Si Kembar Bunga Desa

Si Kembar Bunga Desa
Taaruf Versi Rangga


__ADS_3

Ketika di kampus, Ayana siang itu mencari-cari keberadaan sang adik. Ayuna tak terlihat sama sekali di kelas itu.


“Kemana si Yuna? Apa dia bolos kuliah?” gumam Yana yang ingin memanfaatkan momen tersebut. Sejak menghadap ke kantor dirinya sudah harus mulai mengejar ketertinggalan dengan menyetor tugas-tugas yang di berikan dari beberapa dosen termasuk membaya biaya semester. Rasanya tidak mungkin bagi Ayana. Mana mungkin dirinya mau mengerjakan semua tugas itu. Niat hati masuk ke kampus hari ini untuk meminta sang adik mengerjakan tugas kuliahnya, nyatanya sang target tidak terlihat sama sekali.


“Mana tugas kamu, Ayana?” Dosen yang baru masuk justru langsung terfokus pada wanita cantik yang ia yakini adalah Ayana.


“Pak, kok saya?” Ayana berpura-pura heran seolah ia bukanlah orang yang di sebut oleh dosen tersebut.


“Jangan menipu kamu yah? Ayuna izin untuk hari ini.” Semua di kelas menertawakan Ayana mendengar ucapan sang dosen.


Sedang Ayana yang kesal tak bisa menjadi sang adik terpaksa marah dan keluar dari kelasnya. Dosen hanya menggelengkan kepala melihat tingkah gadis cantik itu.


“Hei sayang, kenapa cemberut begitu?” Berson datang mencolek dagu sang kekasih ketika bertemu di kantin.


“Enggak,” sahut Ayana ketus.


Ia merasa kesal sekali, Berson yang tidak tahu apa-apa hanya merasa heran.


Hingga pikiran kacau Ayana tiba-tiba terarah pada ketidak hadiran sang adik. Ayana tidak tahu dimana tinggal Ayuna, dimana adiknya sekarang. Satu hal yang harus ia pastikan lebih dulu untuk memastikan Ayuna, yaitu tahu kesehariannya selama tinggal di kota.


“Ayo temani aku jalan-jalan dulu.” Ayana menarik tangan Berson tanpa mau mendengar pertanyaan pria itu yang menanyakan kemana tujuan Ayana.


Mungkin dengan berkeliling ia akan bisa menemukan keberadaan sang adik saat ini.

__ADS_1


Nyatanya tidak, setengah hari itu pula mereka berkeliling mencari Ayuna, hingga terdengar beberapa kali Berson mengeluh ingin pulang karena lelah. Namun, Ayana sama sekali tak mau. Ia beralasan sangat bosan dan ingin mengelilingi kota tersebut.


Tanpa di rencana justru semua tidak sia-sia kelelahan yang Ayana rasakan. Pinggang yang pegal kini terasa hilang ketika melihat seseorang yang justru lebih di carinya selama ini. Wajah Ayana tersenyum lebar sekali.


“Sayang, stop di sana yah?” teriak Ayana dan turun dari motor.


Ayana bergegas meninggalkan Berson dengan alasan buang air kecil nyatanya wanita itu pergi meninggalkan Berson di pom bensin. Satu pesan pun tidak ia kirimkan pada pria itu. Sungguh malang, Berson yang mengecek toilet nampak geram ketika tak menemukan Ayana sama sekali. Dua puluh menit ia menunggu tanpa tahu jika Ayana sudah pergi dari tempat itu.


“Oke, selamat sore. Senang bekerja sama dengan anda, Tuan Rangga.”


“Sore, Pak. Saya juga demikian.” Kedua tangan pria saling berjabatan dan setelah itu salah satunya pergi dari sebuah cafe yang terdapat di pinggir jalan. Manik mata Ayana berbinar melihat pria yang akhirnya bisa ia temui tanpa susah payah.


“Rangga?” sapanya tanpa embel-embel tuan lagi.


Mendengar namanya di sebut dengan lancang, Rangga menoleh seketika. Segera saat itu juha rahangnya mengerat kala melihat siapa wanita yang memanggilnya. Jika wajahnya mungkin bisa saja membuat Rangga tertarik tapi tidak dengan hatinya.


“Kamu kemana saja? Aku menunggumu di desa? Kita bakal ke desa bersama bukan?” Ayana berlagak manja tanpa menyentuh Rangga. Ia pikir jika pria di depannya hanya menandai dirinya dengan sentuhan yang lancang.


“Pulanglah, aku akan menemui mu malam ini. Aku sangat sibuk hari ini.” ujar Rangga dengan dingin. Ia tidak mau terlalu cepat membongkar semuanya. Mungkin bermain-main memberikan harapan sedikit lebih menyakitkan untuk Ayana.


Ayana menggeleng. “Aku mau bersama mu.” ujar Ayana kekeuh. Begitu sulit menemukan pria ini, bagaimana mungkin ia mudah melepaskan begitu saja. Tentu tidak akan ia lakukan.


“Pengawal!” Teriak Rangga yang langsung menghadirkan dua orang pria di sekitarnya.

__ADS_1


Malas rasanya membuang-buang waktu untuk bicara dengan Ayana. Segera Rangga meminta mereka membawa wanita itu pulang paksa.


“Rangga! Aku tidak mau pulang! Rangga!” Sepanjang di tarik keluar cafe, Ayana terus berteriak. Heran mengapa Rangga kembali dingin padanya? Apa ketakutannya jika Ayuna bertemu kembali dengan pria itu benar. Pikiran Ayana pun semakin kacau, bahkan ia sampai memukuli para pria yang membawanya menjauh dari cafe itu.


“Enak saja menipuku seorang Rangga.” Pria tampan itu melangkah menuju mobil dan segera bertolak ke rumahnya.


Hari sudah nampak begitu sore, dimana akhirnya Ayuna pun telah kembali ke kota dengan sang ayah yang sudah ia bawa ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan.


Ia ingin mendapatkan hasil yang pasti untuk kesehatan sang ayah.


“Yuna,” panggilan dari Fikram yang terdengar bergetar membuat Ayuna menoleh.


“Iya, Ayah?” sahut Ayuna.


“Ayah tidak apa-apa jika tinggal di desa. Biaya hidup di sini mahal.” ujarnya ketika sudah berbaring di rumah sakit ruang perawatan.


Selain bermasalah dengan tulang, pria itu mengalami darah rendah yang membuatnya sampai sulit bangun. Terlalu lelah bekerja dan tidak teratur tidur membuat pria itu sampai jatuh sakit.


“Sudah Ayah tenang saja. Yuna dapat kerjaan yang bagus sambil kuliah, jadi cukup buat kita.” ujarnya membujuk sang ayah. Mendengar hal itu Fikram pun tersenyum senang.


Ia tak lagi mau memikirkan sang anak yang satu. Meski rasa cemas sebagai seorang ayah tetaplah ia rasakan. Saat ini bisa di bawa ke rumah sakit rasanya Fikram sudah sangat bersyukur.


“Ayuna?” Panggilan lembut dari seorang wanita paruh baya membuat Ayuna dan Fikram sama-sama menoleh.

__ADS_1


Yah, Bu Putri yang datang menjenguk keduanya. Jika saja Ayuna tahu sebelum kedatangan Bu Putri ke rumah sakit, wanita itu harus berdebat dulu dengan sang anak yang sangat ingin bertemu dengan Ayuna.


“Sabar, ini mungkin namanya taaruf yah?” gumam Rangga mengusap dada melihat bagaimana sang ibu yang justru begitu menguasai Ayuna, sang pujaannya.


__ADS_2