Si Kembar Bunga Desa

Si Kembar Bunga Desa
Awal Mula Kejadian


__ADS_3

Di tengah isakan Ayuna dan semua orang yang memandang sedih kepergian ayah dari dua anak kembar itu, tiba-tiba saja suara tamparan begitu keras menggema di ruangan itu. Dimana wajah Ayuna terhempas ke samping dengan tangan Ayana yang mengayun kuat. Ayuna memegang pipinya ingin sekali melawan kelakuan sang kakak, namun ia sadar ini bukan waktu yang tepat. Tangannya hanya mengepal kuat dan gemetar menatap tajam Ayana. Terlihat jelas bagaimana liciknya wajah wanita itu ketika mengangkat sebelah alisnya seolah ingin mengajak sang adik bertengkar.


"Aku tidak akan tinggal diam dengan semua ini, Kak." setelah berkata demikian, Ayuna pun meninggalkan sang kakak. Ia melanjutkan langkahnya ke rumah dengan menggandeng tangan Bu Putri, tanpa perduli bagaimana orang-orang menatap wajahnya yang memerah bekas tamparan Ayana.


Sedangkan Rangga menghela napas kasar melihat itu semua. Ia masih menghormati Ayuna untuk tidak ribut di keadaan menyedihkan seperti ini. Ayuna kembali ke rumah di ikuti dengan banyak orang, di sini Ayana tinggal sendiri tanpa siapa pun. Matanya menatap dua makam yang bersampingan itu dengan tatapan datar.


"Kalian mengapa selalu membedakan aku dan Yuna, Ayah? Ibu? Apa aku bukan anak yang kalian inginkan? Kenapa!" di sunyinya kuburan saat itu Ayuna berteriak dengan sangat marah.


Bayangan ketika berada di rumah sakit kembali membuatnya sangat murka. Dimana ketika ia mengunjungi sang ayah justru pria itu memintanya pergi.

__ADS_1


"Yana? Untuk apa kau di sini? pergi! Ayah tidak ingin kau mengganggu kehidupan adikmu. Pergilah Yana!" suara serak sang ayah terdengar di ruangan kala itu namun Ayana terus melangkah.


"Ayah kenapa jadi mendukung Yuna? Ayah tahu kan jika aku kembali ke mari untuk mencari Rangga? Dan dia di sini saat ini." ucapan Ayana kala itu membuat sang ayah terus menggelengkan kepala tak setuju.


"Dia tidak mencintaimu, Ayana. Dia mencintai adikmu."


"Tapi ayah lihatkan dia bersamaku sejak tadi menjaga ayah. Ayah lihat dia juga mencintaiku karena aku dan Yuna memiliki wajah yang sama."


Geram mendengar pembelaan sang ayah pada adiknya, sontak saja Ayana berteriak marah di ruang rawat itu tanpa ada yang tahu.

__ADS_1


"Ayah jangan membuat aku marah! Aku tidak akan pergi dari Rangga. Sejak awal dia adalah milikku." Fikram benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran sang anak hingga ia memberikan ancaman pada Ayana.


"Ayah yang akan memberi tahu Rangga siapa kamu. Dimana adikmu? Katakan Ayana?"


"Oh jadi ayah mau membongkar ini semua pada Rangga? Sebelum ayah membongkar aku yang akan menutup mulut ayah." Fikram menggeleng tak setuju ketika Ayana mengangkat bantal di bawah kepala sang ayah hendak menutupp wajahnya.


Beberapa kali Fikram berusaha ingin menghindar namun keadaan tubuhnya yang lemas membuat pria itu tak bisa bergerak lebih cepat hingga lama wajahnya tertanam oleh bantal yang Ayana tindis saat ini.


Tak ada yang tahu jika keadaan ini membuat Fikram semakin buruk keadaannya. Tubuhnya kejang-kejang dan saat itu pula Ayana justru lari keluar ruangan rawat dengan langkah santai. Tak ada yang curiga satu orang pun sebab memang ia begitu pandai berakting.

__ADS_1


Detik berikutnya seorang suster membuka pintu dan berteriak kala melihat pasienya sudah dalam keadaan mengkhawatikan. Makan di tangannya yang ia bawa untuk Fikram pun di letakkan begitu saja dan memanggil dokter.


__ADS_2