Seperti Menikahi Bocah

Seperti Menikahi Bocah
SMB 25


__ADS_3

Agnes terus bersedekap kesal. Bibirnya mengerucut dan hal itu seperti sebuah kebiasaan ketika Agnes sedang menginginkan sesuatu. Gatra yang sedang fokus pada setir kemudi pun langsung menoleh sekilas ke arah istrinya.  


"Kamu mau apa? Aku sudah mengantar ke tempat papa, bukan? Atau kamu  mau menginap di sana?" tanya Gatra bingung. Tidak ada angin, tidak ada hujan, adanya cahaya lampu sebagai penerang kegelapan. Eh! Agnes tiba-tiba merajuk. 


"Tidak. Aku bukannya mau menginap di rumah papa," sanggah Agnes menatap suaminya kesal. Makin menambah kebingungan Gatra. 


"Lalu?" 


"Aku mau beli martabak manis. Yang manisnya seperti aku," kata Agnes percaya diri. 


"Cih!" Gatra berdecih sambil tersenyum lebar. "Pede sekali," imbuhnya sambil tersenyum meledek. 


"Kenapa? Kamu tidak terima kalau aku ini manis? Bilang saja kalau kamu iri. Iri? Bilang, Bos!" kata Agnes. 


Gatra pun tak kuasa menahan tawanya. Apalagi melihat Agnes yang mendadak kesal karena mengira ia sedang meledek. Makin membuat Gatra merasa gemas kepada wanita itu. 


"Aku mau martabak. Martabak! Martabak!" teriak Agnes sambil memukuli dashboard. 


Sungguh, teriakan Agnes itu mampu membuat kepala Gatra menjadi pusing. Bahkan, gendang telinganya seperti akan pecah. 

__ADS_1


"Sudah, hentikan. Baiklah kita akan membeli martabak, tapi kamu harus diam! Jangan berbicara sedikit pun atau aku tidak akan menuruti kemauanmu," perintah Gatra sambil memberi ancaman. 


Agnes mengangguk cepat dan menutup rapat mulutnya lalu sibuk bermain ponsel. Gatra pun mengembuskan lega karenanya. Namun, baru dua menit berlalu, Gatra sudah merasakan kesepian. Lebih sepi dari kuburan apalagi hati para jomlowati dan jomlowan. Wkwkw 


Sesekali Gatra menoleh ke samping dan melihat Agnes yang sedang sibuk scroll layar ponsel. 


"Selain martabak, kamu mau beli apa? Aku tidak mau kalau sudah sampai rumah kamu baru memintanya." Gatra bertanya, tetapi tidak ada sahutan sama sekali dari Agnes. Wanita itu terus saja menatap layar ponsel. 


"Hei, kenapa kamu diam saja?" Gatra mulai kesal. Ia pun menepikan mobilnya tidak jauh dari penjual martabak di depan. Lalu merebut ponsel Agnes dengan cepat. 


Agnes mendongak, lalu hendak meminta ponsel tersebut, tetapi Gatra dengan cepat menjauhkan ponsel tersebut hingga Agnes menghentakkan kaki karena kesal. 


"Kenapa? Aku hanya menuruti perintah untuk tidak berbicara satu kata pun. Aku tidak mau kita gagal memberi martabak," ucap Agnes. Seperti kereta lewat yang tidak berjeda. 


"Tapi sekarang kamu berbicara sepanjang itu, bukan?" Gatra tersenyum licik. Agnes pun menutup mulut dan memukul dada bidang Gatra setelahnya.


"Kamu menyebalkan! Pokoknya aku mau beli martabak! Titik! Tidak pakai koma." 


"Apa? Tidak pakai celana? Siapa yang tidak pakai celana?" seloroh Gatra. Makin membuat Agnes merasa kesal. 

__ADS_1


"Gatra Mahardika!!!" Agnes menjerit, tetapi terdiam setelahnya ketika Gatra sudah mencium bibirnya lembut bahkan sedikit melum*tnya. 


Awalnya Agnes hanya diam, tetapi ia pun membalas ciuman Gatra. Namun, itu hanya sesaat karena Gatra sudah melepaskan ciuman mereka. Membuat Agnes merasa sedikit kecewa karena jujur ia mulai kecanduan bibir Gatra.


"Kita lanjutkan nanti setelah sampai di rumah. Sekarang kamu tunggu di sini, aku belikan martabaknya dulu." Gatra memberikan ponsel Agnes kembali lalu hendak keluar dari mobil. Namun, Agnes menahannya dengan cepat. 


"Aku mau ikut," kata Agnes merengek. 


"Tunggu di sini saja. Aku hanya sebentar," tolak Gatra. 


"Aku tidak mau. Pokoknya aku mau ikut." 


Agnes mulai merajuk dan Gatra hanya mendengkus kasar karenanya. 


"Tunggu di sini saja. Aku hanya sebentar Agnesia Rebecca Januar, Sayang." Gatra menekankan kata 'sayang' sambil menggerutukkan gigi karena kesal kepada Agnes yang ngeyel. 


"Aku mau ikut, Gatra Mahardika, Cintaku." Agnes membalas asal, tetapi mampu membuat Gatra terbengong beberapa saat. "Cintaku sekonyong-konyong koder." Agnes melepaskan pegangan tangannya dan keluar dari mobil meninggalkan Gatra begitu saja. 


Gatra pun hanya melihat Agnes yang sedang berjalan cepat menuju ke penjual martabak tersebut. "Ya Tuhan, sabarkan hatiku." Ia menggeleng lalu menyusul istrinya dengan tergesa. Walaupun kesal, tetapi Gatra tetap dibuat tersenyum dengan tingkah istrinya. 

__ADS_1


__ADS_2