
Setahun berlalu, Ayuna nampak kembali seperti biasa fokus dengan kuliah dan juga bekerja. Setiap berangkat mau pun pulang kuliah Rangga selalu sedia mengantar jemput gadis cantik itu. Putri tak lagi mengawasi pergerakan keduanya sebab Ayuna dan Rangga sudah dewasa dan tentu tahu batasannya.
"Sudah selesai kuliahnya, Tuan Putri?" sapa Rangga dengan tersenyum hangat membuka pintu mobil untuk Ayuna.
Sapaan yang di balas Ayuna dengan senyum hangat juga. Tak sedikit yang iri dengan pria gebetan Ayuna. Tampan, mapan dan sangat romantis meski mereka hanya sering menyaksikan di depan kampus saja. Tapi, dari jauh pun sudah terlihat jelas apa yang selalu Rangga lakukan setiap datang mengantar atau pun menjemput Ayuna.
"Loh kita mau kemana, Rangga? Ini bukan jalan pulang ke rumah aku." sahut Ayuna heran sebab ia melihat mobil menuju jalanan perumahan yang asing baginya.
Jelas ini bukan jalanan perumahan Bu Putri. Lama Rangga hanya diam tak memberikan jawaban. Kali ini hubungan mereka sedikit lebih ada kemajuan. Dimana Rangga tak lagi menggunakan supir selama bekerja untuk waktu berduanya dengan Ayuna.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian mobil pun berhenti di depan pagar rumah yang bergeser terbuka dan kembali mobil melaju pelan ke halaman rumah megah di depan sana. Ayuna tampak penasaran kemana ia di bawa pria tampan ini.
"Tunggu sebentar." ujar Rangga turun lalu membuka pintu mobil untuk Ayuna.
Keduanya berjalan dengan Rangga yang menggandeng tangan Ayuna. Langkah keduanya terhenti di depan rumah tinggi dan mewah yang masih nampak baru itu. Bahkan belum ada penghuni di dalamnya sekali pun pelayan. Ayuna menoleh pada pria yang menengadah menatap bangunan indah itu.
"Yuna..." panggil Rangga pelan sembari menghela napas berulang kali.
"Di depan rumah masa depan kita, aku ingin mengutarakan niatku untuk meminangmu. Jadilah istriku, wanita yang akan ku cintai seumur hidupku sampai aku menutup usiaku. Menikahlah denganku, Ayuna. Cinta yang tak kan pernah ku biarkan pudar ini akan terus menghujanimu dengan air mata bahagia." Saat yang bersamaan Rangga membuka kotak cincin berlian di depan Ayuna.
__ADS_1
"Rangga..." Ayuna menjatuhkan air mata haru dan bahagia melihat apa yang Rangga lakukan padanya.
Dari arah lain terdengar suara, "Terima, Non." Ayuna menoleh menyadari jika ada orang yang menyaksikan adegan romantis ini. Dengan derai air mata yang tak hentinya berjatuhan Ayuna mengangguk menoleh pada Rangga.
Saat itu Ayuna membungkam bibirnya menahan suara tangis. Bibirnya terus bergetar bersamaan dengan kedua pundaknya yang bergetar. Tangannya sudah terlihat cincin indah melingkar. Rangga tersenyum juga turut menjatuhkan air mata bahagia.
Tak menyangka ia memilih wanita yang memiliki kisah hidup begitu sulit untuk menjadi istrinya. Sebagai pendamping seorang pengusaha sepertinya tentu Rangga harus memilih wanita yang kuat dan mandiri seperti Ayuna. Yang akan mendampingi dirinya di kala sukses mau pun jatuh terpuruk kelak.
"I love you, Ayuna..." Keduanya pun berpelukan.
__ADS_1
Security yang menyaksikan ikut tersenyum melihat calon majikannya sudah melangkah jauh lebih maju.
"Rangga, ini serius?" tanya Ayuna kembali menatap rumah bersamaan dengan Rangga yang menggenggam tangannya memasuki rumah megah itu. Aroma cat yang masih terasa begitu tajam membuat Ayuna yakin rumah ini pasti baru selesai di bangun.