Si Kembar Bunga Desa

Si Kembar Bunga Desa
Kemarahan Ayana


__ADS_3

Rasa lelah di tubuh Ayuna ingin sekali langsung istirahat. Siapa sangka jika kepulangannya subuh itu justru di sambut dengan amarah sang ayah dan juga sang kakak. Ayana yang ingin sekali memaki Ayuna saat itu juga berusaha terlihat lembut. Ia tersenyum dengan wajah bangun tidurnya menyambut kedatangan Rangga yang turun dari mobil. Sikap Rangga lag-lagi menambah kecemburuan di mata Ayana saat ini. Dimana pria itu turun membuka kan pintu mobil untuk sang adik bahkan mengantarnya sampai di depan pintu rumah. Tak lupa pandangannya jatuh pada tangan Rangga yang membawakan beberapa makanan.


"Yuna, dari mana saja kamu? Lihat jam berapa ini?" Fikram yang tak kuasa menahan amarah sontak langsung menarik kasar tangan sang anak.


Rangga melihat dengan tenang. "Permisi, ini untuk anda, Pak. Ada sedikit oleh-oleh. Tadi saya yang memintanya ikut ke kota untuk membahas urusan tanah di desa ini." Rangga dengan baiknya melindungi Ayuna.


Sedangkan yang di bela hanya diam saja. Ia tak mau lagi menatap wajah Rangga yang terus menatapnya sedari tadi. Fikram pun hanya mengataka terimakasih, berbeda dengan Ayana yang mendekati Rangga dengan wajah tersenyum yang terus mengembang.


"Tuan, ayo istirahat dulu di rumah kami. Anda pasti lelah bukan?" tanyanya dengan lembut.


Rangga memperhatikan keduanya bergantian ketika berdekatan. Sungguh mereka benar-benar kembar yang sulit di bedakan. Suara pun sama dari keduanya. Tak ada tanda yang bisa membedakan mereka kecuali hanya sikapnya saja.

__ADS_1


"Tidak. Saya harus segera pulang. Terimakasih." Rangga pun pamitan setelah mengantar Ayuna ke rumahnya.


Saat mobil mewah itu menghilang, saat itu pula Ayana sangat marah dengan sang adik. Ia mendorong kasar tubuh Ayuna yang berdiri di samping sang ayah.


"Ada apa ini, Ayana?" tanya Fikram yang belum mengerti.


"Ayah, dia ini merebut pacar aku. Kamu berani sekali, Ayuna! Hah?  Dia lebih dulu kencan denganku. Berani sekali kamu!" Rambut Ayuna yang panjang sama dengannya di tarik begitu kuat tak perduli sang adik saat ini berbaring di lantai sebab doronganya yang begitu kasar.


Ayuna menggeleng. Tangannya sibuk menghindari serangan sang kakak. "Hentikan, Kak. Tidak ada yang merebutnya. Aku tidak ada merebut pria itu." ujar Ayuna berusaha membela diri.


tak hentinya Ayana menyerang sang adik. Ia sangat marah melihat Rangga justru pergi bersama sang adik. Apa pun alasannya Ayana tidak akan bisa terima.

__ADS_1


"Ayana, sudah. Hentikan. Ini masih subuh malu di lihat orang." ujar Fikram menarik tangan sang anak pertama.


Ayana pun berhasil di jauhkan dari sang adik. Napasnya begitu terengah-engah saat berhenti menyerang sang adik. Rambut Ayuna begitu acak-acakan di buat sang kakak. Ayuna berdiri dengan menatap kesal sang kakak. Melawan pada Ayana rasanya percuma jika di hadapan sang ayah pasti ia sendiri yang akan di salahkan. Ayuna pun memilih masuk ke kamar meninggalkan Ayana bersama sang ayah tanpa berkata apa pun lagi.


"Ayah, dia itu teman kencan ku yang belanjakan semua keperluan aku. Si Ayuna curang dia pasti menghasut pria itu buat tertarik sama dia juga. Ayah harus adil dong. Ayuna merebut pacar aku, Ayah." Ayana terus tak terima dengan Rangga yang dekat dengan sang adik.


Subuh itu terdengar sangat ribut di kediaman Fikram. Kepala pria itu pun terasa pusing mendengar rengekan sang anak tanpa hentinya.


"Sudah, itu urusan ayah. Ayo kita tidur lagi Ayah sangat lelah." Barulah Ayana tenang mendengar ucapan sang ayah. Jika Fikram yang turun tangan maka Ayana tak akan cemas lagi. Rangga pasti akan menjadi miliknya.


Di perjalanan kini Rangga semakin terusik setelah bertemu dengan Ayuna. Penyesalan yang begitu dalam ketika ia tak tahu siapa nama dua gadis yang sudah membuat kepalanya pusing itu. "Yuna, yah itu namanya. Dia yang bernama Yuna." Rangga tersenyum kembali saat mengingat nama yang sempat di panggil pria paruh baya pada anaknya.

__ADS_1


__ADS_2