Seperti Menikahi Bocah

Seperti Menikahi Bocah
SMB 34


__ADS_3

"Nes, maaf. Aku tidak menolongmu tadi karena aku tidak tahu kalau ternyata itu adalah kamu." Gatra memelas. Ia ingin sekali mendekati istrinya, tetapi Janu terus saja melotot ke arahnya. 


"Aku marah sama kamu!" Agnes bersedekap. Ia merasa sebal dengan Gatra yang tidak merayunya dan justru berdiri di tempatnya. Ia tidak menyadari jika Gatra sebenarnya takut kepada Janu. 


"Ya. Aku minta maaf." Gatra masih terus memelas. 


"Siapa wanita itu? Kenapa kamu sangat mesra dengannya. Apa karena wanita ini juga kamu tidak mengaktifkan ponselmu? Kamu tahu, aku sangat cemas!" Suara Agnes mulai meninggi. Tidak peduli meskipun banyak pasang mata yang mengamati mereka. 


"Dia adalah bawahanku yang nantinya akan mengurus toko ini ketika aku sudah kembali. Nes, percayalah padaku." Gatra memberanikan diri menggenggam tangan Agnes. 


"Awas saja kalau kamu sampai berani bermain di belakang putriku maka aku tidak segan-segan menembak kepalamu sampai hancur!" ancam Janu. Masih terus menajamkan tatapannya. 


"Pa, aku tidak mau kalau Papa berkata seperti itu. Bagaimana juga Mas Gatra adalah suamiku," protes Agnes. 


"Ya. Papa tahu itu. Tapi, papa tidak ingin ada seorang pun lelaki yang menyakiti putri kesayangan papa. Bukankah selama ini papa selalu menyayangimu? Papa akan membuat perhitungan untuk siapa pun yang menyakitimu. Tidak peduli siapa pun itu." Janu berbicara penuh ketegasan. Nada bicaranya begitu mengintimidasi hingga membuat mereka yang mendengar bergidik ngeri. 


Mereka yakin jika Janu bukanlah orang sembarangan. 

__ADS_1


Agnes hanya mengiyakan ucapan sang papa lalu mengajak Gatra untuk pergi karena ia ingin berduaan dengan suaminya. Agnes ingin menghabiskan waktu bersama Gatra. Hal itu pun disambut bahagia oleh Gatra. 


"Papa sangat merindukanmu, Sayang." Gatra mencium perut Agnes yang sudah mulai membuncit. 


"Aku juga. Apa kamu akan pulang bersamaku?" tanya Agnes. Wajah Gatra yang barusan dipenuhi senyuman kini tampak murung. 


"Aku belum bisa pulang, Nes." Gatra mendes*hkan napas ke udara secara kasar. 


"Kenapa? Kalau begitu aku akan di sini menemanimu," ucap Agnes, tetapi Gatra menolak mentah-mentah. 


"Aku janji akan segera pulang jika urusanku sudah selesai. Tinggal sebentar lagi. Jadi, lebih baik kamu pulang bersama papa," rayu Gatra. 


"Kamu yakin tidak menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Agnes penuh selidik. Wajah Gatra pun mendadak gugup. 


"Tidak. Aku benar-benar tidak menyembunyikan sesuatu. Aku berani bersumpah." Gatra berusaha meyakinkan  Agnes. "Dengarkan aku, di sini aku bekerja. Mencari nafkah untuk kalian, jadi percayalah." 


"Baiklah. Dua hari lagi aku akan pulang. Untuk sekarang aku masih ingin di sini," pungkas Agnes. 

__ADS_1


Gatra tersenyum. Lalu mencium puncak kepala Agnes penuh kasih sayang. Agnes yang merasakan itu pun merasa sangat senang. 


***


Dua hari berlalu, Gatra benar-benar menghabiskan waktu bersama istrinya. Ia sampai tidak peduli pada restoran karena baginya, Agnes adalah hal yang utama saat ini. Apalagi ada Janu yang berada di depan mereka, terasa seperti selalu mengawasi. 


Sore ini, Agnes hendak pulang karena Janu memaksa. Ia tidak bisa meninggalkan rumah dalam waktu yang lama. Walaupun berat, Agnes pun bersedia ikut sang papa. Meskipun dalam hati kecil Gatra terbesit rasa ingin selalu berada di samping istrinya. 


"Hati-hati di jalan." Gatra mencium puncak kepala Agnes. 


"Ya. Kuharap kamu cepat pulang," rengek Agnes. Gatra tersenyum sambil mengangguk mengiyakan. Lalu membiarkan istrinya masuk ke mobil. 


"Tra, ada yang ingin papa katakan padamu." Janu berbicara datar. Raut wajahnya pun begitu susah dijelaskan. 


"Iya, Pa. Tunggu sebentar, Nes." Gatra berjalan mengikuti Janu yang menjauh dari mobil. 


Kedua orang itu pun berdiri sejajar dan saling pandang. Namun, Gatra mengerang tiba-tiba saat Janu sudah mendaratkan pukulan tepat di ulu hatinya. 

__ADS_1


"Ini ada apa, Pa?" tanya Gatra bingung. Ia meringis karena perutnya masih terasa sangat nyeri. 


__ADS_2