merangkulnya mesra.
Hal yang sangat ingin dilakukan Gatra, tetapi tidak bisa karena Agnes selalu saja menempel dengan sang papa. Apalagi sekarang Janu sudah tinggal bersama mereka.
"Nanti, akan papa belikan, Sayang. Kamu mau apa lagi?" tanya Janu lembut. Mereka belum menyadari kehadiran Gatra di sana.
"Em, yang mana lagi yang enak, ya." Agnes mengetuk dagu sambil berpikir. Janu pun mencium kening Agnes saking gemasnya.
"Sayang, kamu sekarang jangan hanya makan enak, tapi yang paling penting itu makanan sehat. Kamu harus memberi nutrisi yang baik untuk calon buah hatimu ini," kata Janu memberi nasehat.
"Tentu saja. Bukankah dari dulu selalu seperti itu? Papa harus selalu memastikan kalau makanan yang aku makan itu paling penting harus menyehatkan," ujar Agnes, sedikit mendongak.
__ADS_1
"Pasti. Apa pun pasti akan papa lakukan demi kebaikan kamu, Sayang."
"Terima kasih, Pa. Papa memang lelaki terbaik yang aku punya. Aku sayang sekali sama papa." Agnes mencium pipi Janu, tetapi ia terkejut ketika menoleh ke belakang melihat keberadaan Gatra di sana. Agnes pun langsung bangkit berdiri dan berjalan mendekati Gatra.
"Kamu baru pulang?" tanya Agnes antusias. Gatra mengangguk cepat disertai senyum paksa. "Apa kamu lelah?"
"Tidak. Aku sudah tidak lelah. Memangnya kenapa?" Gatra hanya berdiri di depan Agnes. Padahal, lelaki itu ingin sekali memeluk istrinya dan menyapa calon buah hati mereka. Namun, ia merasa canggung karena ada mertuanya yang sejak tadi terus menatap ke arahnya.
"Aku mau makan ini. Sepertinya enak. Apa kamu mau membelikan untukku? Em, untuk calon anak kita maksudku," pinta Agnes. Menunjukkan wajah memelas hingga membuat Gatra merasa tidak tega.
"Baiklah. Tunggu di sini sebentar. Aku belikan untukmu." Gatra berbalik dan kembali ke luar rumah. Ia akan mencari apa yang diminta Agnes meskipun sebenarnya tubuhnya sangat lelah. Ia tidak mungkin menolak keinginan calon buah hatinya itu.
***
Rasa lelah dan kesal yang dirasakan Gatra seketika menghilang ketika melihat Agnes yang sedang makan dengan antusias. Senyum Gatra pun tidak bisa membohongi jika ia sedang bahagia saat ini. Dalam hatinya pun, Gatra berdoa semoga istri dan calon buah hati mereka diberi kesehatan dan keselamatan sampai lahiran nanti.
__ADS_1
"Tra, ada yang ingin papa bicarakan sama kamu," ujar Janu. Menatap Gatra ragu.
Perasaan Gatra pun mendadak tidak nyaman.
"Kenapa, Pa?" tanya Gatra.
"Em, karena selama semester pertama kalian tidak diperbolehkan berhubungan badan maka papa berharap kamu mau tidur terpisah dengan Agnes."
"Kenapa begitu, Pa?" Gatra bertanya cepat dan penuh penekanan. Ia sungguh tidak menyangka dengan keinginan Janu.
"Papa hanya khawatir kamu akan khilaf. Bagaimanapun juga papa ingin menjaga putri dan calon cucu papa. Jadi, papa harap kamu tidak pernah keberatan melakukan itu." Janu menatap Gatra dengan sorot mata menajam.
Gatra mendes*h kasar, tetapi tidak ada yang bisa dilakukan setelahnya selain mengiyakan permintaan papa mertuanya. Gatra hanya bisa menyanggupi apalagi Agnes pun tidak menolaknya sama sekali.
Beberapa kali Gatra menghela napas ketika masuk ke kamar tamu, sedangkan Janu tidur di samping kamar Agnes untuk menjaga wanita itu.
__ADS_1
"Ya Tuhan, ternyata aku harus sangat bersabar sejak sekarang."
Tak ingin ambil pusing untuk waktu sekarang ini, Gatra memilih untuk merebahkan diri dan berusaha tidur walaupun ia tidak yakin bisa tidur dengan baik atau tidak tanpa ada Agnes di sisinya.