Si Kembar Bunga Desa

Si Kembar Bunga Desa
Rencana Tersembunyi Ayana


__ADS_3

Ayana begitu marah sekali, sepanjang perjalanan pulang menggerutu bahkan setiap orang yang ia lewati terus ia berteriak seolah mereka semua tengah melakukan kesalahan padanya. Kos yang semula di tinggali olehnya kembali ia datangi. Pembayaran yang sudah di lakukan oleh sang adik masih bisa ia gunakan. Bahkan Ayana sempat bersitegang dengan sang pemilik kos sebelum masuk kembali. Sebab Ayuna sebelumnya mengatakan jika uang pembayarannya tidak masalah di berikan pada ibu kos. Dan kamar itu boleh di tempati oleh orang lain lagi. Yang terpenting Ayuna tetap akan pindah dari kos itu. Namun, apa yang terjadi saat ini, Ayana justru kembali datang tanpa ibu kos tahu jika mereka adalah dua orang yang berbeda.


"Yah nggak bisa gitu dong, Neng. Kan kemarin Neng sendiri yang bilang uangnya buat ibu saja. Saya tetap pindah dan kamar ini boleh di koskan lagi sama yang lain."


"Saya tidak mau tahu keluarkan orang itu sekarang, Bu. Saya harus masuk saya tidak ada tempat tinggal lagi." teriak Ayana yang tak bisa lagi mengontrol amarahnya.


"Yaelah gimana sih, Neng? Kalau mau berubah baik jangan setengah-setengah dong. Bikin rugi aja. Nanti orangnya pasti marah nih kalau pulang barangnya di keluarin dari kosan." pemilik kos itu nampak bingung sebab kamar kos miliknya sudah penuh semua. Mau tak mau ia pun mengeluarkan barang yang tinggal di kamar Ayana saat ini. Meski kesal, ia tak mau Ayana kembali mengamuk dan merusak kosnya itu. Entah terbuat dari apa kepala gadis di depannya ini sikapnya terlalu bar-bar.


"Argh! Ayuna sialan!" pekiknya marah kala di kamar kosan sudah tak ada barang yang ia miliki. Baju yang ia simpan pun di kamar sudah tak ada. Mau tidak mau Ayana harus mengambil pakaian lagi di desa.


Dimana tinggal Ayuna sekarang pun ia tidak tahu. Ingin memakai pakaian Ayuna rasanya tak mungkin. Ayana sangat jijik dengan penampilan sang adik yang begitu sederhana. Bahkan kuliah Ayuna hanya menggunakan flat shoes saja. Berbeda darinya yang menggunakan heels yang bagus meski tak begitu mahal.


Di kamarnya, Ayana pun menghubungi sang adik namun Ayuna tak kunjung mengangkat panggilan itu. Kini Ayuna tengah sibuk makan di luar bersama dengan Bu Putri. Keduanya nampak semakin dekat saat Ayuna merasa wanita di depannya begitu baik padanya. Dan Ayuna pun sudah berjanji pada dirinya sendiri akan mengabdikan diri pada wanita baik hati tersebut. Setidaknya dengan begitu Ayuna bisa mentransfer setiap bulan uang untuk sang ayah.


"Yuna, apa kamu tidak ada niat untuk membeli rumah? Ibu ada proyek perumahan. Kalau kamu mau, kamu bisa mengambil satu unit tanpa dp kok. Harganya akan saya kasih lebih murah." tawaran Bu Putri terdengar begitu menggiurkan namun tidak untuk Ayuna. Gadis itu menggeleng pelan dan tersenyum.


"Terimakasih banyak, Ibu. Saya rasa gaji saya tidak akan cukup. Belum cicilan biaya kuliah ke ibu. Lagi pula saya tidak ada niatan membeli rumah. Yang terpenting rumah di desa tempat ayah tinggal akan saya renovasi pelan-pelan kedepannya, Ibu." Putri menatap Ayuna yang berucap dengan nada sopan sekali. Sungguh ini adalah menantu idaman baginya. Mau bergelimang harta sebanyak apa pun keluarganya, Ayuna bukanlah ancaman untuk membuat Putri dan anaknya bangkrut. Mereka tak perlu takut jika memilih Ayuna yang sangat baik dan sederhana.


"Kamu benar-benar anak yang baik. Ayahmu dan ibumu pasti begitu beruntung memiliki anak sebaik kamu, Yuna." Mendengar kata ibu di sebut, Ayuna tersenyum sedih dan kecut kala mendengar sang ayah.

__ADS_1


Bagaimana mungkin ayahnya bersyukur memiliki dirinya, bahkan apa pun yang terjadi padanya pun sang ayah tidak akan pernah perduli.


"Ibu saya sudah meninggal, Bu." jawaban Ayuna membuat Putri merasa tak enak hati.


Hari itu mereka banyak menghabiskan waktu berdua hingga akhirnya Ayuna memutuskan pulang saat usai dengan pekerjaan yang di berikan oleh Bu Putri.


Di desa kini Fikram nampak terbaring sakit sejak kepergian Ayana yang mendorongnya hingga terjatuh. Malam saat jam makan suara seseorang yang datang ke rumah itu membuat Fikram hanya bisa berteriak memintanya masuk.


