Seperti Menikahi Bocah

Seperti Menikahi Bocah
SMB 27


__ADS_3

Gatra terkejut ketika baru saja membuka mata, ia langsung mendengar suara Agnes yang sedang muntah-muntah di kamar mandi. Dengan gegas, ia pun segera menyusul istrinya penuh dengan rasa khawatir. 


"Kamu sakit?" tanya Gatra cemas. Ia mengusap tengkuk istrinya dan memberi pijatan lembut. 


"Rasanya mual sekali. Bahkan, makanan yang sudah kutelan semalam, keluar semua." Suara Agnes terdengar lemah walaupun mual yang dirasakan sudah mulai berkurang. 


"Kita ke rumah sakit sekarang?" ajak Gatra, tetapi Agnes menggeleng cepat. 


"Aku mau tidur aja." 


Gatra pun membopong Agnes dan membawanya ke atas ranjang. Lalu ia tak lupa menyelimuti tubuh istrinya. 


Setelahnya, Gatra pergi selama beberapa menit dan kembali dengan membawa secangkir teh hangat. Dengan telaten, Gatra menyuapi istrinya. 


"Jangan pernah berangkat bekerja lagi. Kamu cukup di rumah dan menungguku pulang," perintah Gatra, tetapi Agnes hanya diam saja. "Kamu tidak mendengarku?" 


"Ya. Aku dengar. Apa kamu tidak berangkat bekerja?" tanya Agnes. Masih dengan memejamkan mata. Berusaha mengusir rasa pusing yang membuatnya hendak kembali mual. 


"Tidak. Aku tidak mau meninggalkan kamu sendirian," sahut Gatra. Mata Agnes pun sontak terbuka lebar. 


"Kenapa? Kamu ini pemilik restoran seharusnya rajin karena harus menjadi panutan bagi karyawanmu," kata Agnes. Bibirnya mengerucut sebal. 


"Biarlah. Kamu lebih penting sekarang. Aku bisa bekerja setiap hari, tetapi untuk sekarang tidak ada yang lebih penting daripada memastikan keadaanmu baik-baik saja," ucap Gatra. Ia tersenyum melihat Agnes yang sedang tersipu malu. "Jangan ge-er." 

__ADS_1


"Ish!" Agnes mengusap bekas sentilan Gatra yang sebenarnya sangat pelan di keningnya. "Jangan macam-macam atau aku adukan kamu ke papa. Nanti kamu akan dikenai sangsi sebagai pelanggaran karena sudah melakukan KDRT," ancamnya. 


"Kamu berani melakukan itu?" Gatra menunjukkan raut wajah kesal. Agnes mengangguk cepat. "Lakukan saja. Kalau aku di penjara maka  jangan salahkan aku kalau kamu merindukan suamimu yang tampan ini."


Hueekk! 


Agnes berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya lagi. Gatra pun dengan segera menyusulnya.


"Ya Tuhan, ini sangat tidak enak." Agnes hampir saja terkulai di kamar mandi, tetapi Gatra menahannya dengan cepat. 


"Kamu yakin tidak mau ke rumah sakit?" tanya Gatra lagi. Namun, Agnes menggeleng cepat. 


"Tidak. Aku sudah capek harus di sana terus. Lebih baik aku di rumah saja. Tiduran." Agnes hendak berjalan ke kamar, tetapi Gatra membopongnya lagi. 


Selang beberapa menit, bel di rumah Gatra terdengar berbunyi. Gatra pikir itu adalah dokter, ternyata Janu yang datang. 


"Di mana Agnes?" tanya Janu. Memindai seluruh ruangan untuk melihat keberadaan putrinya. 


"Sedang di kamar, Pa. Dari tadi pagi terus muntah-muntah," sahut Gatra. 


Janu yang kala itu sedang duduk pun bergegas bangkit. "Ya Tuhan, bagaimana bisa? Kenapa tidak kamu bawa ke rumah sakit?" Janu melangkah lebar menuju ke kamar Agnes disusul oleh Gatra di belakang. 


"Agnes menolak, Pa. Dia benar-benar tidak mau. Tapi, aku sedang memanggil dokter untuk datang ke sini," jelas Gatra. 

__ADS_1


Janu pun menghela napas lega. Setidaknya, Gatra menunjukkan sikap bertanggung jawab. Janu segera masuk ke kamar dan duduk di tepi ranjang. Ia melihat Agnes yang sedang terlelap. Janu pun mengusap puncak kepala Agnes hingga membuatnya membuka mata. 


"Pa-papa," panggil Agnes lirih. 


"Wajahmu pucat sekali. Kamu sakit?" tanya Janu lembut. Agnes mengangguk lemah. "Kenapa tidak mau dibawa ke rumah sakit?" 


"Tidak, Pa. Aku sudah merasa lebih baik. Nanti juga sembuh sendiri," ujar Agnes. Meskipun ia harus memaksakan senyumnya. 


"Tapi kamu harus benar-benar mendapatkan pemeriksaan, Nes. Papa takut ...." 


"Jangan takut, Pa. Agnes baik-baik saja. Nanti juga akan sembuh sendiri." Agnes berusaha menenangkan hati sang papa. Ia melirik Gatra yang masih berdiri tidak jauh dari tempat tidur. 


"Papa belum tenang kalau belum mendengar keadaanmu baik-baik saja. Tra, kenapa dokternya lama sekali?" Janu sedikit berbalik untuk menatap Gatra. 


"Sedang di perjalanan, Pa." Gatra menjawab sopan. 


"Kamu memanggil dokter?" tanya Agnes kesal. Gatra hanya mengiyakan saja. "Ish! Dasar suami menyebalkan!" 


"Tidak apa. Dasar istri ngeyelan," balas Gatra tak mau kalah. 


"Papa ...." Agnes merengek, sedangkan Janu menggeleng berkali-kali. 


Ya Tuhan. Janu hanya bisa membatin. 

__ADS_1


__ADS_2