Si Kembar Bunga Desa

Si Kembar Bunga Desa
Takut Tersaingi


__ADS_3

Para pengurus desa nampak berkumpul malam itu di kantor dan juga kedatangan Rangga. Mereka tampak membicarakan perihal besok adalah hari yang mereka pilih untuk mulai melakukan penggusuran. Semua masing-masing warga yang setuju di tempat tersebut sudah mendapatkan kompensasi yang lumayan banyak dari Rangga. Ia meminta sang asisten untuk membagikan pada beberapa orang termasuk kepala desa yang juga turut andil dalam hal ini.


"Pastikan semua berjalan lancar. Saya tidak ingin ada kendala apa pun lagi." ujar Rangga dan di angguki kepala oleh Pak Kodir.


"Siap, Tuan. Semua akan berjalan lancar gadis itu juga sudah kami pastikan akan bungkam sebab uang sudah kami berikan pada ayahnya." Mendengar hal itu Rangga hanya diam. Dalam hati ia pun percaya jika gadis yang sudah mencuri hatinya akan menyetujui ini semua. Terlebih ia sudah membuat Ayana tak bisa berkata-kata setelah membelikan semua yang ia inginkan.


Malam itu juga Rangga pun bergegas keluar dari desa setelah mendengar dari beberapa warga dan kepala desa yang meyakinkan dirinya jika tak ada yang menghalangi semua pembangunan besok harinya. Bahkan malam yang gelap itu beberapa warga turut membantu mendatangi warga yang tak setuju untuk mereka beri uang. Jika mereka pikir semua akan berjalan mulus, nyatanya salah besar. Mereka semua melempar uang tersebut ke depan wajah orang yang memberikan. Tanda tangan yang di perlukan pun tak mereka berikan.


"Pergi dari sini! Pergi! Kami tidak akan tanda tangani persetujuan itu." amukan di malam hari terdengar dari beberapa rumah.


Hingga pagi harinya ketika Ayuna bersiap untuk pergi bekerja, rumahnya di datangi oleh banyak warga yang memintanya untuk bersuara. Ayuna nampak kaget sebab ia tidak menyangka jika proses penggusuran begitu cepat. Sungguh rasanya sangat geram melihat tingkah orang kota yang tidak punya perasaan itu.


Di sinilah mereka semua berdiri dengan poster besar yang bertuliskan segala penolakan hingga mereka siap untuk tubuh mereka di gusur di tempat itu juga. Tak perduli akan tubuh mereka yang habis terpotong atau tertindas alat berat. Beberapa alat berat nampak sudah memasuki desa pagi itu dengan pengawalan yang ketat. Kepala desa dan para pengurus kantor turut menyaksikan. Mereka tak bisa melakukan apa pun saat ini sebab warga yang menolak jumlahnya jauh lebih besar dari mereka yang menerima uang sogokan itu.


Berita tersebut terdengar sampai ke telinga Rangga yang berada di hotel kota dekat desa. Wajahnya mendadak memerah emosi saat menerima laporan dari anak buah jika para warga masih berkeras menolak bahkan kini mereka melempari alat berat tersebut dan juga para pekerja dengan batu dan kayu.


"Apa maunya gadis itu?" geram Rangga saat melihat kembali layar ponsel di mana video Ayuna kembali berdiri tegak di barisan paling depan. Pikirnya setelah har kemarin semua baik-baik saja. Sebab Ayuna tak mengatakan apa pun padanya mengenai penggusuran tersebut.


"Bawa paksa gadis itu kemari!" panggilan yang hanya sekilas membuat sang anak buah bergerak menerima perintah sang tuan.


Di tengah kemarahan warga mereka berusaha mendekat bahkan tak perduli jika kepalanya ada yang terkena batu lemparan dari warga.


"Lepaskan tanganku!" Ayuna berteriak keras. Kedua tangannya sudah di genggam kuat oleh beberapa pria yang ingin menariknya menjauh dari sana. Namun, nyatanya semua tak semudah bayangan mereka. Justru warga tampak semakin marah dan menyerang para anak buah Rangga.

__ADS_1


Mereka tak akan membiarkan Ayuna di bawa pergi. Mereka akan melindungi Ayuna seperti Ayuna yang menjadi garda terdepan dalam penolakan ini.


"Sudah. Sudah hentikan. Sudah cukup!" Ayuna berteriak kala banyak orang mengerubuni anggota Rangga. Bagaimana pun Ayuna tak ingin ada hukum yang akan menyeret salah satu dari mereka.


Melihat wajah para pria tampan itu babak belur dan berantakan, Ayuna melangkah mendekati mereka. "Katakan pada bosmu, kami akan berdiri di sini sampai bosmu yang angkuh itu menerima pembatalan penggusuran tanah di desa kami. Jika tidak, bukan hanya kalian saja yang kami habisi. Tapi kami akan menghabisi bosmu juga." Semua warga ikut bersorak mendukung ucapan Ayuna.


Beberapa anak buah Rangga yang tak jauh pun berlari membantu teman mereka yang sudah lemas tak mampu berdiri lagi. Niat ingin membawa paksa Ayuna pergi dan menghadap pada sang atasan, mereka justru mendapat serangan yang begitu mengerikkan.


"Apa? Dia berkata seperti itu? Keterlaluan!" Di sini semua anak buah yang gagal membawa Ayuna tampak menundukkan kepala menyampaikan pesan dari Ayuna untuk sang bos.