"Pak Fikram, saya mau mengantarkan makan malam untuk bapak." wanita itu membulat sempurna saat melihat pria di depannya terbaring lemas dan wajahnya begitu pucat.


"Loh, Pak Fikram ada apa? Apa yang terjadi?" wanita itu mendekati Fikram dan meletakkan makan yang ia antarkan.


"Tolong, panggilkan tukang urut, Bu. Tulang punggung saya kaku tidak bisa bangun sakit sekali." Fikram mengeluh saat ada orang yang bisa menolongnya.


"Pak Fikram tunggu dulu yah. Saya akan panggilkan tukang urutnya."


"Saya pinjam uang untuk bayar tukang urutnya, Bu. Saya tidak punya uang." Fikram ingat dirinya belum ada mendapatkan hasil sebab tak bekerja hari ini.


"Sudah pak, tenang saja. Uang yang di kasih Ayuna masih ada kok." wanita itu sangat tahu jika Ayuna lah yang bertelponan selama ini dengannya. Jika orang terdekat tentu akan tahu perbedaan Ayuna dan Ayana. Ketulusan yang mereka tunjukkan jelas berbeda.

__ADS_1


Lagi-lagi Fikram tak bisa berkata, sang anak bahkan memenuhi semua kebutuhannya sebagai seorang ayah yang tega dan kejam.


Malam itu Ayuna bergabung dengan beberapa teman kosnya dan juga ibu kos. Suasana kos tersebut begitu tenang bagi Ayuna.


Tidak dengan keadaan Ayana yang justru tengah mendapatkan hukuman dari Berson. Yah kepulangan Ayana dari desa membuat pria itu langsung mendapat kabar begitu cepatnya. Berson datang ke kamar kos Ayana dan langsung menyerang wanita itu dengan sentuhan yang kasar. Yah, ia mebuat Ayana menerima perlakuan kasarnya saat berhubungan. Dan tak ada penolakan seperti yang biasa pria itu dapatkan dari Ayuna.


Hanya suara erangan nikmat yang Ayana keluarkan saat ini. Sejujurnya ia sendiri pun rindu untuk merasakan hal ini, namun pikirannya bukan lagi ingin dengan Berson. Melainkan Rangga lah yang ingin ia layani. Sayang, Ayana sepertinya salah orang jika ingin menggunakan pesona tubuhnya menjerat pria tampan itu. Hidup sebagai pewaris kekayaan Bara Wijaya membuat Rangga sudah kebal dengan godaan para wanita liar di luar sana yang kelasnya bahkan jauh lebih tinggi dari Ayana.


"Wah kamar kramat lagi bersuara kembali. Kirain sudah tobat si Yana." celetuk temannya yang di kamar lain.


"Hahaha mungkin kemarin tobatnya, terus sekarang udah nggak tahan jadi kembali lagi deh." mereka semua menertawakan suara Ayana yang kembali menggema ketika mendapat serang dari Berson dengan bringasnya.


Kamar kos yang begitu sederhana hanya bermodalkan kipas angin membuat tubuh polos keduanya berlumuran keringat. Namun, tak menyurutkan semangat di antara mereka. Hingga akhirnya permainan pun berakhir tepat jam sebelas malam itu pun karena Berson yang merasa lapar. Jika tidak mereka akan terus berlanjut, bukan Berson yang menginginkan lagi. Namun, Ayana lah yang merasa masih tak puas ingin terus menjerit nikmat.


"Kau benar-benar menyebalkan Yana, apa kau sudah kerasukan setiap kali aku datang kau selalu seperti orang gila. Lalu, apa yang membuatmu kembali ke sini bahkan suka rela membuka pahamu itu untukku?" Sejujurnya Berson sendiri merasa bingung dengan sikap kekasihnya yang belakangan ini begitu berubah.


Kini Ayana tersenyum mendengar ucapan Berson. Sungguh lucu menurutnya, Berson saja yang berpacaran dengannya bertahun-tahun masih kesulitan membedakan dirinya dengan sang adik. Dan Ayana kini tahu rupanya Berson sempat ingin melakukannya dengan sang adik. Kini ia tahu mungkin itulah sebabnya Ayuna sampai pindah dari kosan ini.


"Kenapa? Apa itu artinya kau tidak bisa menyentuhnya sama sekali?" pertanyaan Ayana justru membuat kening Berson mengerut dalam tak mengerti arti ucapan sang kekasih. Pria itu menoleh menatapnya heran.

__ADS_1


"Hahaha...kekasihku sendiri pun tidak tahu jika itu adalah adikku. Ini sangat lucu." Ayana terkekeh keras membuat Berson jengah. Rupanya selama ini ia tertipu dengan paras kembar keduanya. Benar saja jika Ayana yang sebelumnya begitu tak ingin di sentuh sedikit pun olehnya. Mereka orang yang berbeda tentunya.


"Ini cukup menarik...yah menarik sekali. Dan ini adalah peluang untukku mendapatkan semua yang tidak bisa aku dapatkan." seringai licik muncul di wajah cantik Ayana saat dirinya berbicara dalam hati. Ada rencana yang muncul tiba-tiba di pikirannya kala memikirkan kebodohan orang-orang membedakan dirinya dan sang adik.


__ADS_2