
Di jam istirahat Tasya pergi ke kantin bersama dengan Fiona, dan di situ Tasya memesan dua porsi bakso untuk dirinya dan juga fiona.
"tas, Lu kenal kan sama anak baru itu?,"tanya Fiona sambil menunjuk ke arah Roy yang sedang duduk sendirian.
"maksud lu Roy, kenal kok, cuman emang sebatas kenal aja gak akrab juga,"jawab Tasya sambil meminum es teh yang dipesannya.
"tapi, kayaknya dia suka deh sama lu".
"Halah lu nih ngomong apa sih,enggak lah dia nggak bakalan suka sama gue, udahlah kita terusin aja makannya,"jawab Tasya yang masih saja tidak percaya.
Fiona pun menyenggol lengan Tasya,"lihat aja, dia dari tadi ngeliatin lu terus,"ucap Fiona dengan suara kecil.
Tasya pun melirik ke arah sesuatu yang ditunjuk oleh Fiona, dan seketika itu Tasya langsung membuang muka.
"kita pindah yuk , gue nggak enak diliatin terus dari tadi,"bisik Tasya sambil menundukkan kepalanya.
"Ya udah kita balik aja yuk ke dalam kelas".
Tasya menganggukan kepalanya dan mereka berdua pun kembali ke dalam kelas, tidak lama dari itu Randy dan juga Roy masuk ke dalam kelas juga dan menghampiri Tasya yang sedang duduk bersama dengan Fiona.
"nama lu Tasya kan?,"tanya Roy.
Tasya menganggukan kepalanya,"boleh ngobrol sebentar?,"sambung Roy.
"boleh kok,"jawab Tasya.
Di situ Fiona pun pergi bersama dengan Randy sedangkan Roy bersama dengan Tasya.
"lu temennya kak Angeline kan?,"tanya Roy yang kini duduk di sebelah Tasya.
"bisa dibilang begitu, emangnya ada apa?".
"nggak ada apa-apa sih cuman mau ngobrol aja, kok bisa Lu kenal sama kak Angeline?".
"ya karena ada satu dan lain hal, yang membuat gue tahu sama kak Angeline ".
"oh gitu, oh ya boleh nggak kalau kita berdua berteman?".
__ADS_1
"bolehlah, Apa salahnya untuk berteman kan" .
"boleh gue minta nomor telepon lu?".
"hmmm kalau soal itu gue masih belum bisa ngasih ya, tapi kalau cuman berteman Ya bolehlah".
"oh iya gue bisa kok ngertiin, oh ya nanti siang kita makan bareng yuk?".
"Maaf ya kayaknya masih belum bisa, soalnya gue dijemput nanti siang".
"yah sayang banget dong, padahal baru aja gue mau ngajakin lo buat jalan-jalan juga, shopping dan beli peralatan sekolah".
"iya sayang banget mungkin bisa lain waktu".
Di situ Tasya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"oh ya Tasya, lu tinggal di mana boleh nggak kalau gue mampir?,"tanya Roy.
"oh ya udah gak apa-apa kok, tenang aja santai, oh ya nii gue punya coklat, tadi gue main game di kantin, dan ternyata hadiahnya malah coklat Ya udah deh gue kasih aja ke elu, soalnya gue nggak suka coklat,"ujar Roy sambil memberikan coklat tersebut.
"thanks ya,"jawab Tasya dengan senyum dan mengambil coklat tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bel pulang pun berbunyi dan semua anak-anak berhamburan pergi dari sekolah,sedangkan Tasya sudah dijemput oleh Brian di persimpangan jalan seperti biasa, Tapi belum sempat ia masuk tiba-tiba di belakangnya ada suara klakson motor.
"Tasya... Lu mau ikut sama gue gak, yuk biar gue anterin?,"tawar Roy.
Belum sempat Tasya menjawab, tiba-tiba Edo juga datang membawa motornya, dan di situ Edo juga membunyikan klaksonnya.
Tin tin tin !!!(suara klakson mobil).
"bisa minggir nggak sih, jangan ngalangin jalan dong, emang ini jalan punya nenek moyang lu,"ujar Edo dengan kesal.
"ya biasa aja kali, jalan juga masih lebar kenapa harus dipermasalahin, emang dasarnya aja elu yang maruk,"jawab Roy.
__ADS_1
"udah salah nyolot lagi, Tasya pulang bareng gue yuk, naik mobil daripada sama dia naik motor nanti lu kehujanan lagi".
"jangan jangan sama dia,emang lu mau digebukin sama warga karena bareng sama cowok yang maruk kayak dia, lebih baik sama gue aja sama sekalian nikmatin udara segar".
"apa-apaan sih lu, masih baru udah nyolot aja, ngeselin banget ya lu".
"emang kenapa kalau gue nyeselin, takut kalah saing lo, sini kalau berani turun, dasar tukang pamer harta orang tua".
"Apa maksud lu pamer harta orang tua?".
Roy hendak turun, tapi Tasya di situ langsung naik ke dalam mobil,"sorry ya guys gue udah dijemput nih, gue nggak bisa dengerin kalian berdua buat berantem, oh ya satu saran dari gue, kalau kalian berdua mau berantem,lebih baik jangan di tengah jalan deh nanti kalian berdua malah digebukin warga, cari aja tempat yang kosong baru berantem,"ucap Tasya lalu pergi.
Brian di dalam mobil hanya diam saja, dan ia hanya fokus menyetir dari tadi,"kamu kenapa diem aja By, apa aku melakukan suatu kesalahan?,"tanya Tasya.
"oh enggak kok ay, nggak ada apa-apa aku cuman mikirin perihal kantor aja, oh ya Ay kita makan siang di luar yuk!,"ajak Brian.
"daripada makan di luar, lebih baik kita pulang aja ke rumah dan masak bareng, kan lebih romantis by".
"iya juga sih ay, ya udah kita pulang aja deh, oh ya Ay ada sesuatu yang mau aku tanyain ke kamu?".
Tasya tersenyum dan menganggukkan kepalanya,"tanya apa By,"jawab Tasya dengan lembut.
"itu ay, kamu udah siap belum buat punya anak?,"tanya Brian dengan gugup.
Tasya kaget mendengar pertanyaan dari Bryan dan tiba-tiba Tasya melihat ke arah luar.
"Apa kamu tidak mau menjawab ini?,"tanya Brian.
"entahlah, aku masih bingung harus menjawab apa, karena seakan semuanya masih belum terpikirkan, gimana ya, aku juga tidak tahu ".
("apakah dia sebingung itu, atau dia masih belum siap dengan semua yang terjadi?,"mikir Brian).
"aku ingin meminta hak ku, Apa boleh aku memintanya?,"tanya Brian.
"boleh tolong beri aku waktu, aku berjanji akan memberikannya, Tapi aku tidak tahu sampai kapan aku bisa siap, aku akan memberanikan diri dan juga belajar terlebih dahulu, belajar untuk menerima kalau inilah takdirku dan itu adalah hakmu yang harus aku berikan,"jawab Tasya yang masih belum menoleh.
Brian hanya menganggukan kepalanya, mereka berdua seketika hening di dalam mobil, tak ada pembicaraan sama sekali di antara mereka, bahkan di sepanjang perjalanan hingga sampai di rumah, masuk ke dalam rumah pun mereka berdua juga tetap diam.
__ADS_1
🌺💫🌺
Oke Guys jangan lupa baca bab selanjutnya ya.