Si Kembar Bunga Desa

Si Kembar Bunga Desa
Sifat Asli Ayana


__ADS_3

Pagi harinya suasana desa yang biasa asri mulai terdengar kebisingan dimana pembangunan pabrik sudah mulai di lakukan. Para warga desa yang biasa bekerja di pagi buta kini berjalan menuju kebun baru mereka. Sedih tentu saja mereka merasa sedih, namun selalu ada kata bersyukur yang mereka ucapkan. Setidaknya masih ada orang baik seperti Rangga hanya demi cintanya dengan Ayuna rela memberikan cuma-cuma lahan yang cukup luas namun tak sebanding dengan lahan yang ia bangun pabrik tersebut. Fokus menanam kembali kebun itulah yang warga lakukan saat ini.


Sedangkan Fikram yang baru saja menyeduh kopi dan roti yang ingin ia celupkan tiba-tiba terhenti kala kedatangan tetangga dekat rumah.


“Ada apa, Bu Laksmi?” tanyanya melihat wanita itu berdiri di depannya.


“Ini Pak, mau ngantarin lauk yang di pesan Ayana.” Kening Fikram berkerut dalam mendengar ucapan wanita di depannya.


Bahkan Ayana saja masih tidur di dalam rumah ketika jam sudah menunjukkan angka setengah delapan.


“Kenapa yah Pak?” Bu Laksmi bertanya kembali saat melihat raut wajah pria di depannya tampak bingung.


Lama terdiam hingga akhirnya Fikram sadar bukan Ayana yang ini tentunya yang melakukan pesanan itu.


“Oh Ayana? Jadi ini saya bayar atau gimana Bu?” tanyanya paham jika sang anak yang di kota pasti mengkhawatirkan dirinya.


“Sudah di bayar sama Ayana, Pak. Nanti sore saya antar lagi makannya yah, Pak. Kalau begitu saya permisi.” Fikram menatap sedih makanan di tangannya.


Ayuna begitu sayang padanya tanpa mengingat apa pun yang pernah ia lakukan. Hari itu niat bekerja urung Fikram lakukan. Ia justru memilih menuju makam sang istri.


Nisan yang berdiri tegak itu ia peluk begitu erat. Fikram memejamkan mata membayangkan momen bersama sang istri di masa-masa sulit mereka. Wanita yang tak pernah mengeluh apa pun keadaannya. Sampai detik terakhir ketika ia jatuh sakit pun dengan lapang dada meminta di rawat di rumah sebab tak memiliki biaya.


Fikram teringat dengan sosok Ayuna yang begitu sabar pekerja keras penuh kasih sayang. Yah, Ayuna adalah cerminan diri sang istri yang kini sudah tiada.


“Maafkan aku Fatim. Maafkan aku…aku berjanji akan berlaku adil pada anak-anak kita. Maafkan aku yang begitu jahat pada Yuna.” Ia menyesali semua perbuatannya.

__ADS_1


Lama pria itu bercerita dengan makam sang istri sembari membersihkan sekitar kuburan tersebut. Hingga merasa puas dengan waktunya mengunjungi sang istri, kini Fikram pun bergegas pulang.


Ayana, tujuannya kali ini adalah bertemu dengan sang anak gadisnya untuk berbicara satu hal. Tepat jam setengah sembilan Fikram tiba di rumah. Namun, tanda-tanda Ayana bangun belum juga terlihat. Segera ia pun menuju kamar dan benar Ayana masih tidur begitu lelap dengan kamar yang berantakan.


“Yana, bangun! Ayana! Bangun!” Panggilnya berulang kali sembari menggoyangkan lengan sang anak.


“Apa sih, Ayah?” Tanpa sadar kesalahannya, Ayana bangun dan menatap kesal pada Fikram.


“Bersihkan kamar ini, masak buat ayah dan segera bereskan rumah. Besok ayah tidak mau tahu kamu harus masuk kembali kerja ke kantor desa.” Fikram membuat Ayana kaget.


Sebab tak biasanya sang ayah bicara dengan tegas padanya.


“Ayah kenapa? Ayah lupa aku siapa?” Bukannya patuh, Ayana justru mengingatkan sang ayah akan satu hal.


Ia sendiri pun sadar jika pria itu memang ingin menikah dengan sang adik. Bukan dirinya. Tapi, Ayana tidak akan membiarkan hal itu terjadi tentunya.


“Ayah jangan sampai membela Yuna, yah? Ayah lupa siapa yang membunuh ibu?”


“Diam, Ayana! Ayah tidak mau mendengar ucapan mu itu. Pergi bereskan rumah dan masak. Berhenti menjadi gadis malas seperti itu.” sentak Fikram membuat Ayana terdiam.


Matanya menatap kesal pada sang ayah.


“Kalau kamu tidak berubah, ayah akan beritahu Tuan Rangga. Siapa kamu sebenarnya.”


Bukan takut mendengar hal itu, Ayana justru terkekeh.

__ADS_1


“Oh ayah sekarang mau ancam aku? Iya? Ayuna juga akan di keluarkan dari kampus kalau dosen tahu bukan dia yang memiliki data di kampus itu, Ayah!”


Fikram benar-benar di buat emosi dengan tingkah sang anak yang begitu berani melawannya. Sadar jika ini semua tentu kesalahannya yang menjadi ayah tidak tegas dan adil pada kedua anaknya.


Keributan pun berakhir dengan Ayana yang memilih mandi dan pergi dari rumah. Entah kemana perginya gadis itu. Sementara Fikram nampak terduduk lemas melihat sikap anak yang selama ini ia manja.


Sedangkan anak yang satu di kota saat ini lagi-lagi mendapat gangguan dari Berson.


“Lepaskan! Tolong! Lepaskan tanganku, Berson.” Ayuna sudah berteriak pagi itu ketika ia berada di sebuah gang dekat kos tempatnya tinggal.


Berson yang sempat melihat Ayuna masuk ke gang tersebut membuat pria itu menunggunya. Dan benar, pagi ini Ayuna pun keluar dari gang kecil itu.


“Hentikan!” Teriakan bersamaan dengan pukulan di wajah Berson sontak membuat pemuda dari desa itu tersungkur ke tanah.


Ayuna nampak mengusap wajahnya yang berantakan. Bayangan Berson yang hendak menciumnya benar-benar menjijikkan.


“Nona, anda baik-baik saja?” tanya pria itu memastikan calon nyonya mereka baik-baik saja.


Ayuna hanya bisa mengangguk. “I-iya saya baik,” jawabnya segera berlali meninggalkan mereka semua. Ayuna sangat takut jika ternyata pria itu teman-teman Berson yang mungkin saja sedang melakukan akting mungkin.


Setiba di kampus Ayuna bahkan tidak tenang. Pikirannya terus terganggu. Bagaimana jika tadi ia selamat dari serangan Berson. Namun, ketika pulang malam ini akan terganggu lagi? Sebab Ayuna ingat malam ini ia akan ada kerja lembur di cafe. Pulangnya pun sedikit larut.


“Yan, gimana ntar malam? Kamu bener mau ambil lembur itu? Besok kita ada kuliah pagi loh.” sahut Liana yang tahu jika Ayuna akan kerja sampai larut malam setelah kuliah nanti.


Dengan senyum kaku di wajahnya Ayuna mengangguk. “Iya, pasti. Nggak apa-apa aku kan masih punya waktu istirahat sebentar nanti malam.” Mendengar hal itu Liana hanya bisa menggelengkan kepala. Ayuna benar-benar gadis yang penuh semangat.

__ADS_1


__ADS_2