Si Kembar Bunga Desa

Si Kembar Bunga Desa
Kegugupan Ayuna


__ADS_3

Ketika masih pagi sekali, gadis cantik pujaan Rangga sudah sibuk menata makanan yang ia masak di meja makan. Putri tersenyum ketika melihat kerajinan Ayuna, yang akan menjadi menantunya.


"Wah wah masak apa nih pagi-pagi sudah wangi sekali aroma meja makan?" wanita paruh baya itu menarik kursi dan duduk di dekat Ayuna yang berdiri tersenyum.


"Hanya masakan sederhana saja, Bu. Semoga ibu dan Tuan Rangga bisa suka. Setidaknya hanya ini yang bisa saya lakukan untuk mengucapkan terimakasih atas semua bantuan Ibu." Ayuna selain menjadi gadis yang cerdas dan cantik setiap tutur katanya begitu lembut dan sopan. Itu poin utama yang Putri suka darinya.


Sebab meski berasal dari orang sederhana di desa, tapi etika ketika berbicara akan sangat pengaruh setiap kali keluarga mereka kelak mendapat tamu dari perusahaan-perusahaan yang juga besar.


Sikap ramah yang di miliki Ayuna tentu akan sangat bisa di rasakan ketulusannya. Bukan dengan penuh dramatis.


"Yasudah ayo ikut duduk sini. Mau kemana kamu, Yuna?" panggil Putri melihat Ayuna memutar tubuhnya ketika melihat Rangga sudah ikut duduk di kursi meja makan itu.


Ayuna yang sadar dengan keberadaannya sebagai bawahan tentu tak mungkin lancang untuk ikut makan di meja mahal dan mewah itu. Masakannya saja seyakin mungkin untuk ia berikan yang terenak dari setiap masakan yang ia buat selama ini.

__ADS_1


"Saya biar makan di dapur saja, Bu."


"Duduklah atau aku yang akan mendudukkan mu?" Ayuna menatap pada Rangga yang tak menatapnya.


Pria itu hanya terdengar berucap ketus tanpa mengalihkan pandangannya ke arah lain. Putri hanya menghela napas melihat tingkah sang anak yang terlalu datar. Seharusnya untuk mendapatkan hati seorang gadis seperti Ayuna, Rangga bisa sedikit menurunkan gengsinya.


"Yuna, duduk lah di sini. Kita makan bersama. Kamu adalah tamu di rumah ini. Tidak seharusnya kamu repot dan makan di dapur. Apa kata orang nanti kalau calon menantu Wijaya justru makan di dapur?"


"Hah? Calon..." Ayuna tak meneruskan ucapannya ketika merasakan tubuhnya sudah di tarik duduk di kursi oleh Putri.


Sarapan pagi itu nampak hening. Ayuna yang merasa kaku satu meja dengan orang kaya seperti mereka sulit sekali menikmati sarapannya. Ia susah payah menelan setiap sendok makanan dengan seteguk air.


Bahkan pikirannya yang semula kacau saat merindukan kedua orangtuanya, kini tak lagi Ayuna rasakan karena terlalu gugup.

__ADS_1


Di depannya, bukankah pria ini adalah orang yang sangat ia benci dahulu? Ayuna sesekali mencuri pandang dengan menatap wajah Rangga yang sibuk makan.


"Kenapa setiap anak muda pasti melewati fase ini? Hahaha lucu sekali mereka." gumam Putri yang tahu jika Ayuna melirik sang anak yang sok jual mahal.


Tingkah Rangga memang begitu sulit untuk di tebak. Terkadang ia terang-terangan mengejar Ayuna. Terkadang ia justru terlihat acuh.


"Sekali lagi menatapku akan ku denda." suara Rangga yang tiba-tiba terdengar membuat Ayuna lepas kendali dengan makanan di mulutnya. Ia reflek menyemburkan semua makanan di mulutnya ke piring Rangga yang masih ada makanan di sana.


"Tuan, Bu Putr, Maafkan saya. Saya tidak sengaja." Ayuna bergegas menarik piring Rangga dengan berkali-kali mengatakan maaf.


Ia benar-benar merasa bersalah telah melakukan hal di luar dugaannya. Ketakutan Ayuna begitu terlihat jelas. Namun, Rangga yang ia pikir akan marah justru hanya diam mengusap tangannya dengan tisu lalu meneguk segelas air. Jika kebanyakan pria tentu akan marah ketika mendapatkan kotoran, tapi bagi Rangga ia seperti mendapatkan sebuah tiupan cinta dari gadis pujaannya.


"Mah, aku ke kantor dulu. Titip calon istriku. Jangan sampai dia gatal dengan pria di kantor." Rangga mencium pipi sang mamah sebelum akhirnya melirik Ayuna yang hanya bisa menunduk tak berani menatap pria tampan itu.

__ADS_1


"Astaga..." Putri menggeleng tak percaya melihat tingkah sang anak.


__ADS_2