
Pertama merasakan bangku kuliah, rasanya Ayuna benar-benar antusias sekali. Ia begitu senang bisa menjadi mahasiswi lagi. Kesempatan yang tidak akan ia sia-siakan. Berbagai rencana telah ia susun rapi selama berada di kampus. Kuliah hari itu berjalan dengan baik, Ayuna cukup duduk memahami apa yang sedang di bahas oleh kelompok di depan sana. Di samping ia melihat gadis manis yang tersenyum padanya.
“Em maaf, giliran aku maju kapan yah? Apa kamu punya daftar kelompoknya?” tanya Ayuna sebab ia sendiri belum banyak tahu soal perkuliahan. Ingin bertanya pada sang kakak rasanya tak mungkin.
Ayana pasti akan berbicara panjang lebar. Dan itu tentu saja bukan jalan untuk Ayuna keluar dari masalah.
“Kan kamu sudah, Yan. Ini kan tinggal kelompok terakhir.” ujar wanita itu yang membuat Ayuna harus berbohong lagi.
“Hehe sory aku lupa.” ujarnya.
Perkuliahan di hari pertama pun akhirnya usai. Saat itu Ayuna merasa harus mencari tahu semua soal perkuliahan. Sebab ia tidak ingin tertinggal tentang tugas atau lainnya. Satu-satunya orang yang bisa ia tanya adalah gadis yang duduk di sebelahnya tadi.
__ADS_1
“Yana, kamu baik-baik saja kan? Ini nggak lagi mimpi kan?” Gadis itu bertanya heran ketika mendengar Ayuna menanyakan tentang materi yang akan di bahas minggu ini di semua mata kuliah.
Lagi-lagi Ayuna tersenyum kikuk. “Nih catatan aku semua materi untuk minggu ini dan minggu depan. Semua lengkap kok tentang persentasi dan juga tugas yang harus kita kerjakan. Atau kamu mau ikut juga ke perpus besok setelah kuliah pertama selesai?” Mendengar tawaran yang sangat menyenangkan, sontak saja Ayuna mengangguk.
Ia senang bisa mendapatkan teman di hari pertama kuliahnya. Namun, keadaan itu justru membuat teman di kelas Ayuna menatapnya heran.
“Yan, apaan sih kok gabung sama dia? Ayo ke kantin,” seru salah satu teman Ayuna tidak tahu jika orang yang ia ajak bicara adalah orang yang berbeda.
Ia ingin pulang segera dan memanfaatkan waktu untuk mencari kerja. Ayuna tidak boleh fokus kuliah saja. Biaya sekolahnya berbeda ketika Ayana yang sekolah. Kali ini ia harus mampu membiayai kuliah sendiri.
Entah apa yang membuat pikirannya kacau, Ayuna tiba-tiba saja melamun membayangkan wajah pria tampan yang menatapnya dengan dalam. Yah, tatapan pertama mereka yang bertemu ketika insiden demo di depan kantor desa.
__ADS_1
“Ya ampun…apa sih ini kepala? Baru sehari di buat kuliah sudah ngeblank.” umpatnya memukul kepala.
“Yuna, sudah pulang?” sapa sang ibu kos begitu ramah. Ayuna balas tersenyum melihatnya.
“Ibu, ini kue saya bawa buat ibu.” ujarnya memberikan kue pada ibu kos tersebut.
“Ayo makan sama ibu. Baru aja ibu masak.” Keduanya pun segera menuju dapur. Ayuna begitu nyaman tinggal di tempat baru ini.
Jauh sekali perbedaannya dengan tempat tinggal sang kakak. Di tengah kegiatan makan mereka, Ayuna bertanya tentang daerah yang banyak membutuhkan tenaga kerja. Secepatnya Ayuna harus mendapatkan penghasilan.
Hingga tak lama kemudian suara beberapa teman kos mulai terdengar datang. Mereka pun berkumpul makan bersama sembari menikmati televisi yang menyala.
__ADS_1
Di kampusnya, Berson tampak mendatangi satu persatu teman main Ayana. Ia mencari gadis itu sebab telah berani melukai kepalanya. Marah, tentu saja Berson sangat marah. Tak biasanya Ayana akan sekasar itu padanya.