Si Kembar Bunga Desa

Si Kembar Bunga Desa
Tidak Menerima Akibat Kesalahannya


__ADS_3

Heran tentu saja Putri merasa heran dengan sikap sang anak. Sebab biasanya Rangga yang akan gelisah meninggalkan Ayuna. Maunya selalu berdekatan. Hari ini justru ia terlihat seperti pria yang sedang tidak mati-matian memperjuangkan dambaan hatinya. Pagi itu mereka pun bergegas pisah dari rumah megah yang nampak sepi. Di perjalanan Ayuna merasa gelisah berniat ingin mengutarakan sesuatu.


"Em, Bu Putri...bolehkah saya bicara?" tanyanya dengan kegugupan luar biasa.


"Ada apa, Yuna? Kamu mau bertanya saja sekaku itu. Tanyakan saja."


"Em...saya mau mengembalikan rumah pemberian ibu untuk saya cicil. Saya rasa hutang saya dengan ibu terlalu banyak tentu akan sulit saya tebus. Saya kembalikan dan saya akan tinggal di kos-kosan lagi seperti sebelumnya." Bukannya memberikan jawaban, wanita setengah baya itu justru tersenyum mendengar ucapan Ayuna.


"Kalau kamu mau kembalikan, saya anggap hutan kamu bertambah lima kali lipat plus dengan harga rumah." Sungguh malang nasib Ayuna saat ini. Mendengar ucapan Bu Putri ia sampai membulatkan kedua mata tak percaya.


"Lima kali lipat?" lirihnya bertanya ulang dengan melihat jari tangannya sendiri. Mendadak pundak Ayuna merinding di buat wanita itu.


"Tapi, Bu...saya pusing terlalu banyak hutang. Bahkan gaji saya kerja saja tidak seberapa."

__ADS_1


"Kamu fokus kuliah dan menjadi kepercayaan saya. Itu sudah cukup, Ayuna. Kamu sudah seperti anak saya sendiri. Bagaimana mungkin anak berhutang pada ibunya? Sudah jangan pikirkan hal itu lagi."


Dengan jawaban yang tak cukup membuatnya puas Ayuna hanya bisa diam saja menyandarkan kembali tubuhnya pada kursi mobil. Pikirannya masih terus terbayang dengan perbincangannya barusan.


Sungguh membingungkan rasanya bicara dengan bu Putri yang seperti Rangga. Suka seenaknya saja pikir Ayuna. Hari itu Ayuna tampak kerja dengan sangat giat. Ia tak lelah mengerjakan semua yang ada di meja kerjanya. Sesekali ia bertanya pada orang kepercayaan Bu Putri untuk membantunya belajar lebih dalam lagi.


"Menantu idaman." gumam wanita itu terseyum kecil.


"Aduh Pak, saya bisa kok naik angkutan umum saja. Bensinnya mahal kalau ke kampus saya."


"Ini pakai listrik, Non." Ayuna terpelongo sebab di tempatnya listrik hanya di gunakan untuk penerang dan alat elektronik rumahan saja.


Segera ia pun masuk mengingat waktu kuliahnya sudah sangat mepet. Tak ada waktu lagi rasanya untuk tawar menawar dengan sang nyonya. Akhirnya Ayuna tiba di kampus dan masuk ke kelasnya. Ia mendapat sambutan bingung dari para teman-temannya.

__ADS_1


"Saya Ayuna, lihat ini berkasnya." tunjuk Ayuna pada teman-temannya dimana semua tugas yang ia dapatkan dari dosen sudah di kerjakan dan akan di kumpul.


"Ayuna, apa benar kakakmu di penjara?" tanya dosen yang hendak mengisi absensi memanggil Ayuna maju ke depan. Ia bertanya dengan suara pelan.


Ayuna mengangguk. Bagaimana pun perilaku sang kakak, ia tak ingin jika banyak orang mencela kakaknya. Ayana tetaplah saudara kandung untuk Ayuna yang tak akan bisa di hapuskan sampai kapan pun.


"Iya, Pak."


Hari itu juga dosen tak lagi menyebut nama Ayana untuk absensi di kelas. Tinggal menunggu pihak kampus menyatakan jika Ayana di keluarkan dari kampus itu.


Nama yang barusan di sebut kini hanya bisa duduk menangis di dalam sel tahanan. Rasa lapar kian menguasai perutnya. Tak satu pun makanan yang di antar mau di makan oleh Ayana. Ia merasa putus asa dengan jalan hidupnya yang tak adil pikirnya.


"Harusnya Ayuna yang di sini, Ayah. Harusnya dia yang ada di sini. Dan aku yang seharusnya bersama dengan Rangga hidup bahagia. Tapi, kenapa dia yang di luar sana bebas? Kenapa?!"

__ADS_1


__ADS_2