
Lama Ayana tak melihat kehadiran sang pangeran. Menetap di desa dengan usianya yang dewasa tentu sangat membuatnya begitu bosan. Ayana yang memiliki kesibukan di kantor desa tanpa ada kegiatan lainnya mulai jengah dengan aktifitas yang selalu sama setiap harinya. Bahkan pekerjaan pun tidak selalu ia kerjakan dengan benar. Berulang kali melakukan kesalahan hingga pihak desa memprotes kinerjanya.
“Yuna, kenapa kerjaan kamu akhir-akhir ini malah begitu buruk sekali? Semenjak kembali bekerja lagi kamu tidak bisa bekerja dengan benar seperti sebelumnya. Bahkan untuk membuat surat-surat yang begitu mudah pun kamu masih kesulitan membenarkannya.” Panjang lebar pria di depannya berucap. Jangankan menjawab, mendengarnya pun tidak.
“Yasudah pak, kalau nggak bisa harga kerjaan saya, saya bisa kok keluar lagi. Bapak pikir nyaman kerja di desa dengan gaji yang nggak seberapa itu?” Ayana melangkah pergi, kali ini ia kembali pulang.
Hari ini ia tahu jika Rangga sudah kembali dari luar negeri dan besok ia akan memulai untuk mempersiapkan diri menuju persiapan pernikahan Besok adalah hari bersejarah. Dimana Rangga akan datang ke desa bersama keluarga untuk melamar Ayana. Sebab itu hari ini ia memutuskan untuk keluar dari kantor desa karena tidak tahan.
“Hari pernikahan sudah begitu dekat. Aku tidak sabar segera meninggalkan desa ini.” gumamnya sangat senang.
Pulang ke rumah berbaring dan tersenyum-senyum membayangkan momen pernikahan yang akan di gelar di kota. Ayana sangat tak sabar menantikan waktu itu akan tiba. Sedangkan di kota ini, Rangga tengah berhadapan dengan sang mamah.
Dimana keduanya duduk dengan wajah serius.
“Kenapa harus dia, Rangga?” Putri menyambut kedatangan sang anak dengan tatapan sendunya,
Feelingnya tentang gadis itu benar-benar tak nyaman. Ada tatapan mata yang bisa ia rasakan bukan sebuah ketulusan. Kali ini murni karena firasat seorang ibu. Putri tak lagi mengutamakan permasalah dari desa dan keluarga sederhana. Ketakutannya akan masa depan keluarga Wijaya membuat Putri mencoba bicara baik-baik dengan sang anak.
“Mamah hanya melihat dari luar saja. Dia gadis yang memiliki jiwa peduli tinggi, Mah. Satu desa nasib warga membuatnya menjadi gadis pemberani bahkan untuk berteriak padaku. Ayuna adalah wanita yang benar-benar menyentuh hatiku, Mah. Aku mohon restui kami, Mah.” Dengan sopannya Rangga memohon.
Kekuasaan yang berkembang begitu pesat tak membuat pria tampan itu berubah akan sikap mengharga sang mamah. Bagaimana pun juga Putri adalah wanita yang berjasa dalam hidupnya. Berjuang mempertaruhkan nyawa demi melahirkan sang anak yang tampan ini.
“Tuan, maafkan kami. Kami ingin melaporkan sesuatu.” Tiba-tiba pembicaraan Rangga terhenti kala salah satu anak buahnya masuk menghadap,
Rangga pun hanya mengangguk pelan tanda jika ia akan mendengarkan bersama sang ibu. Sebab anak buah yang menghadap padanya saat ini adalah orang yang khusus untuk menjaga Ayana, sang calon istrinya.
__ADS_1
“Maaf, Tuan. Saya membawakan hasil laporan video ini untuk anda sebagai bukti. Dan kami juga menemukan kejanggalan pada saudara kembarnya yang ada di kota. Salah satu dari kami tidak sengaja menemukan kembaran Nona Ayuna bekrja di salah satu cafe di kota ini.” Kening Rangga mengerut dalam kala mendengar dan melihat video yang terputar di tangannya saat ini.
Penasaran, Putri pun ikut mendekat. Di sana dua wanita yang sama tampak bertingak berbanding terbalik.
“Rangga, dia?” Ucapan Putri menggantung seolah bingung yang mana kekasih sang anak. Semua dari tubuh mereka sangat mirip.
“Sialan! Ada yang berani bermain-main denganku.” geram Rangga mengepal tangannya. Bagaimana bisa ia kembali tertipu saat ini.
“Dia kembar, Rangga?” tanya Putri yang heran.
