
Hari demi hari yang dilalui Agnes terasa hampa. Meskipun Gatra tidak pernah lelah memberi kabar, tetapi Agnes tetap saja merasa ada yang kurang apalagi saat ini dirinya sedang dalam keadaan mengandung. Ia ingin menikmati masa-masa ngidam bersama suaminya.
Beruntung, ada Janu yang selalu berada di samping Agnes dan tidak pernah sekalipun meninggalkan putrinya. Lelaki itu begitu menjaga Agnes termasuk menuruti apa pun ngidam wanita itu.
Sama seperti sekarang ini, Agnes sangat ingin sekali minum alpukat kocok yang berada di dekat minimarket yang berjarak cukup jauh dari rumahnya. Agnes tidak mau yang lain padahal Janu sudah menawari yang dekat, tetapi Agnes sangat menolak bahkan menangis keras. Dengan terpaksa, Janu pun berangkat ke sana demi putrinya.
Ketika sedang menunggu kepulangan sang papa, Gatra menelepon lagi. Agnes menerima dengan antusias karena wanita itu sudah sangat merindukan suaminya sejak tadi.
"Kamu sedang apa, Nes?" tanya Gatra ketika wajahnya baru saja memenuhi layar ponsel Agnes.
"Aku sedang menunggu papa," sahut wanita itu manja.
"Memangnya papa ke mana?" tanyanya lagi.
"Sedang pergi beli alpukat kocok. Aku ngidam. Kamu tahu, beruntung ada papa yang selalu bisa diandalkan dan menuruti apa pun yang aku inginkan," kata Agnes. Ia tidak menyadari jika raut wajah Gatra sudah berubah sendu.
"Maafkan aku, Nes." Suara Gatra terdengar lirih hingga membuat Agnes mengerutkan keningnya dalam.
__ADS_1
"Maaf untuk apa? Kamu tidak memiliki salah apa pun padaku." Agnes bingung sendiri.
"Karena aku tidak bisa menemanimu. Seharusnya aku ada di sampingmu dan menemani kamu melewati masa-masa ngidam, tetapi aku tidak bisa. Aku belum bisa menjadi suami yang baik untukmu," ujar Gatra lirih.
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Ada papa yang selalu menemaniku. Kamu tenang saja karena papa juga sangat senang dengan calon cucunya ini." Agnes berusaha menenangkan suaminya. "Tapi, kalau bisa. Cepatlah pulang. Aku sudah sangat merindukanmu. Kalau kamu tidak pulang juga maka aku akan menyusulmu," ancamnya.
"Ya, aku janji akan segera pulang jika urusanku sudah selesai," kata Gatra. Tersenyum simpul. Agnes pun ikut tersenyum. Setelahnya, kedua orang itu mengobrol banyak hal sebelum akhirnya Gatra mematikan panggilan karena ia harus menemui seseorang.
***
Dua minggu kemudian.
"Jangan menyusul ke sana. Biar papa saja yang menemui Gatra," kata Janu melarang Agnes yang hendak menyusul Gatra. Apalagi dua hari ini ponsel Gatra tidak bisa dihubungi sama sekali. Membuat Agnes merasa cemas sekaligus curiga.
"Tapi, Pa. Aku mau ikut. Aku sudah tidak sabar ingin segera bertemu Gatra," rengek Agnes. Janu benar-benar melarang, tetapi Agnes terus memaksa untuk ikut. Akhirnya, Janu pun menyerah dan membiarkan Agnes ikut bersamanya.
Selama dalam perjalanan, Agnes merasa senang dan tidak sabar untuk segera bertemu Gatra, sedangkan Janu pun ikut merasa senang melihat tingkah putrinya itu.
__ADS_1
"Ini, Pa. Lihatlah ada tulisan Gama di sana." Agnes menunjuk tulisan besar yang terpajang di depan restoran itu. Restoran cabang milik Gatra. Dengan tidak sabarnya, Agnes berlari masuk. Tidak peduli kepada Janu yang ikut berlari karena khawatir kepada Agnes.
Namun, baru saja masuk ke sana, Agnes meringis karena terjatuh bersamaan dengan seorang wanita yang bertabrakan dengannya.
"Kamu baik-baik saja."
Agnes mendongak saat mendengar suara suaminya. Namun, ia terkejut ketika melihat Gatra sedang membantu wanita itu dan bukan dirinya.
"Gatra!" pekik Agnes melengking. Membuat Gatra tersentak dan langsung melepaskan wanita tadi.
"Agnes." Dengan gegas Gatra membantu Agnes bangkit berdiri, tetapi wanita itu justru menolak dan memilih untuk meminta Janu membantunya bangkit.
Gatra pun terpaku, tetapi ia menelan ludah kasar ketika melihat sorot mata Janu yang sangat tajam. Seperti hendak mengulitinya hidup-hidup.
"Maaf, Nes. Aku tidak tahu kalau ini kamu. Lagi pula, kenapa kamu tidak mengabariku kalau akan datang ke sini." Gatra berusaha meraih tangan Agnes, tetapi wanita itu langsung menyembunyikan tangannya di belakang tubuh.
"Aku benci sama kamu!" Agnes menghentakkan kaki. Gatra pun tidak patah menyerah dan berusaha meminta maaf kepada istrinya.
__ADS_1
"Jangan sentuh putriku!" Suara Janu yang menggelegar seketika mengalihkan perhatian mereka semua. Termasuk Gatra yang langsung menutup mulutnya rapat.