SI CANTIK MILIK CEO

SI CANTIK MILIK CEO
Kotak merah


__ADS_3

 Tepat pada pukul 03.00 pagi, Tasya terbangun dari tidurnya karena ia sudah terbiasa untuk masak pada jam seperti itu sebelum ia berangkat ke sekolah nantinya,Tasya lupa kalau asisten rumah tangganya sudah datang kemarin, jadi ia melakukannya seperti biasa.


  "loh Neng kok ada di sini, kenapa tidak beristirahat saja, biar bibi yang memasak semuanya ya Neng,"ujar Bi Ira.


  "tidak apa-apa bi, aku juga sudah biasa kok masak di jam seperti ini,"jawab Tasya.


  "itu kan sebelum ada bibi Neng,Sekarang Eneng masuk aja ke dalam biar bibi yang masak semuanya ya Neng, kasihan Tuan Kalau Neng tinggal ke sini".


  "tapi bibi berarti masaknya sendirian dong?".


  "kan ada Bi nirma,kalau untuk sarapan di pagi hari Bi nirma biasanya bantu-bantu bibi,ya bantu-bantu yang kecil-kecil aja soalnya kan setelah ini Bi Irma harus bersih-bersih".


  "oh ya udah deh aku masuk dulu ya Bi".


  "iya Neng mangga".


 Tasya pun masuk ke dalam kamarnya lagi, walaupun sebenarnya ia agak penasaran dengan rupa dari Bi nirma karena saya dari awal ia masih belum bertemu.


 Sedangkan bibi yang berada di dapur kini memasak dengan fokus, tiba-tiba ada binirma yang datang menghampirinya sambil membawa teko air di tangannya.


  "sepertinya tadi ada istrinya Tuan Brian, sekarang beliau ke mana Mbak?,"tanya Bi nirma.


  "iya tadi memang ada Neng Tasya, beliau mau memasak untuk tuan dan juga nona, tapi sama saya disuruh kembali saja, kasihan Kalau si Eneng malah ikut masak di sini,"jawab Bi Ira sambil mengupas bawang.


  "si nona itu bagaimana sifatnya, apa beliau sama seperti Nona Angeline".


  "tidak, tidak sama, bahkan beliau lebih baik dan juga lebih sopan, entah si Eneng karena masih baru atau apa, Tapi Eneng memang jauh lebih sopan dan juga lebih cantik".


  "Ya namanya juga masih awal mbk, siapa tahu setelah ini sifat si Nona Malah keluar".


  "entahlah nirma yang jelas kalau menurut saya si Neng ini beda, beliau pasti benar-benar anak yang baik seperti bukan tabiatnya jika dia memiliki sifat buruk".


 Bi nirma hanya menganggukan kepalanya dan di situ mereka berdua mulai membagi tugas masing-masing agar makanan untuk sarapan itu lekas jadi.


 di dalam kamar, Tasya tadi mencoba untuk beristirahat kembali tapi ia tidak bisa, ia pun membuka lagi di sebelah tempat tidur Brian, karena ia berniat untuk mencari bukunya yang waktu itu ia taruh.


 bukan buku yang didapat,malah ia melihat sebuah kotak berwarna merah yang didalamnya ada kalung gold rose dan di tengahnya ada love yang ada mutiaranya, hal itu bisa dilihatnya karena di bagian depan kotak berwarna merah itu adalah kaca.


 "punya siapa ini, kenapa ada di sini, apa ini milik Angeline dulu,"ujar Tasya dengan memegang kotak berwarna merah itu.


 Saat iya masih menatap lekat ke arah kalung sambil berpikir milik siapa, tiba-tiba Brian bangun dari tidurnya,dan Brian langsung merebut kotak berwarna merah itu.

__ADS_1


"kenapa kamu memegang ini, dari mana kamu mendapatkan ini?,"tanya Brian dengan wajah datar.



"maaf, aku nggak sengaja ngelihat ini jadi aku cuman pengen tahu aja, aku nggak buka sama sekali kok,"jawab Tasya yang merasa tidak enak.



"iya tidak apa, lain kali jangan membuka laci sembarangan, kamu sedang mencari apa?".



"aku tadi cari buku yang aku simpan di sini".