Di video itu Ayana yang sedang keluar kantor desa nampak mengibaskan tangan saat seorang wanita memanggilnya untuk menyelesaikan kerjaan lebih dulu sebelum pulang. Bahkan Ayana juga terlihat di beberapa video mengenakan make up.
“Dia hanya tahu jika aku keluar negeri. Tapi tidak tahu jika ada yang mengawasinya.” ujar Rangga menebak yang terjadi di desa dengan wanita yang hampir saja ia jadikan istri.
“Jangan mengawasinya lagi. Sekarang awasi pergerakan wanita yang di kota ini. Berikan semua apa yang dia butuhkan. Dan jangan mencolok agar dia tidak curiga. Aku akan muncul di waktu yang tepat.” tutur Rangga memilih untuk menghilang sementara waktu. Setidaknya keadaan Ayuna baik-baik saja maka dia akan tenang.
“Mamah benar. Terimakasih yah, Mah. Dia lah gadis yang sesungguhnya bukan yang malam itu bertemu dengan mamah. Namanya Ayuna,” Putri pun nampak tersenyum saat melihat sekilas apa yang Ayuna kerjakan di cafe.
Wanita yang sibuk kuliah, kerja, dan menebar kebaikan tentu menjadi menantu idaman. Wajah yang cantik membuat Putri menyetujui pilihan sang anak kali ini.
***
Fikram nampak terduduk sedih saat tahu jika sang anak mengirimkan uang untuknya. Sebuah telepon dari Ayuna mengatakan jika ia baru saja mengirim uang melalui warga yang tempatnya bekerja sebelumnya.
“Ada apa, Yuna?” tanya Fikram untuk pertama kalinya mengangkat panggilan sang anak.
__ADS_1
Di sini Ayuna tersenyum mendengar sang ayah berbicara dengan nada baik. Tidak seperti biasa selalu berteriak penuh amarah.
“Ayah bagaimana kabarnya? Ayah sudah makan? Ayah sehat kan?” Rasanya begitu senang mendengar perhatian kecil yang putrinya lontarkan saat ini.
Dada Fikram rasanya sesak ketika membayangkan perlakuannya pada Ayuna sejak kepergian sang istri.
Pelan ia mengusap air mata yang jatuh saat mendengar sang anak bertanya. Lama Ayuna tak mendengar jawaban dari sang ayah.
“Ayah?” panggilnya.
“Iya. Ayah baik, sehat. Semua baik-baik saja.” jawab Fikram menahan kesedihan yang ingin pecah saat itu juga.
Jika boleh jujur ia ingin sekali meminta Ayuna kembali dan tinggal bersamanya seperti dahulu. Namun, sikapnya di masa lalu membuat pria paruh baya itu sadar diri. Ayuna pantas berada di kota dan bersekolah dengan tekun.
“Yuna sudah kirim uang ke Bu Citra buat ayah, Yuna barusan gajian. Maaf yah, Ayah. Yuna cuman bisa kirim separuh gaji Yuna dulu. Nanti setelah bayar semester kuliah baru Yuna bisa kirim lebih lagi.” Tak kuasa Fikram membendung kesedihannya.
Pria itu menangis pilu namun membungkam mulutnya tak ingin menunjukkan kesedihan itu pada sang anak. Lama Ayuna menunggu hingga akhirnya Fikram bersuara lagi.
“Gaji berikutnya simpan saja untuk biaya kuliah, gaji Ayana sudah cukup untuk hidup di sini. Ayah harus segera mandi. Baik-baik di sana,” Ayuna sangat senang. Ia memeluk ponsel itu di dadanya mendengar sang ayah yang jauh berbeda.
Di sini Fikram menangis tanpa henti membayangkan sikap Ayuna yang sangat perduli padanya.
Sedang Ayuna yang baru selesai bertelponan dengan sang ayah justru merasa sedih. Baginya mengirimkan uang itu bukanlah sebuah bentuk perhatian pada sang ayah. Perasaan Ayuna tak juga lega jika tidak melihat sang ayah secara langsung.
Namun apalah daya. Ia hanya bisa mengirimkan apa yang ia punya tanpa bisa merawat Fikram.
__ADS_1
“Apa Kak Ayana memasak untuk Ayah? Pasti Ayah sering kelaparan.” batinnya berpikir dalam hati. Ayuna lama berdiam diri di dalam kamarnya memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk sang ayah yang jauh di sana.
Hingga akhirnya Ayuna memutuskan untuk mencari nomor ponsel tetangga dan memintanya untuk memasak lauk. Uang sisa gaji kerjanya Ayuna gunakan untuk membayar lauk itu selama dua minggu ke depan. Setelah semua beres barulah Ayuna tenang dan keluar dari kamar bergabung dengan teman-teman dan juga ibu kos.