
Saat makan malam, datang kedua orang tua Brian, mereka mengatakan kalau mau berkunjung dan bertemu dengan Tasya.
"dek boleh kita ngomong sebentar,"ujar Verni kepada Lulu.
"boleh kak silahkan".
"aku nggak mau ngobrol di sini, ayo ikut aku ke belakang kita akan berbicara empat mata, agar tidak ada yang bisa mendengar percakapan kita".
Lulu mengikuti ke mana arah verni berjalan, dan mereka berdua pun duduk di gazebo belakang rumah.
"Lulu Apa kamu yang mencarikan istri untuk Brian?,"tanya verny dengan nada bicara yang agak ketus.
"iya kak memangnya ada apa?".
"kamu ini nggak waras ya, atau kamu terlalu banyak pikiran, kenapa Brian dijodohkan dengan orang seperti itu, selera kamu rendah banget ya, padahal aku pikir orang kelas kayak kamu ini seleranya bisa tinggi loh".
"maaf kak, tapi menurutku tidak ada apa-apa kok, bahkan Tasya itu anak yang baik jadi sangat bagus sekali kalau Tasya dijodohkan dengan Brian,Brian itu anakku jadi aku yang lebih tahu bagaimana dia Dan juga bagaimana wanita yang baik untuknya".
"heh ingat kamu, Brian itu bukan anak kamu, anak kamu itu Kenzo, ibunya Bryan itu Naura,andai Sekarang dia ada di sini pasti dia bakalan marah banget ke kamu karena ngejodohin orang kayak Tasya itu buat Brian.
emang pada dasarnya kamu ini orang yang rendah maka dari itu selera kamu sangat rendah, harusnya kalau kamu mau mencari calon istri untuk Brian lebih baik kamu konsultasi dulu ke aku, aku yang lebih tahu bagaimana yang Brian butuhkan".
__ADS_1
Lulu sebenarnya merasa sakit hati dengan ucapan dari kakaknya Agam,tapi mau bagaimana lagi ia harus tetap stay cool agar tidak terlihat semakin gampang diinjak-injak.
"makasih ya kak karena kakak udah perhatian banget sama keluarga aku, tapi aku juga gak terlalu maksa Brian kok, emang berayunnya sendiri yang mau sama Tasya, karena Tasya memang anak baik".
"Halah klise banget alasan kamu, si Tasya itu dibandingin sama Mala masih jauh lebih baik mala,bukan karena Mala itu anak aku ya cuman emang dilihat aja orang-orang juga pasti bakalan langsung tahu,cara kamu itu sangat rendah dan dengan toplosannya Agam dia mau menuruti permintaan istrinya yang aneh seperti ini".
"Maaf ya kak sekali lagi, sebenarnya apa sih yang mau dibicarain sama kakak,kenapa dari tadi kakak nyalah-nyalahin aku terus dan selalu bilang kalau menantuku itu tidak baik, sebenarnya topi dari pembicaraan ini apa,kakak Mau ngomongin hal apa ke aku sepenting apa sih yang mau kakak omongin?".
"kamu masih belum paham, menurutku lebih baik kamu pisahin deh Brian sama Tasya itu, daripada nanti malah ngebuat malu keluarga kamu, dan kalau kamu butuh calon istri buat Brian, aku sudah punya banyak calon yang menunggu".
"oh jadi kakak cuman mau ngomong ini sama aku,sekali lagi aku ngucapin terima kasih ya buat kakak karena kakak udah sangat perhatian sama keluarga kecil aku, tapi aku bener-bener bisa kok buat nge handle keluargaku sendiri, dan aku juga bisa menentukan mana yang baik untuk keluargaku,aku tidak mungkin menjerumuskan putraku ke sesuatu yang buruk".
"emang dasar,seandainya Agam nggak nikahin Kamu pasti sekarang kamu masih menjadi wanita jalanan, dan kamu tidak akan pernah merasakan hidup di dalam gelimang harta seperti ini, tapi sekarang ketika kamu di atas kenapa kamu begitu sombong".
aku mengatakan hal ini bukan karena aku ingin kurang ajar kepada kakak, cuman kakak saja yang selalu saja membuatku terpojok dan tidak tahu harus melakukan apa,kakak selalu mengatur bagaimana aku harus bersikap di dalam rumah tanggaku sendiri,seakan aku tidak becus dan tidak pantas membina rumah tangga.
aku tahu kakak adalah kakak iparku,dan mungkin kakak begini karena kakak tidak mau mas Agam terlalu kerepotan karena adanya aku, tapi apakah kakak tidak merasa kalau hal yang kakak lakukan itu membuatku tidak nyaman.
sama halnya jika seandainya kakak berada di posisiku, coba kakak sendiri bayangkan, kalau ada orang yang mengikut campur di dalam rumah tangga kakak, dan bersikap sebagai orang yang sok maha tahu ,apa kakak tidak kesal, apa kakak tidak lelah menanggapi orang itu.
aku selalu diam karena kakak adalah kakak iparku, aku selalu diam karena aku ingin menghormati kakak,tapi semakin lama kakak semakin menginjak-nginjakku seakan aku tidak memiliki harga diri dan juga perasaan yang perlu dijaga.
__ADS_1
aku mohon sama kakak untuk tidak ikut campur lagi ke dalam rumah tanggaku, aku akan buktikan ke kakak kalau pilihanku itu baik, dan aku juga akan buktikan kepada kakak, untuk mengenai hal ini kakak salah mengatakan ini kepadaku".
"terserah kamu saja,nanti kalau kamu tidak bisa membuktikan ucapanmu itu ,kamu sendiri yang bakalan malu, dan kita lihat saja bagaimana akhirnya, ya sudah aku tidak mau berdebat lagi denganmu,karena memang pada dasarnya aku sangat tidak menyukaimu apalagi dengan keputusanmu yang ini, aku sangat begitu tidak menyukaimu,"ujar verni lalu pergi sambil mengibaskan rambutnya dengan tinggi.
Lulu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan dan ia pun juga ikut masuk bersama dengan verni yang kini mengajak putrinya untuk pergi, setelah beberapa saat kemudian ferni pun pergi bersama dengan putrinya.
"bunda tadi ngobrol apa sama tante verni?,"tanya Brian.
"nggak ada kok Sayang, Kamu kayak nggak tahu tante verni kamu aja, oh ya Tasya maafin bunda ya nak, pasti Kamu ngerasa tertekan banget ya karena Verni tadi, udah ya ucapannya jangan dimasukin ke dalam hati, dia emang orangnya gitu, maafin bunda ya,"Jawab Lulu dan menghampiri Tasya lalu membelai pelan rambut Tasya.
"iya Ay, dari dulu tante Verni emang kayak gitu orangnya, jadi kamu harus ngertiin keadaan ini ya ai, kan kita juga nggak mungkin tiba-tiba marahin tante verni, karena mau bagaimanapun tante verni tetaplah kakak dari papa,"ujar Brian yang menggenggam tangan Tasya.
Tasya tersenyum dan menganggukkan kepalanya,"nggak apa bunda , by, aku juga udah tahu kok gimana tabiatnya tante verni,aku udah biasa ngadepin orang yang kayak tante verni jadi aku nggak akan ambil hati sama sekali dengan ucapan tante verni.
mereka semua sama-sama tersenyum dan mereka pun lanjut mengobrol hal-hal yang lebih seru.
🌺💫🌺
__ADS_1
Oke Guys jangan lupa baca bab selanjutnya ya.