
Kepulangan Putri siang itu langsung di sambut dengan lima paper bag berisi tas mewah yang di tata di ruang tamu. Keluaran terbaru yang tidak mudah di dapatkan kini sudah menyambut kepulangannya. Tentu saja wanita paruh baya itu menampilkan lebar barisan gigi putihnya yang rapi. Di sana juga ada seorang pria yang duduk dengan wajah bersinar meski tidak tersenyum. Pandangan mata berbinar melihat kepulangan sang ibu.
"Rangga? Ini semua..." tunjuk Putri sampai kesulitan meneguk salivahnya.
"Iya, ini semua hadiah untuk Mamah karena sudah mengusahakan Ayuna untuk ku." Tanpa canggung lagi, Putri berlari menghambur memeluk sang anak. Pipi dan kening serta hidung milik Rangga menjadi sasaran empuk sang mamah untuk di ciumnya. Semua para anak buah yang ada di ruangan tersebut menunduk menahan tawa melihat bos besar mereka di perlakukan seperti anak kecil oleh sang ibu.
"Mah, sudah mah. Cukup jangan buat aku malu." bisik Rangga pelan namun tak di hiraukan oleh sang mamah. Putri tak henti-hentinya mencium berulang kali sang anak sampai ia pun beralih pada tas mahal yang memanjakan matanya.
Senang tak terkira wanita anak satu itu rasakan saat ini. Satu persatu tas ia keluarkan dengan hati-hati dan di peluknya. "Kalau begini mamah nggak akan kurang semangat deketin Ayuna. Bila perlu sampai kalian halal. Yang penting hadiahnya semakin besar yah, Rangga?"
__ADS_1
Mendengar permintaan sang mamah, Rangga pun mengangguk pasrah. Mungkin sang mamah sebagai sesama wanita yang jauh lebih paham mendekati gadis galak seperti Ayuna.
Sedangkan anak buah Rangga kini terus mengawasi pergerakan Ayuna yang bekerja untuk hari terakhir di kafe. Sebab ia telah memutuskan untuk ikut bekerja dengan Bu Putri. Setidaknya tawaran itu tidak boleh ia sia-siakan. Ada sang ayah yang ingin ia bahagiakan sebelum terlambat. Sudah cukup sang ibu pergi tanpa merasakan bahagia hidup dari kerja keras sang anak.
"Baru pulang, Yun?" tanya Bu Renti. Ibu kos Ayuna yang melihat Ayuna pulang di jam setengah sepuluh malam.
"Iya, Bu. Oh iya ini ada martabak buat ibu dan yang lain. Di makan yah, Bu. Saya mau mandi dan istirahat langsung." Ayuna meninggalkan Bu Renti yang tersenyum padanya.
Berbeda halnya dengan keadaan di desa. Ayana justru sudah mengemasi barang di kamarnya.
__ADS_1
"Ayana, mau kemana kamu?" tanya Fikram saat melihat sang anak di kamar menyimpuni semua baju dan barang lainnya ke dalam tas.
"Aku mau ke kota, Ayah. Aku curiga, jangan-jangan Ayuna melakukan sesuatu sampai membuat Rangga tidak ke desa ini lagi. Atau jangan-jangan Ayuna menjelek-jelekkan namamu dengan Rangga? Ini nggak bisa di biarkan. Rangga bahkan tidak bisa aku cari alamatnya dan nomor ponselnya dari Pak Kodir, Ayah." Ayana menceritakan semua pada sang ayah berharap ia mendapatkan dukungan namun Fikram justru menggelengkan kepalanya.
"Ayana, kamu punya tanggung jawab di sini. Kerjaan tidak bisa kamu tinggalkan begitu saja." sahut Fikram menasehati sang anak.
"Ayah kenapa? Kok ayah belain Si Yuna sih? Ini kan kerjaan Yuna, Ayah. Bukan kerjaan aku. Aku harus ke kota cari Rangga. Aku yakin dia tidak jauh dari kota tempatku kuliah." tutur Ayana begitu tanpa rasa bersalahnya.
Fikram tak habis pikir dengan pikiran sang anak pertamanya. Ayana yang lebih tua seharusnya bisa lebih dewasa dari sang adik. Ini justru terbalik.
__ADS_1
"Tidak ada kata kembali ke kota. Ayah bilang kamu tetap di sini kerja!" Ayana begitu kaget saat tiba-tiba mendengar ucapan sang ayah yang berteriak kencang sekali.