Brian mengambil buku yang ada di dalam kotak berwarna pink di situ, dan Brian memberikannya kepada Tasya, lalu Brian mengunci laci tersebut.


Tasya hanya bisa tertunduk dan ia mengambil buku tersebut lalu duduk di balkon.


("kenapa dia dingin lagi, Apa salahku,aku tak pernah melakukan kesalahan tapi mengapa dia malah bersikap seperti ini, apa benda itu sangat spesial baginya, atau itu peninggalan terakhir dari ibunya, entah apa yang sebenarnya terjadi, dia tak menjelaskan terlebih dahulu tapi dia berubah seperti ini,"ujar Tasya dalam hatinya).


Tasya terdiam,dan ia menatap ke arah Brian yang kini memegang laptopnya di atas ranjang,Tasya tidak menyangka kalau Brian akan bersikap seperti ini lagi padanya.



"kenapa sangat pagi, apa tidak bisa nanti saja, ini masih terlalu petang".



"ini sangat penting jadi tidak bisa ditunda,nanti mungkin aku tidak bisa mengantarkanmu pergi ke sekolah, jadi kamu pakai taksi saja ya, oh ya uang cash-nya ada di laci kamu sendiri, udah aku tukerin".


Brian pun pergi dan meninggalkan Tasya di dalam kamarnya, sedangkan Tasya melihat Brian dari balkon,yang sekarang Brian mengeluarkan motornya lalu pergi dengan kecepatan tinggi.


"sebenarnya apa yang terjadi, kenapa kamu seperti ini padaku, Apa salahku, kenapa kamu malah, entahlah,"gumam Tasya sendiri.


ia tak ingin menangis, tapi ia melihat ke arah foto almarhum ayahnya yang berada di dalam buku catatan miliknya itu.


"papa, kenapa papa begitu cepat pergi meninggalkanku, apakah ini pernikahan yang diinginkan oleh papa, aku merasa sakit walaupun tak ada luka sama sekali di tubuhku, aku merasa perih walaupun tak ada goresan sedikit di wajahku, aku menangis tanpa alasan yang jelas, aku kesepian walau banyak penghuni di rumah ini".


Tasya terdiam sejenak dan ia menghapus rintikan air mata yang ada di pipinya dan kini mulai berjatuhan di buku catatan miliknya.


"kenapa semua ini terjadi padaku, aku benar-benar tidak sengaja melihatnya tadi, aku juga tidak berniatan untuk mengambilnya, aku hanya penasaran tapi kenapa aku seperti seorang pencuri yang tertangkap basah, kenapa aku seperti dianggap sebagai orang yang mengambil barang tanpa minta izin, padahal aku tidak berniat untuk mengambil".

__ADS_1


Tasya terus menangis, Tapi beberapa saat kemudian ia pun berhenti menangis karena pintu kamarnya diketuk, dan ia langsung mengelap sisa-sisa air mata yang masih berada di pipinya.


"Ada apa ya?,"tanya Tasya.



"boleh aku masuk?,"jawab mala.



"kalau memang ada sesuatu yang penting, bicaranya di ruang tengah saja".


Mala dan Tasya pergi ke ruang tengah untuk ngobrol.


"kenapa Abang tadi buru-buru pergi?".



"entahlah ada meeting yang penting".



"meeting atau pergi ke rumah kak Angeline?".


mala tersenyum miring dan menatap dengan tatapan penuh dendam.


"meeting aku yakin suamiku pergi meeting".



"oh ya, tapi aku sangat tahu bagaimana Abang, Abang tidak pernah pergi meeting jam segini kecuali ke rumah kak Angeline".



"mau ke rumah Angeline atau siapapun, Apa urusannya denganmu, apakah kamu nenekku yang harus mengetahui semuanya, atau kamu ibuku yang harus tahu bagaimana keadaanku, tahu jangan-jangan kamu nenek moyang Yang maha tahu?,"jawab Tasya dengan nada datar.


mala kesel sendiri dan ia pun pergi meninggalkan Tasya di situ lalu masuk ke dalam kamarnya,sedangkan Tasya menghembuskan nafasnya dengan perlahan lalu ia pergi ke dapur untuk membantu asisten rumah tangganya membuat sarapan.


🌺💫🌺


Oke Guys jangan lupa baca bab selanjutnya ya .

__ADS_1


__ADS_2