Seperti Menikahi Bocah

Seperti Menikahi Bocah
SMB 13


__ADS_3

Berdandan versi kilat begitulah kira-kira. Agnes sekarang sudah tampil anggun dalam balutan gaun pesta dan wajah cantiknya yang sudah dipoles make-up. Jika dilihat dari penampilan, Agnes terlihat seperti wanita dewasa sesuai dengan umurnya. Sangat berbanding terbalik dengan tingkahnya yang masih seperti anak TK.


Ketika Agnes dan Margaretha memasuki ruangan, semua mata tertuju kepada wanita itu. Banyak dari mereka yang terpesona termasuk salah satunya adalah Gatra. Lelaki itu sejak tadi terpaku menatap gadis cantik tersebut. Gadis yang biasanya terlihat menyebalkan dengan tingkahnya, kini mampu membuat jantung Gatra berdegup kencang.


Dari segi penampilan, dia benar-benar cantik. Seandainya tingkahnya sesuai dengan umur pasti dia akan lebih sempurna lagi. Gatra bergumam dalam hati.


"Selamat malam semuanya." Margaretha membuka suara. Berdiri di depan para tamu bersama dengan Agnes dan ketiga sahabatnya. "Malam ini saya ingin mengucapkan terima kasih atas kehadiran kalian yang sudah berkenan memenuhi undangan saya untuk mengadakan pesta ulang tahun kakak perempuan saya."


"Terima kasih banyak, Etha." Agnes tersenyum senang. Dia merangkul pinggang Margaretha sangat erat.

__ADS_1


"Sama-sama, Nes. Baiklah, sebelum acara potong kue dilaksanakan, bagaimana kalau kamu memberikan sepatah dua patah kata untuk siapa pun yang hadir di sini." Margaretha menatap Agnes meminta. Gadis itu pun mengangguk cepat lalu mengambil alih mic dari Margaretha.


Agnes menatap mereka satu persatu. Banyak sekali yang tidak dia kenali di sana. Namun, Agnes tetap menunjukkan senyuman termanis sebagai tanda perkenalan.


Pesta itu memang terlihat sangat mewah dan meriah. Banyak yang terlihat senang di sana. Akan tetapi, jika diharuskan jujur, Agnes merasakan kehampaan di dalam hati kecilnya. Dia merasa ada yang kurang dari kemeriahan ini. Jika dibolehkan meminta, Agnes lebih memilih untuk mengadakan pesta kecil-kecilan dengan sang papa daripada harus dengan pesta mewah, tetapi tidak ada kehadiran lelaki itu di sana.


"Hei, kenapa kamu diam saja." Margaretha menyenggol lengan Agnes perlahan untuk menyadarkan gadis itu dari lamunan.


Sebelum memulai berbicara, Agnes berdeham terlebih dahulu agar tidak terlalu grogi. Mengambil napas dalam lalu mengembuskan secara perlahan.

__ADS_1


"Selamat malam semuanya yang hadir di sini." Agnes terdiam sesaat mendengar jawaban mereka. "Aku mau ngucapin terima kasih, khususnya untuk Etha, adikku. Yang sudah menyiapkan pesta kejutan sedemikian mewah. Sungguh, aku merasa sangat terharu." Agnes terdiam menjeda ucapannya.


"Dulu, aku pikir jika memiliki saudara perempuan itu akan sangat merepotkan karena harus berebut mainan dan lainnya. Tapi ternyata tidak. Etha justru sangat pengertian padaku. Terima kasih, Etha." Agnes mencium pipi Margaretha penuh sayang. Sebagai tanda kalau gadis itu sangat bersyukur memiliki saudara seperti Margaretha.


"Masih ada yang ingin kamu sampaikan?" Margaretha berusaha tersenyum meskipun sebenarnya dia sedang berusaha keras menahan air mata agar tidak terjatuh.


"Ya. Ada satu lagi yang ingin aku sampaikan. Apakah masih boleh?"


"Tentu saja. Katakan saja semuanya. Apa harapanmu di ulang tahunmu hari ini."

__ADS_1


Agnes mengangguk cepat lalu kembali menatap ke arah para tamu.


"Aku berterima kasih atas pesta mewah ini meskipun jujur, aku merasa ada yang kurang. Papa. Aku tahu Papa tidak akan pernah hadir di sini, tapi aku yakin pasti dia saat ini sedang mengucapkan ulang tahun untukku dan memberikan doa terbaik untukku." Agnes terdiam sesaat saat merasakan cairan bening mengalir dari kedua sudut matanya. Suasana di ruangan tersebut mendadak hening saat itu juga.


__ADS_2