
Semua tenaga medis yang terlihat berlalu lalang dari ruangan rawat milik Fikram akhirnya keluar dengan di wakili satu orang dokter yang berdiri di ambang pintu. Melihat itu Ayuna bergegas mengusap air mata dan mendekati pria itu. Air matanya seolah sulit di hentikan hingga kedua tangan wanita itu terus menerus mengusap air matanya. Rangga pun turut melangkah mendekati Ayuna.
“Dok, bagaimana ayah saya?” tanya Ayuna tanpa sabarnya.
“Pasien terlambat kami tangani, Nona. Ayah anda tidak bisa kami selamatkan. Maafkan kami tetapi kami sudah berusaha mengerahkan kemampuan kami semuanya, namun takdir berkehendak lain.” Terasa mimpi begitu buruk Ayuna berdiri tak bisa menopang beban tubuhnya. Ia luruh ke lantai andai saja Rangga tak sigap menahan tubuhnya.
“Ayuna. Ayuna!” Rangga berusaha menyadarkan wanita di dekapannya. Ayuna menangis lemas tak bisa melangkah ke ruangan sang ayah.
Ia hanya bisa menggeleng tanpa menangis lagi. Terasa semua seperti mimpi. Bibirnya terus mengucap kata ayah berulang kali dengan lirih.
“Ayah…ini tidak mungkin. Ayah tidak mungkin pergi.” ujarnya terus menolak kenyataan.
__ADS_1
Rangga segera mengirim pesan pada sang ibu dan memapah tubuh Ayuna berjalan ke arah ruangan di mana semua tenaga medis segera keluar menyisahkan satu perawat yang akan membantu Ayuna menyiapkan semua kepulangannya.
Pelan Rangga menuntun Ayuna masuk meski wanita itu sulit sekali menggerakkan kakinya.
“Katakan ayahku masih ada. Tolong katakan ini semua tidak benar.” Hanya diam yang Rangga lakukan hingga tangisan pun pecah ketika mereka berada di dalam ruangan.
“Ayah!!!” Jeritan pilu Ayuna menggema di ruangan yang tidak tertutup pintunya. Dimana suara itu sampai keluar ruangan. Tak lagi Rangga perdulikan. Kesedihan Ayuna benar-benar membuat pikirannya ikut kalut.
“Apa yang mau ayah makan? Bangun! Yuna akan siapkan. Bangun, Ayah. Bangun! Ayuna akan lakukan apa pun yang ayah inginkan. Apa masih kurang selama ini Ayuna turuti semua keinginan ayah? Apa masih kurang ayuna diam saja selama ini tanpa mau melawan ucapan ayah? Ayah mau apa? Katakan ayah. Ayuna akan turuti semua asal ayah buka mata. Tolong Ayuna mohon, Ayah.”
Rangga menunduk merasakan kedua matanya ikut panas mendengar semua curahan hati sang pujaan. Ia tak kuasa melihat Ayuna sedih seperti ini.
__ADS_1
Tak ada satu pun anak yang kuat melihat kepergian orangtuanya. Bahkan selama hidup pun, Ayuna terus ikhlas melakukan semua kebaikan demi sang ayah. Tak perduli bagaimana sang ayah yang selalu membedakan dirinya dan Ayana. Ayuna tetap mencintai sang ayah selayaknya anak pada ayahnya. Namun, keadaan justru semakin menyiksa Ayuna.
Wajah cantik nan putih itu tampak memerah memejamkan mata meletakkan pipinya di dada sang ayah. Berharap dengan memejamkan mata berdoa detak jantung itu kembali terasa di dada kurus sang ayah.
Hingga suara seorang wanita pun terdengar membuat Ayuna membuka matanya. Sentuhan lembut di pundaknya Ayuna rasakan.
“Yuna…” itu adalah suara Bu Putri.
Wanita yang melahirkan Rangga tampak memeluk Ayuna ketika gadis itu semakin menampakkan kesedihannya.
Ayuna terisak di pelukan wanita paruh baya itu. Sedang Rangga sudah bergegas keluar dari ruangan itu dan mengurus semua kepulangan jenazah dari ayah Ayuna.
__ADS_1