Rasanya sulit percaya jika Ayuna sekasar itu bicara padanya. Dari ucapan gadis yang ia antar semalam begitu terdengar sangat lembut dan manis. Rangga terdiam beberapa saat menimbang-nimbang apa yang harus ia lakukan. Pada akhirnya ia pun meminta semua berhenti hari itu dan ia sendiri yang akan datang menghampiri gadis itu hanya dengan berbicara dari hati ke hati.


"Keluarkan mobil!" pinta Rangga yang ingin pergi seorang diri.


Mungkin ada maksud tertentu yang ingin gadis cantik itu ucapkan padanya secara pribadi, dan Rangga yang ingin semua berjalan bersamaan, cinta dan karir tentu tak ingin membuang-buang waktu saat ini. Hari ini juga ia akan membawa gadis itu berjalan bersama satu mobil tanpa ada orang lain.


"Lakukan perintahku." ujar Rangga tegas yang tak bisa di bantah sedikit pun.


Tepat pada pukul dua belas siang Rangga tiba di desa di mana perjalanannya menuntun pertemuan dengan gadis yang membuatnya harus berkendara seorang diri. Sosok Ayana nampak duduk tertawa sambil bermain ponsel dengan beberapa teman kuliahnya yang juga berasal dari desa tersebut. Namun, penampilan Ayana nampak lebih mencolok dari para temannya yang sama sebagai anak buruh kebun.


"Ayana, lihat. Itu pria yang waktu itu kan?" salah satu dari mereka pun sadar dan menunjuk pada Rangga yang menurunkan kaca mobil. Pria tampan berwajah putih dan memakai kaca mata hitam nampak menoleh pada Ayana.


Dengan senyum mengembang Ayana datang menghampiri Rangga. Ia menunduk sedikit menatap wajah tampan Rangga yang masih berada dalam mobil. Posisi itu tentu saja membuat mata Rangga menatap sedikit belahan bumi yang tersembunyi di dalam sana.

__ADS_1


"Mau mengajakku jalan-jalan?" dengan senangnya Ayana bertanya. Suara yang ia buat sedikit keras sontak membuat para temannya yang mendengar syok bukan main.


"Masuklah." pintah Rangga hangat. Lagi-lagi ia di buat heran. Apa benar apa yang anak buahnya katakan padanya jika gadis ini mengancam akan menghabisi Rangga. Sungguh membuat Rangga bingung. Ia menatap pergerakan tubuh Ayana yang masih tersenyum duduk di sisinya saat ini. Sekali lagi Ayana mengembangkan senyum saat menoleh padanya.


"Kita mau kemana?" tanyanya dengan wajah masih begitu bahagia.


"Apa kita perlu ke rumahmu dulu untuk meminta ijin pada orangtuamu? Aku akan membawamu berjalan ke kota." tutur Rangga hangat.


Mendengar kata rumah, buru-buru Ayana menolak. Jujur ia akan sangat takut jika sampai pria di sampingnya ini mengenal saudara kembarnya. Entah mengapa ada rasa takut persaingan dengan Ayuna yang selalu unggul darinya sejak dulu. Meski keberuntungan selalu berpihak pada Ayana.


"Tidak perlu. Ayahku sedang sibuk kerja. Lagi pula nanti temanku akan memberi tahu ayahku kok." ujar Ayana.


Mobil pun melaju saat itu menuju arah kota. Saat ini Rangga ingin membuat wanita di sampingnya lebih ia kenal lagi. Mungkin dengan begini semua akan lancar dan ia pun bisa meyakinkan hati jika memilih wanita cantik yang bersamanya saat ini.


"Apa komentarmu tentang penggusuran tanah itu?" tanya Rangga yang tiba-tiba membahas tanah pada Ayana.


Ayana sontak merasa ada yang tidak beres dari pria di sampingnya. "Tanah?" gumamnya dalam hati terdiam sejenak enggan gegabah menjawab.


"Em...aku rasa itu cukup baik. Setidaknya bisa menunjang kemajuan desa kami. Itu sanga tepat, Tuan. Anda begitu menjadi penolong untuk desa kami." jawab Ayana tersenyum kikuk.


"Lalu kenapa kau menolak keras pembangunan yang akan kami lakukan? Mengapa jawabanmu justru berbanding terbalik?" lagi Rangga bertanya dan kini Ayana terdiam bingung.


Sejak kapan ia menolak penggusuran dan pembangunan itu? Wah ini pasti hal yang di lakukan oleh sang adik kembar. Dan Ayana sangat yakin jika Ayuna lah dalang dari semua permasalahan tanah itu. Bukan ia tak kenal dengan watak sang adik yang terlalu hidup baik.

__ADS_1


"Oh em tidak. Saya sudah berubah pikiran, Tuan. Tanah itu akan jauh lebih baik jika di kelola dengan orang seperti anda yang lebih berpengalaman dari pada kami orang desa yang tidak tahu banyak perihal tana." ia mengembangkan senyuman lebar meski dalam hati Ayana berpikir keras untuk memastikan apa benar ini semua adalah ulah sang adik dan akan melakukan apa pun demi keberlangsungan pembangunan tersebut.


Di sini Rangga nampak berpikir dengan penuh tanya. Mengapa begitu mudah merubah pikiran wanita yang terdengarnya sangat kasar namun lembut ketika bertemu dengannya? Apa semua hanya karena mereka telah bertemu secara pribadi seperti ini lantas wanita di sampingnya berubah pikiran lagi? Sungguh Rangga jadi bingung menebak sosok wanita di sampingnya.


__ADS_2