Si Kembar Bunga Desa

Si Kembar Bunga Desa
Menahan Diri Dari Kebiasaan


__ADS_3

Sebuah mobil mewah dengan beberapa pengawal di belakang yang juga menggunakan mobil nampak terparkir berjajar di depan rumah milik Fikram yang tidak memiliki halaman begitu luas. Terpaksa mobil milik Rangga saja yang masuk ke halaman rumah itu sedang mobil lainnya terparkir di pinggir jalanan saja. Fikram pun melangkah keluar dengan menatap pria yang sudah berdiri di hadapannya saat ini.


"Silahkan masuk, Tuan. Ayuna sedang bersiap." tuturnya dengan begitu homat menyambut kedatangan Rangga.


Di depan pintu seorang gadis cantik dengan penampilan sederhana berdiri menunduk. Rangga senang melihat sika Ayuna yang begitu terlihat patuh meski beberapa kali ia mendapat ucapan ketus dari gadis tersebut. Namun, saat itu Rangga tergerak hatinya untuk melihat ke sekitar barangkali ia bisa melihat dua gadis cantik yang sangat sama memiliki wajah. Entah mengapa ingin sekali rasanya Rangga mengetahui letak perbedaan mereka.


"Kami harus pergi dulu. Sebab hari sudah mulai gelap." ujar Rangga berpamitan.


Ayana nampak mencium punggung tangan sang ayah, sungguh dirinya benar-benar berubah menjadi gadis yang sangat patuh. Keduanya memasuki mobil dan melaju menuju ke arah kota di mana keluarga Rangga sudah menunggu kedatangan mereka. Rangga yang mengutarakan temuannya dengan Ayuna terpaksa meminta pihak keluarga untuk memberi jalan tengah sebab ini semua ada campur tangan keluarga besar. Meski pun Rangga adalah penerus semua bisnis dari mendiang sang ayah.


Sekaligus berniat ingin mengenalkan gadis pilihannya dengan keluarga besar. Yah, itulah inti sebenarnya pertemuan malam ini. Membahas semua masalah desa hanya sebuah alibi Rangga saja. Sebab ia tahu jika bukan mengatakan hal itu, Ayuna tak akan mau pergi dengannya.

__ADS_1


"Mengapa tak memakai baju bagus?" tanya Rangga yang melihat penampilan Ayuna sangat biasa. Bahkan wajah pun terkesan cuek.


"Ini semua gara-gara si Yuna, pakai nanya lagi. Kalau bukan karena pangeran sepertimu mana sudi rasanya berpakaian seperti ini. Bahkan wajahku lihatlah sudah seperti ibu-ibu saja." gerutu Ayana yang memilih menjawab dalam hati saja.


Selebihnya ia hanya diam enggan menjawab ucapan Rangga. Inilah yang ia lihat dari sang adik setiap kali bertemu dengan Rangga. Beruntung sikap Ayuna sudah banyak di pelajari oleh Ayana. Jika tidak maka semua pasti akan sia-sia. Rangga akan tahu siapa dirinya sebenarnya.


"It's oke. Sekarang kita akan berhenti di salah satu salon." Mobil pun berhenti ketika mereka berada di kota. Perjalanan yang tidak begitu jauh sebab mereka sangat laju dan hanya di kota yang dekat dengan desa. Keluarga Rangga ia bawa ke kota tersebut demi mendekatkan jaraknya dengan pertemuan malam ini.


"Tidak, ini tidak perlu. Kita hanya akan membicarakan perihal warga desa bukan? Aku rasa tidak penting dengan penampilanku." Lagi-lagi Ayana berakting sebagai sang adik. Meski dalam hati ia juga sangat mengharapkan penampilannya bisa berubah malam ini. Setidaknya tak membuat dirinya malu bertemu dengan banyak orang.


"Yuna, please...malam ini saja." ujar Rangga memohon dengan sangat. Tangannya menggenggam tangan mungil milik Ayana.

__ADS_1


Matanya menatap dalam kedua mata milik Ayana. Ia tak mungkin tega melihat penampilan wanita yang ia cintai seperti itu. Sangat membuatnya sedih.


Ayuna yang tak tahu harus berbuat apa, hanya diam. Sadar jika tak semua yang Ayuna lakukan bisa ia lakukan. Diam adalah pilihan yang paling tepat saat ini.


Singkat waktu berlalu, kini sebuah hotel ternama yang berdiri kokoh berada di depan Ayana. Mata gadis itu berbinar memandangi bangunan megah di depannya. Dalam hati andai saja ia tak sedang berperan sebagai Ayuna, pasti dengan santainya ia meminta untuk menginap di hotel tersebut bisa dengan mengajak Rangga sekali gus mungkin, pikirnya.


"Aku bisa jalan sendiri." lagi Ayana menepis kasar tangan Rangga yang ingin menggenggam saat masuk ke loby hotel.


Rangga tampak menyembunyikan senyum melihat tingkah ketus dari Ayana.


Sangat cantik. Itulah pujian yang Rangga berikan pada Ayana saat melihat gadis itu memakai dress simpel dengan rambut yang di tata rapi. Tak begitu mencolok sebab Ayana yang meminta untuk di rapikan saja bukan di make up dengan berbagai paduan warna.

__ADS_1


__ADS_2