
"Katakan apa salahku, Pa? Kenapa papa memukulku seperti ini?" tanya Gatra. Berusaha memberanikan diri karena ia merasa tidak bersalah.
"Papa hanya ingin memberi peringatan untukmu. Kalau sampai kamu berani menyakiti Agnes lagi, apalagi sampai bermain wanita. Papa tidak akan pernah main-main dengan ucapan papa!" Janu terlihat meradang. Membuat Gatra makin bingung karena papa mertuanya seperti wanita yang sedang PMS.
"Pa, aku tidak pernah bermain wanita. Di sini aku bekerja. Mencari uang untuk istri dan calon anakku," ujar Gatra.
"Ya, papa hanya memberi kamu peringatan," timpal Janu.
"Pa, Agnes sudah dewasa. Dia sekarang adalah istriku dan aku yang lebih berhak atas dirinya."
"Berani sekali kamu berbicara seperti itu!" bentak Janu tidak terima. "Sampai kapan pun Agnes adalah putriku dan akulah yang paling berhak atas dirinya! Jangan bicara ngawur!"
Gatra mendes*hkan napas ke udara secara kasar. Ia harus bersabar menghadapi papa mertuanya yang sangat posesif itu.
"Pa—"
__ADS_1
"Ini kenapa?" tanya Agnes yang barusan bergabung. Membuat kedua orang itu terkejut dengan kedatangannya.
"Nes, papa ingin bertanya padamu. Siapa yang akan kamu pilih saat ini? Papa atau Gatra?" tanya Janu begitu menuntut jawaban.
Agnes menatap kedua orang itu secara bergantian. "Aku tidak paham apa maksudnya?"
"Bagimu, siapa yang paling berarti. Papa atau Gatra? Kamu harus memilih salah satu." Janu mengulangi, sedangkan Gatra sudah memasang wajah pias.
Ia tidak menyangka papa mertuanya akan bersikap sampai sejauh itu.
"Pa, sudah. Jangan berbuat hal aneh. Jangan membuat Agnes kepikiran. Kita tidak ada masalah, jadi kuharap papa tidak membuat masalah." Gatra menarik tangan Agnes agar wanita itu berdiri di sampingnya.
"Agnes adalah tanggungjawabku, jadi biar aku yang mengurusnya mulai sekarang. Kuharap papa tidak pernah ikut campur." Gatra mulai berani melawan.
"Apa maksudmu, Mas? Sepertinya Papa tidak pernah ikut campur urusan kita. Bahkan, papa sangat berjasa karena sudah menggantikan apa yang seharusnya menjadi kewajibanmu. Jika tidak ada papa, aku yakin tidak akan sanggup menjalani kehamilan ini sendirian." Agnes menghempaskan tangan Gatra lalu berjalan cepat mendekati Janu. Tak ayal, apa yang dilakukan Agnes membuat Janu tersenyum senang.
__ADS_1
"Nes, berapa kali aku harus—"
"Sudahlah, Mas! Aku marah sama kamu! Harusnya kamu berterima kasih kepada papa. Bukan malah seperti ini. Memang ya, papa adalah lelaki yang paling terbaik untukku. Bukan kamu!"
Ucapan Agnes seperti belati tajam yang menggores hati Gatra. Terasa perih, tetapi tidak berdarah. Dengan gegas Gatra berusaha mengejar Agnes yang sudah masuk ke mobil bersama Janu.
"Nes, buka pintunya." Gatra mengetuk jendela mobil, tetapi Agnes tidak peduli dan tetap pergi begitu saja meninggalkan Gatra yang tampak frustrasi.
"Ya Tuhan, kenapa jadi salah paham seperti ini." Gatra mengusap wajah kasar. Ia harus segera menyelesaikan pekerjaannya dan menyusul Agnes.
***
Sementara itu, di dalam mobil Agnes menangis dalam pelukan Janu. Tidak peduli meskipun air mata sudah membuat kemeja yang dikenakan Janu menjadi basah. Agnes hanya merasa kesal, tetapi ia juga merasakan sedikit sesal karena sudah bersikap keterlaluan seperti tadi kepada Gatra.
"Jangan menangis, Sayang. Ada papa yang akan selalu menemanimu dalam keadaan apa pun."
__ADS_1
Diam-diam, Janu mengirim pesan kepada seseorang untuk mengawasi Gatra di sana. Entah mengapa, dua hari bersama, Janu merasa ada yang aneh dengan wanita yang kala itu bertabrakan dengan Agnes di restoran.