Si Kembar Bunga Desa

Si Kembar Bunga Desa
Kesialan Ayana dan Keberuntungan Ayuna


__ADS_3

Di sini Ayana duduk dengan segala rencana jahat yang sudah ia susun dengan baik selama perjalanan menuju ruangan dekan di fakultasnya saat ini. Sebuah identitas dirinya ia bawa sebagai barang bukti agar sang adik segera di keluarkan dari kampus tentu dengan semua alasan yang ia buat bukan sebuah kejadian yang sesungguhnya jika ia meminta Ayuna menggantikan dirinya di kampus. Ayana pun memberikan pada Pak Anwar selaku Dekan, ia pikir tidak perlu membuang waktu untuk ke kaprodi. Dekan mungkin akan jauh lebih cepat memberikan keputusan atas semua tindakan sang adik.


"Apa maksudnya ini?" begitu Pak Anwar bertanya saat Ayana menyerahkan data dirinya dan mengatakan jika ia meminta sang adik yang merupakan saudara kembarnya di keluarkan dari perkuliahan. Ayana tidak ingin dirinya di gantikan dengan siapa pun.


Pak Anwar mendengar cerita Ayana yang panjang lebar dan tentu ada bagian yang berbeda dari yang ia tahu saat ini, pria paruh baya itu hanya menghela napas kasar. Ia tahu jika Ayana adalah mahasiswi yang sangat tidak kompeten dalam pembelajaran. Dan kini dirinya benar-benar yakin untuk menjawab semua hal yang Ayana bingungkan.


"Ini semua berkas salinan ada di sini dan kamu bisa membaca semuanya tanpa meminta saya menjelaskan kembali." Segera Ayana pun membuka map yang berisi data dirinya, bukan itu hanya wajahnya saja yang mirip namun data diri di dalamnya bukan nama Ayana. Melainkan Ayuna Zahira dimana dirinya sudah tercatat sebagai mahasiswi juga di kampus yang sama dan kelas yang sama dengan Ayana. Mulut Ayuna terbuka lebar dan kepalanya menggeleng tak percaya. Di berkas lainnya dirinya juga terdata di sana telah meninggalkan perkuliahan selama satu semester dan juga menunggak pembayaran. Sungguh, Ayana di buat geleng kepala tak percaya dengan semua yang ia lihat saat ini.


"Ini tidak benar, Pak. Saya tidak mungkin harus mengulang semester ini?" ujar Ayana menolak bagaimana mungkin ia harus mengulang semester dan juga membayarnya. Seharusnya Ayuna sudah menyelesaikan ini semua bukan?


"Kalau tidak mau mengulang itu artinya kamu akan di nonaktifkan sebab terlalu banyak masalah yang kamu timbulkan selama kuliah." penuturan pak Anwar membuat Ayana tak habis pikir.

__ADS_1


Kini ingatannya jatuh pada sang adik. "Lalu kalau saya mengulang, apa yang terjadi dengan Ayuna? Seharusnya dia di keluarkan, pak. Dia tidak mungkin mampu membayar kuliahnya di sini." ujar Ayana begitu terdengar sangat meremehkan sang adik yang saat ini justru tidak tahu apa-apa.


"Saya sudah katakan lihat semua berkas itu dengan benar sebelum bertanya pada saya lagi. Sebab di sana sudah sangat lengkap saya rasa." tutur Pak Anwar yang kembali di lakukan oleh Ayana. Keterkejutan wanita itu semakin menjadi kala melihat pembayarann kuliha Ayuna bahkan dari awal semester sampai lulus nanti telah lunas dengan nama seorang yang tidak ia kenali, Putri Wijaya. Yah nama yang memang sangat asing tanpa ia tahu jika nama akhir wanita itu adalah nama seseorang yang ia sangat cari hingga Ayana memutuskan kembali ke kota.


Ayana terdiam cukup lama berusaha mempercayai apa yang ia lihat saat ini. Tidak. Tidak mungkin Ayana melihat sebuah kebenaran ini.


Di tempat yang berbeda, Ayuna sudah nampak sibuk bekerja meski perasaannya begitu terlihat sedih. Ayuna lemas tak berdaya mengingat sang kakak sudah kembali ke kampus dimana artinya ia tak akan bisa mengambil kesempatan melanjutkan kuliah sang kakak.


"Iya, Ibu Putri. Anda memanggil saya?" tanya Ayuna yang langsung berdiri dari kursi kerjanya di depan ruangan Putri saat itu.


"Ikut ke ruangan saya yah." Ayuna pun patuh dan masuk ke ruang kerja Putri. Di sana ia tampak menantikan tugas apa yang akan di berikan oleh sang boss.

__ADS_1


"Ada apa? Kenapa lemas seperti itu?" Ayuna merasa bersalah menunjukkan raut wajah yang tidak bisa ia kendalikan saat ini.


"Bu, sebelumnya saya minta maaf. Jika ibu mau memecat saya juga tidak apa-apa. Sebab ijazah saya kelak mungkin tidak bisa saya dapatkan. Saya keluar dari kampus, Bu-" belum sempat Ayuna melanjutkan perkataannya, tibat-tiba saja ponselnya berdering dan membuat Ayuna bingung melihat nomor yang tidak ia kenal.


"Angkatlah," pintah Putri begitu mengerti.


"A-apa? Saya tetap bisa berkuliah? Bukankah..." Ayuna terdiam saat mendengar penjelasan dari seorang kaprodi di kampusnya. Dimana ia mengatakan pada Ayuna jika kuliahnya akan tetap berlangsung bahkan dengan data dirinya sendiri bukan data diri sang kakak. Ayuna menatap Putri yang tersenyum padanya saat ini. Air mata Ayuna berderai kian bebas saat mendengar semua biaya kuliahnya bahkan sudah lunas dengan nama penanggung jawab adalah Putri Wijaya. Dan Ayuna sangat tahu siapa sosok pemilik nama seperti malaikat itu.


Ketika sambungan telepon terputus, Ayuna tak bisa menahan diri untuk mendekati Putri dan mencium tangannya berkali-kali. Sungguh Ayuna tidak tahu keberuntungan apa yang ia dapatkan saat ini sampai bisa bertemu dengan orang sebaik Putri.


"Saya berjanji, Bu. Saya akan membayar dengan gaji saya bahkan jika sampai seumur hidup saya bekerja dengan ibu akan saya lakukan." ujarnya dengan tulus.

__ADS_1


__ADS_2