Si Kembar Bunga Desa

Si Kembar Bunga Desa
Mewujudkan Untuk Sang Kekasih


__ADS_3

Di ruangan ICU terlihat Ayuna menangisi sang ayah yang tidak sadar juga. Dada pria paruh baya itu bahkan tersengal-sengal. Di genggamnya erat tangan sang ayah yang lemas itu. Entah apa yang terjadi hingga membuat sang ayah sampai seperti ini. Padahal sebelumnya keadaannya nampak tidak begitu buruk hanya membutuhkan perawatan saja dari dokter. Di luar, Rangga tampak sedang berbicara dengan salah satu suster yang membawa ayah Ayuna ke ruangan ICU tadi. Ia memasuki ruangan dokter untuk bertanya lebih lanjut mengenai keadaan Fikram.


"Kemana dia?" gumam Ayuna ketika keluar hendak mendengar penjelasan dari dokter.


Sosok pria tampan yang ikut menemaninya ke rumah sakit tak terlihat di sana. Ayuna pun memilih untuk bergegas menuju ke kamar mandi sebab merasa ingin buang air kecil.


Hingga di menit berikutnya terlihat Rangga datang bersama dokter keluar dari ruangan itu. Keduanya memasuki ruangan icu di mana Ayuna nampak masih menangis menggenggam tangan sang ayah.


"Yuna, biarkan dokter memeriksa keadaan ayah lebih dulu." ujar pria tampan itu.

__ADS_1


Ayuna terlihat dengan berat hati menjauhi sang ayah. Dokter meneliti satu persatu anggota tubuh Fikram yang sejak awal menjadi pusat perhatiannya ketika mendapati pria itu tersungkur di lantai ruang perawatan. Ayuna semakin terisak mendengar cerita dokter saat itu.


"Ini ada bekas cekikan di leher pasien. Kami pihak rumah sakit sedang menyelidiki ini semua." ujar dokter itu membuat Ayuna syok mendengarnya.


Rangga yang prihatin hanya bisa mendekapnya erat. Ia turut sedih melihat sang pujaan hati sedih seperti ini.


"Aku ingin Ayah di pindahkan dari rumah sakit ini. Aku ingin ayah mendapatkan penolongan yang lebih intensif," ujarnya dengan terisak.


Tanpa keberatan sedikit pun Rangga mengangguk menyanggupi permohonan gadis yang begitu ia cintai ini. Siapa pun anak pasti ingin melakukan yang terbaik untuk ayah mereka seperti Ayuna saat ini. Meski bisa di bilang ini rumah sakit yang sudah cukup baik di kota itu.

__ADS_1


"Kita akan kirim ayah ke rumah sakit di pusat ibu kota. Di sana akan ada beberapa dokter yang menangani sesuai perintahku." Ayuna mengangguk setuju. Rangga segera meminta dokter mengurus semua rujukan untuk Fikram. Tak butuh waktu lama semua sudah siap hari itu juga. Dan Rangga memindahkan Fikram menggunakan pesawat ketika dokter sudah mengatakan keadaan pasien cukup memungkinkan untuk di pindahkan.


Sejak hari itu Ayuna benar-benar tak bisa lagi fokus untuk bekerja. Dan Bu Putri memberi toleransi pada calon menantunya itu. Sebab ia tahu semua dari Rangga. Namun, dirinya yang sibuk dengan kerjaan membuat wanita paruh baya itu belum bisa menjenguk sang calon besan.


Malam ini Fikram dan Ayuna sudah berada di rumah sakit yang paling terkenal dengan kualitas dan pelayanannya. Ruangan yang begitu terlihat mewah rasanya sangat memanjakan siapa pun yang menjaga keluarga sakit. Ada kasur khusus untuk penunggu di ruangan itu. Rangga mempersiapkan semuanya benar-benar tanpa perhitungan.


"Terimakasih," ujar lirih suara Ayuna berucap pada Rangga.


Remang lampu ruangan kala malam semakin larut saat ini. Entah mengapa berdekatan dengan Ayuna malam ini bahkan dengan lampu yang tidak begitu terang seolah membangkitkan jiwa lelakinya. Yah Rangga menginginkan sesuatu seperti pria pada umumnya meski hanya sekedar sentuhan bibir saja. Hal itu muncul ketika keduanya sejak tadi saling bertatapan dengan dalam.

__ADS_1


__ADS_2